Oleh: Indonesian Children | November 29, 2009

Benarkah Pelanggaran Demokrasi ?

Kompak: Itu Melanggar UUD 1945

Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) mengecam tindakan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang melarang Kompak mendirikan panggung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI).

“Itu melanggar Undang-undang Dasar 1945. melanggar kebebasan untuk menyatakan kebebasan berpendapat,” kata Fadjroel Rachman, Koordinator Kompak, di sela-sela demo Kompak di Bundaran HI, Minggu (29/11).

Hal senada diungkap anggota Kompak yang juga anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP) DPR RI Maruarar Sirait. Ia menilai tindakan Foke, panggilan akrap Gubernur sebagai sebuah pemasungan demokrasi. “Yang saya tahu, kalau demokrasi semakin dipasung maka gelombang perlawanan itu akan semakin membesar,” ujar Maruarar.

Seperti telah diberitakan, Foke melarang aksi yang tidak mewakili kelompok luas di Bundaran HI. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan Peresmian Stasiun Pemantau Kualitas Udara pada hari ini di Bundaran HI, sebelum Kompak menggelar aksi. Rencananya Kompak akan menggelar aksi di atas panggung kecil.

Lebih lanjut anggota Kompak Yudi Latief mengaku kecewa dengan keputusan Foke. Karena pemasangan panggung salama ini tidak masalah apalagi dalam suasana hari bebas kendaraan bermotor. “Beliau menggunakan garda ganda. Seharusnya tidak boleh, satu dilarang yang lain juga,” ucap Yudi.

Aksi Kompak ini saja mendapat “gangguan”  dari Foke. Tapi juga ada sekelompok massa tidak dikenal yang mencoba membubarkan Kompak. Polisi dan Satpol PP telah menjaga bakal panggung sejak semalam untuk berjaga-jaga bila Kompak nekad mendirikan panggung.

“Tidak ada jalan lain kami melawan siapa saja yang menentang UUD 1945. Siapapun yang cinta Indonesia cinta damai. Kita lakukan aksi ini dengan damai dan terhormat,” ucap Fadjoel. Aksi Kompak pun ditutup dengan doa oleh Romo Ignatius Sandyawan Sumardi.

 

Coba Bubarkan Aksi Kompak, Siapakah Mereka?

 

Aksi Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) di Bundaran Hotel Indonesia mendapat tentangan dari sekelompok massa yang tidak memiliki nama. Kedua kelompok tersebut sempat bersetegang, tetapi untung pihak kepolisian berhasil meredamnya sehingga tidak terjadi kericuhan.

Massa tersebut menuntut aksi Kompak dibubarkan mengingat Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo melarang Kompak mendirikan panggung untuk aksi mereka. Selain itu, mereka juga memberi dukungan pihak kepolisian dan membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi. “Hidup polisi. Antasari penjahat. Hancurkan KPK,” kata salah satu dari mereka.

Suara mereka semakin keras ketika Kompak nekat menjalankan aksinya. Kompak yang terdiri atas beberapa tokoh politik, akedemisi, dan artis itu terus melantangkan dukungan untuk menuntaskan kasus Bank Century. Walau cacian terus menerpa, lagu “Indonesia Raya”, ‘Indonesia Pusaka”, “dan KPK di Dadaku” terus berkumandang dibawa aktivis Kompak, Edo Kondologit.

Kelompok massa yang menentang Kompak mengklaim berasal dari lapisan masyarakat yang heterogen. “Kami dari lapisan masyarakat yang membutuhkan polisi. Kami dari Sabang dan Marauke,” kata salah satu anggota massa yang mengaku bernama Ari.

Hal menarik lain, ternyata di antara mereka tidak saling kenal. Ketika Kompas.com meminta Ari menyebutkan nama dua orang anggota massa yang paling vokal ternyata ia tidak mengetahuinya.

Aksi massa yang berjumlah sekitar 70 orang itu semakin mengundang tanda tanya ketika salah satu dari mereka sempat terlibat adu mulut dengan salah satu wartawan online. Ia menuduh wartawan, yang kebetulan tidak memakai kartu identitas pers, sebagai anggota Kompak. Walau si wartawan menjelaskan sedang meliput dan dibantu oleh beberapa wartawan lain, orang tersebut tetap mengajak adu mulut. Untunglah, aksi tersebut diredam oleh koordinator massa. “Sudah. Itu pekerjaan mereka, mereka sedang bekerja sebagaimana kita,” ucapnya.

Seusai aksi, mereka tidak langsung pulang. Mereka duduk-duduk di trotoar Hotel Nikko dan di seputar air mancur. Kelompok ini duduk-duduk dan merokok. Mereka sudah berada sejak sekitar pukul 06.00.

 

sumber : kompas

KORAN DEMOKRASI INDONESIA

Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com 

https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2009, Koran Demokrasi Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: