Oleh: Indonesian Children | Februari 3, 2010

SBY dan Demonstrasi : Etika Berdemo yang Dipermasalahkan bukan Substansinya.

PESAN MORAL KEPALA NEGARA, BUKAN PESAN POLITIK

SBY dan Demonstrasi : Etika Berdemo yang Dipermasalahkan bukan Substansinya.

Ketika SBY sebagai seorang Kepala Negara  berusaha mengingatkan rakyatnya untuk berdemo dengan beretika, maka spontan segala pendapat, sanggahan bahkan cercaan dari sebagian rakyat menyertainya. Pesan moral ini langsung disambut dengan kontraproduktif oleh berbagai pihak khususnya demi kepentingan politik. SBY dianggap sebagai takut kritik, SBY dianggap senang berkeluh kesah dan SBY dianggap lebih mementingkan cara berdemo tapi tidak mementingkan keluhan rakyatnya. Benarkah demikian dan apakah yang telah terjadi pada SBY dan apakah yang terjadi di masyarakatnya ?
Dengan runtuhnya cengkeraman kekuasaan otoriter maka Indonesia memasuki babak baru sebagai negara demokrasi. Bahkan saat ini Indonesia disebut-sebut sebagai negara demokrasi percontohan di Kawasan Asia. Perubahan secara radikal ini patut disyukuri oleh semua orang yang menganut keadilan dan kebebasan berpendapat.  Tapi dibalik itu perubahan ini menjadi bumerang bagi bangsa ini bila salah dalam menginterpretasikan penerapannya.

 

Saat ini tampaknya kekuatan rakyat sangat dominan. Bahkan etika, moral dan aturan hukum diinjak-injak demi demokrasi keblabasan yang telah diyakini banyak pihak. Kekuatan rakyat yang tanpa etika dan aturan itu sangat mungkin menjadi kontraproduktif yang akan menghancurkan bangsa ini. Fanomena itu mulai tampak bahwa saat ini demonstrasi rakyat berubah jadi brutal contoh paling tragis penyerangan beberapa polsek dan membunuh tahanan dalam kantor polisi. Demo terhadap PLN pun marak dimana-mana, bahkan sebagian pendemo menyandera pimpinan PLN. Contoh terakhir adalah demo 100 hari SBY, banyak kasus menyedihkan dimana mobil plat merah digedor-gedor dan diinjak-injak, membakar ban dan menutup jalan, melempar polisi, memaksa masuk bertemu pejabat, membakar foto presiden, meneriakkan kata kasar terhadap simbol negara. Memang tidak ada yang boleh membantah bahwa kebebasan berpendapat adalah dilindungi undang-undang tapi apakah berpendapat harus keblabasan, tidak beretika dan melanggar aturan hukum seperti itu. Tidak setuju dengan kebijakan pemerintah dan mempermasalahkan kesalahan SBY adalah sah-sah saja di negara demokrasi ini. Seharusnya hal itu dikembangkan dengan cara yang lebih arif dan bijak berupa komunikasi dan diskusi. Bila sarana itu tidak terwakili maka bukanlah tabu untuk melakukan demonstrasi, karena dijamin undang-undang. Tetapi konsteks yang sekarang dibahas bukan masalah kebijakan dan ketidaksetujuan terhadap SBY, tetapi perilaku para demonstrans yang dianggap banyak pihak sudah keterlaluan.

Peringatan Moral SBY

SBY sebagai kepala negara mengingatkan bahwa nilai moral, etika dan aturan hukum sebaiknya diperhatikan dalam berdemo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan para menteri kabinet dan gubernur dari semua provinsi di Indonesia untuk membahas cara unjuk rasa pada 28 Januari 2010. ”Tolong dibahas dan diberi masukan, apakah unjuk rasa beberapa hari lalu di negara Pancasila, yang konon memiliki budaya, nilai, dan peradaban yang baik, harus seperti itu?” ujarnya saat memberikan pengantar pada pembukaan rapat kerja semua menteri dan para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pembahasan soal itu dilakukan agar demokrasi, budaya, dan peradaban di Indonesia bisa diselamatkan sebab dunia menyaksikan unjuk rasa itu dengan teknologi canggih yang dimiliki mereka. ”Pembahasan itu bukan untuk memasung demokrasi karena demokrasi itu bagian dari reformasi kita, cita-cita kita. Akan tetapi, buatlah demokrasi yang bermartabat, demokrasi yang tertib, dan demokrasi yang mendorong kebersamaan dan kesatuan kita,” tuturnya. Presiden mengatakan memahami unjuk rasa itu. ”Akan tetapi, banyak orang yang memberikan masukan yang menggelitik, ’Pak SBY apa, ya, cocok dengan loudspeaker yang keras lalu berteriak-teriak SBY maling, Boediono maling, dan menteri maling’. Dan, mereka tidak bisa diapa- apakan,” katanya. ”Ada yang bawa kerbau, ’SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau’. Apa itu ekspresi kebebasan dan demokrasi. Juga foto yang diinjak-injak dan dibakar di mana-mana dan di daerah lain,” ungkapnya lagi. Ia berharap pembahasan rapat dilakukan terhadap kondisi keamanan dan keamanan publik agar pembangunan dapat berjalan dengan baik.

Kerbau dan Demonstrasi
Aksi demonstrasi unik yang dilakukan oleh Yosep Rizal dengan membawa kerbau menjadi buah bibir. Pasalnya Presiden SBY sampai membahas hal tersebut dalam rapat kerja di istana Cipanas, Jawa Barat. Meski demikian pendemo itu mengaku jika aksi yang ia lakukan tidak dimaksudkan untuk mengumpamakan seseorang dengan kerbau yang ia beri nama “Si Lebay” atau ditulis “SiBuYa”. Pendemo mengatakan bahwa kerbau itu maknanya banyak terserah orang mau menyimpulkan apa, yang jelas itu SBY sendiri yang meyimpulkan kalau dia gendut dan lambat. Menurutnya, tidak seharusnya SBY menanggapi serius aksi yang ia lakukan pada perayaan 100 hari pemerintahan kabinet SBY tersebut.Kalau dia tidak merasa gendut dan lamban jangan tersinggung.

Beberapa komentar dan sikap sangat beragam mulai yang arif, emosinal, cerdas, bahkan ada juga yang beropini tanpa naral dan moral. Berbagai sikap tersebut wajar saja terjadi karena banyaknya variasi latar belakang pendidikan, budaya, moral dan kepentingan sesorang yang melatar belakangi dalam beropini.

Beberapa kelompok pendukung SBY tampak mengecilkan demo-demo yang digelar mengkritisi pemerintahan SBY-Boediono. Mereka menganggap demo-demo itu hanya dilakukan segelintir orang saja.  Apa yang diserukan pendemo bukan merupakan suara masyarakat dan sama sekali tidak mencerminkan keinginan rakyat. Sebaiknya demo juga harus disampaikan secara elegan. Demikian juga juru bicara presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan  Presiden adalah simbol negara karena itu aksi unjuk rasa itu berdampak kepada citra Presiden di dunia internasional. Karena mereka (dunia internasional) melihat dalam negeri kita tidak bisa memberi penghargaan kepada kepala negara sebagai simbol negara.

Tapi sebagian pengamat politik, meminta Presiden jangan hanya menilai fisik kerbau yang diajak demo mengkritik dirinya. SBY diharapkan mengerti pesan yang disampaikan para pengunjuk rasa. Demo pakai kerbau itu kan hanya cara, yang lebih penting dari itu adalah subtansinya.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, mengatakan, keluhan SBY atas ulah peserta unjuk rasa pada 28 Januari lalu justru bisa memicu tidak stabilnya politik nasional. Azyumardi berharap SBY sebaiknya tidak mengumbar keluhan atas tindakan yang menyudutkannya kepada publik. Pemimpin, dalam level apa pun, tidak boleh sering mengeluh. Itu tantangan menjadi pemimpin. Kalau pemimpinnya mengeluh, bagaimana rakyatnya. Demonstrasi dengan membawa kerbau yang ditulisi SBY itu memang tidak pantas. Tetapi kalau hal itu dijadikan tema pokok dari pernyataan Presiden, hal itu juga tidak pas dalam posisinya sebagai pemimpin negara. Pengamat tersebut mengakui, sebagai manusia wajar jika Presiden mengeluh. Namun, keluhan itu seharusnya cukup disampaikan kepada orang-orang terdekatnya secara tertutup, tidak diumbar kepada publik. Keluarga dan orang-orang terdekat Presiden harus berani mengingatkan sikap Yudhoyono yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri itu. Keluhan SBY selama ini dijadikan alat untuk menarik simpati publik atas dirinya sebagai orang yang dizalimi.
Sedangkan lawan politik SBY mengatakan tidak perlu repot-repot merespon demontrasi yang membawa kerbau. Cukup dikomentari juru bicara kepresidenan saja. Presiden hendaknya jangan tanggapi secara langsung. Akhirnya daya gigit pernyataan Presiden jadi kebal. Gitu saja kok repot-repot disampaikan, cukup jubir-lah atau menterinya.

Sedangkan pengamat lain mengatakan sebaiknya tidak terlalu banyak atau sering berkeluh kesah. Sebagai seorang pemimpin SBY harus mampu menunjukkan dirinya sosok, yang tidak saja sekadar pekerja keras, melainkan juga tahan banting. Tidak selamanya kerbau identik dengan hal-hal buruk. Seperti di Kyoto, Jepang, ada kuil kerbau karena di sana hewan itu simbol ilmu pengetahuan. Sementara di sini, kerbau adalah hewan bertenaga besar yang sangat berguna untuk membajak sawah. Bahkan pengamat lain mengatakan bahwa sebaiknya SBY menganggap apa yang dilakukan para demonstran dan mahasiswa dalam aksi-aksi unjuk rasa tersebut sekadar guyonan politik.

Kontroversi dan Perdebatan

Seperti biasanya setiap presiden mengemukakan statement, pendapat dan pesan kepada rakyatnya sepertinya selalu saja ada yang salah. Banyak komentar aneh, menarik dan membingungkan bermunculan. Setiap komentar yang dikeluarkan sangat tergantung dari latar belakang dan kepentingan individu atau kelompok yang diperjuangkan. Sehingga selalu saja kontroversi itu selalu tidak “klop” karena substansi dan arah yang dipermasalahkan seringkali jauh dari substansinya. 

Seperti dalam topik ini, SBY memberi pesan moral tentang etika berdemo dan aturan berdemo. Tetapi pengkritiknya selalu mengatakan  tidak perlu mempermasalahkan etika yang penting SBY siap dikritik dengan cara apapun. Segala cara berdemo adalah sah dan tidak melanggar demokrasi, penguasa harus tahan mental bila dikritik. Seharusnya pemerintah mendengarkan keluhan rakyatnya, bukan melihat cara demonya. Sebaliknya pendukung SBYpun mati-matian membela bahwa SBY tidak anti kritik, tetapi yang seharusnya diperhatikan adalah cara dan aturan berdemo.

SBY tidak perlu “terlalu lebay” berkeluh kesah kepada rakyat,  juga sering diberitakan oleh opini  berbagai media. Tetapi disaat presiden Megawati  sebelumnya tidak pernah bicara, juga dicap sebagai “presiden bisu”. Saat presiden tidak mengeluarkan pendapat maka prsiden dikira lamban, namun saat pendapat dikeluarkan presiden terlalu lebay. Disamping itu juga banyak timbul berita bahwa SBY marah dianggap sebagai kerbau. Inilah demokrasi di indonesia, rakyat kadang mudah terombang ambing oleh opini dan berita yang ada di media. Berita dan opini tergantung selera dan kepentingan orang yang memberitakan. Demikian pula pendapat seseorang tergantung kepentingan indvidu dan kelompoknya. Seharusnya rakyat mendapat pembelajaran dari media untuk bedemokrasi dan berpolitik yang baik dan cerdas.

Kontroversi itu pasti akan muncul ketika substansi non politik kepala negara dilawankan arus politik masa. Sebagai seorang kepala negara setiap pendapat yang muncul di muka publik seharusnya bukan statement politik. Karena Presiden bukan milik kelompok politik tertentu. Tampaknya hal ini sudah dilakukan SBY dengan berbagai pendapat umumnya di muka publik. Sayangnya setiap statement nonpolitik tersebut dikonfrontasikan dengan pola pikir politik praktis kelompok tertentu. Sehingga akibat yang timbul adalah perdebatan panjang yang sudah tidak logis dan tidak menyentuh pada substansinya lagi.

Masalah lain yang membuat kontroversi itu timbul adalah tentang moral dan etika berdemo. Masalah ini sangat rawan menimbulkan silang pendapat, karena definisinya dan maknanya sangat luas. Persepsi moral dan etika juga tergantung pendidikan, budaya dan kesantunan seseorang. Demonstrasi bila dicermati terdiri dari bermacam-macam kelompok. Mulai dari yang sopan, yaitu demonstrasi yang santun atau demonstrasi alegro sampai demonstrasi yang brutal atau anarkis. Diantara dua bentuk itu terdapat berbagai tipe dan karakteristik demonstrasi tergantung kreatifitas, motivasi dan inovasi pendemo.
Bila pendemo golongan alegro akan melihat bahwa kerbau “SiBuYa” adalah demo yang kasar dan tidak manusiawi. Tetapi bagi kelompok pendemo anarkis, maka demonstrasi “SiBuYa” adalah demonstrasi yang sangat sopan dan beradab. Sehingga sangat sulit untuk menentukan etika berdemo walapun diatur oleh undang-undang sekalipun.

 

Pembelajaran Nilai Moral Demokrasi
Ketika SBY berkomentar tentang kerbau dan demonstrasi, seharusnya makna yang harus digaris bawahi adalah nilai moral dalam berdemokrasi dan berpolitik harus mengikuti tatakrama budaya dan aturan hukum yang ada. SBY adalah presiden yang memberi arahan dan peringatan kepada rakyatnya.  Layaknya seorang bapak yang memberi  nasehat kepada anaknya. Bila nasehat dan permasalahan bangsa diingatkan kepada rakyat sebaiknya media dan beberapa lawan politiknya memaknainya dengan positif dan bijak. Jangan sampai nasehat dari bapak kepada anak langsung si anak bersikap kolokan, khan bapak juga banyak salahnya. Kalau hal ini terjadi maka anak tidak akan mengerti kesalahannya, dan selalu menyalahkan orang tuanya. Demikian juga para pengamat, media dan lawan politik SBY, kalau mau mempermasalahkan kebijakan dan mempertentangkan permasalahan kepemimpinan SBY seharusnya  dalam konsteks lain. Sehingga substansi yang ada, khususnya etika dan aturan hukum tidak tertutupi oleh permasalahan politik yang diciptakan banyak pihak.

Bila ini terus terjadi siapa lagi di bumi Indonesia yang dapat mengajari nilai moral dan aturan hukum di depan rakyatnya. Pemimpin negarapun sudah dilecehkan nasehat dan ajaran moral yang seharusnya dijalankan rakyatnya. Hal ini terjadi mungkin saja, setiap statement dan perilaku positif dari  presiden selalu saja dimaknai dengan pikiran politik dan sekedar menjatuhkan. Apalagi saat ini SBY terpuruk dan terkriminilisasikan oleh kasus besar bangsa yaitu bank Century. Seharusnya selain pemimpin negara  para tokoh agama juga berkewajiban untuk mengemukan nilai moral tersebut kepada bangsanya. Tetapi sayangnya para ulama yang lebih memurnikan nilai moral dan agama jarang diliput dan menjadi incaran media. Media hanya tertarik kepada ulama yang condong kepada kegiatan politik. Kalau hal ini terjadi terus menerus kepada siapa lagi bangsa ini belajar nilai positif berbangsa dan bernegara ? Tampaknya Indonesia sangat mendesak butuh pemimpin moral yang dapat meluruskan moral dan etika bangsa ini yang sudah mulai salah arah. Bila presiden yang seharusnya dapat menjadi pemimpin moral diabaikan, dan pemimpin umat lain tidak mengambil alih mungkin saja akan tiba gilirannya guru dan orangtua sebagai pemimpin moral terakhir di lingkungan yang lebih kecil akan juga dengan mudah dikangkangi. Bila ini terjadi maka akan rusaklah aturan hukum dan etika budaya yang dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu.

Bila aturan dan etika berdemo semakin jauh diabaikan maka bangsa ini akan menunggu kehancurannya dalam eforia berdemonstrasi. Tanda-tanda itu sudah mulai tampak di berbagai daerah. Demonstrasi menuntut polisi, berujung masyarakat dengan brutal dan ganas melempari kantor polisi bahkan membunuhi para tahanan di pos polisi. Sedangkan demo yang tak kalah marak di seluruh negeri adalah demo anti PLN. Beberapa pendemo sudah berani menyandera pejabat PLN karena listriknya sering mati. Atau yang masih tidak luput dari ingatan kita, ketika para demonstran dengan ganas dan biadab menarik dan memukuli ketua DPRD Sumut, yang akhirnya meninggal karena sakit jantung. Saat ini siapa lagi pemimpin yang mengajari moral demokrasi bagi rakyatnya. Mengajari bahwa yang benar adalah harus dilakukan tanpa dibungkus kepentingan lain termasuk kepentingan politik.

Apakah seperti ini pola demonstrasi yang sehat dan santun ?

Apakah yang seperti ini pola demonstrasi yang tidak santun dan memaksakan kehendak ?

aziz3.jpg image by suwardi_album

Demonstrasi yang ganas dan iadab, sehingga mengakibatkan meninggalnya ketua DPRD SUMUT.

dr Widodo Judarwanto SpA

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
http://korandemokrasiindonesia.wordpress.com

About these ads

Responses

  1. sayapun tidak setuju, dengan demonstrasi yang anarkis dan melupan etika. dan saya rasa demonstrasi d indosesia seakan kehilangan identitasnya,, sudah sulit membedakan antara demonstrasi demi berbakti pada negri dengan demonstrasi karena profokasi yang diiming iming uang (penghianat)

  2. Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Pompa Turbin pertama di Kabupaten Sikka”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan mohon diberi komentar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: