Oleh: Indonesian Children | Desember 22, 2009

Standar ganda Dilakukan Masyarakat dan Pers : Luna Maya Dicaci maki, Prita Dipuja puja

Standar Ganda Terhadap  Luna Maya Dan Prita 

Si Cantik, Luna Maya yang sedang meroket karir profesionalnya tampaknya akan tersandung masalah yang rumit. Hanya gara-gara menulis keluhannya di Twitter, PWI  melayangkan pengaduan ke polisi. Tampaknya kasus Luna tidak jauh berbeda dengan kasus Prita Muliasari, berkeluh kesah di dunia maya. Luna mengeluhkan emosi lewat twitter. Hal ini mungkin merupakan puncaknya, karena sudah sekian lamanya masalah privasinya dikoyak-koyak di depan umum oleh infotainment. Sedangkan Prita mengeluhkan lewat email karena merasa tidak puas dengan pelayanan di RS Omni Internasional. Standar ganda dilakukan masyarakat dan pers, Luna Maya dicaci maki sedangkan Prita dipuja-puja bak pahlawan.

Sebuah media masa menulis di halaman utamanya sebagai berikut : “Berawal tak suka terusik pekerja infotainment, Luna Maya melampiaskan rasa kesal dengan mencaci maki di twitter. Infotainmentpun marah dan siap memenjarakan Luna. Luna Terancam denda 1 miliar dan kurungan 6 tahun penjara karena dijerat pasal 27 ayat 3 UU ITE pasal 310, 311 dan 315 KUHP. Pasal-pasal itu menyangkut pencemaran nama baik, fitnah dan perbuatan tidak menyenangkan”.

Ternyata, saat Luna Maya mengalami masalah dengan insan media, tercetus kalimat yang menyesakkan telinga. “Infotaiment derajatnya lebih hina daripada pelacur, pembunuh! May ur soul burn in hell”. Ungkapan Luna di situs pribadinya itu serta merta membuat PWI melaporkan ke polisi sebagai tindakan fitnah, pencemaran nama baik dan tindakan yang tidak menyenangkan.

Luna Maya sebagai seorang artis besar di negeri ini pasti akan menjadi sorotan publik dalam setiap geraknya. Memang sudah lama artis cantik ini mengeluhkan privasinya seakan tergadaikan oleh santapan media masa dan publik. Bayangkan, hanya karena membeli perlengkapan rumah tangga di suatu toko bersama Ariel kekasih barunya, sudah menjadi santapan publik. Bahkan mungkin saja bila si Cantik Luna bila saat  tidur mendengkur terdengar wartawan pasti akan diekspos ke seluruh pelosok negeri oleh media masa. Media masa yang merasa ikut membesarkan karir Luna Maya, seakan tidak bersalah mengekspos setiap permasalahan pribadi untuk diungkapkan pada masyarakat luas. Tampaknya media masa adalah Raja segala raja yang menguasai jagad media tanpa ada batas etika dan etiket. Sayangnya, bila si artis sulit menghindari beban psikologis dengan  mengungkapkan perasaan teraniayanya akibat perlakuan infotainment. Media masa dengan egonya yang tinggi akan menulis, bahwa itulah resiko artis. Harus tahan mental, kalau tidak kuat mental jangan jadi artis.

Sebenarnya bila dicermati kasus Luna tidak berbeda jauh dengan Prita. Karena merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari rumah sakit, lewat email mengadukan keluhannya ke sepuluh temannya. Dalam emailnya Prita menyebutkan bahwa Rumah Sakit dan dokter yang merawatnya adalah penipu dan berbagai anggapan lainnya yang negatif. Saat hal ini terjadi pada Prita, serta merta media masa bak pahlawan pembela rakyat, membela Prita yang dianggap teraniaya. Dengan gencarnya media masa mengungkapkan hanya karena email Prita ditahan dan diadili. Masih adakah keadilan di negeri ini, demikian semua berita yang tersirat di hampir seluruh media masa. Bahkan media masa hampir tidak pernah menyebut bahwa fokus utama kasus Prita bukan sekedar email tapi masalah pencemaran nama baik terhadap dokter dan rumah sakit. Akhirnya karena kepiawaian media dengan cepat membentuk opini di otak sebagian besar masyarakat di Indonesia. Bahwa, di Indonesia sudah tidak ada keadilan lagi buktinya hanya karena menulis  email sesorang mendapatkan pidana. 

Standar Ganda

Memang bila dilihat sepintas kasusnya berbeda, tetapi sebenarnya pesan moral dan subtansi hukum yang dapat ditangkap adalah sama. Berbeda karena yang satu Ibu rumah tangga yang identik dengan masyarakat yang tak berdaya, sedangkan lainnya adalah artis yang penuh glamour dan berlimpah harta. Persamaannya, keduanya mengeluhkan hal yang sama dalam media elektronik di alam maya untuk mengungkapkan kekesalannya atas perlakuan tidak menyenangkan dari suatu pihak.  Dan sama-sama dianggap sebagai pencemaran nama baik, fitnah dan perbuatan tidak menyenangkan.

Secara tidak disadari standar ganda telah dilakukan oleh masyarakat dan pers dalam menyikapi kasus Luna dan Prita. Kasus pencemaran nama baik melalui email dari Prita dibela mati-matian oleh masyarakat, pers dan media masa dengan mengabaikan hukum formal tetapi mengagungkan  ketidak adilan hukum. Hal tampak juga dari dukungan seluruh lapisan masyarakat dan para facebookers, bahkan mungkin tidak ada masyarakat, pers atau seorang facebookers yang menentang arus mengkritisi Prita. Sedangkan dalam kasus Luna Maya dianggap bahwa Luna melanggar pencemaran nama baik dengan melanggar Undang undang ITE. Masyarakat dan para facebookers juga ikut memaki si cantik Luna Maya. Padahal kedua kasusnya sama, yaitu pengungkapan di media internet. Bahkan seperti yang telah banyak diberitakan, Prita sendiri ikut mendukung Luna dan mengatakan bahwa nasibnya sama dengan Luna. Bila konsekuen masyarakat seharusnya juga memberikan Luna sebuah Pedang keadilan Award seperti halnya yang diterima Prita.

Etika dan etiket

Seharusnya Prita, Luna Maya, insan pers dan  semua masyarakat terutama yang mengaku sebagai pejuang rakyat dalam menegakkan keadilan dan kepentingan publik harus mawas diri. Dalam suasana kemajuan demokrasi yang sangat luar biasa di Indonesia, seharusnya harus beretika dan beretiket dalam mengungkapkan perasaan dan berita yang telah menjadi konsumsi publik. Dalam negara demokrasi yang dianggap berhasil di kawasan Asia, kebebasan berpendapat adalah milik semua rakyat. Tidak ada yang boleh melarang berkebasan berpendapat. Tetapi kebebasan berpendapat jangan menenggelamkan dan mengorbankan hak orang lain.  Pencemaran nama baik dan pengebirian hak orang lain adalah tindakan bentuk ketidakadilan dan pelanggaran hukum yang harus diadili sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Pencemaran nama baik adalah pengabaian hak orang lain yang justru akan mencoreng kemurnian keagungan demokrasi itu sendiri.  

Sebaliknya insan pers juga harus legowo bila mendapat kritik atau cercaan. Keadaan ini nantinya akan diterima pihak media masa sebagai akibat kebebasan pers berlebihan yang diciptakannya sendiri. Jangan hanya pihak yang lain untuk disuruh tahan banting tentang peraaan yang terkoyak, tetapi begitu diri sendiri terkoyak perasaannya jadi “mencak-mencak” dan melaporkan ke polisi. Namun, hal ini harus dimaklumi karena media masa adalah raja dari segala raja di area opini publik. Seakan-akan semua yang dilakukan media masa adalah sesuatu yang paling benar. Sepertinya tidak ada kekuatan dan aturan yang membatasi kekuasaan raja opini itu.

Alangkah damainya Indonesia bila semua pihak dalam beropini harus selalu beretika dan beretiket. Dalam berekspresi harus senantiasa menjunjung tinggi budaya sopan santun dan patuh pada aturan yang ada di negara hukum ini. Jangan hanya karena rakyat kecil bila bersalah selalu dianggap benar demi keadilan hukum. Atau sebaliknya hanya karena punya kekuasaan dan harta berlimpah maka hukum selalu diterjang. Indonesia akan senantiasa tanpa gejolak bila hukum berkeadilan akan seimbang dengan penerapan hukum formal. 

Kalau hukum tidak ditegakkan, kasus seperti Prita dan Luna akan terus ada sepanjang masa. Sehingga setiap orang dengan mudah dapat memaki dan mencemarkan nama baik pihak lain meskipun hanya lewat email atau situs pribadi. Bila ini terjadi artis, penguasa media masa dan semua masyarakat harus siap mental bila ada pihak yang menciderai perasaannya. Sehingga bila tidak ingin diciderai perasaannya jangan terlalu mudah menciderai hak dengan mengabaikan privasi kehidupan orang lain. Kasus artis idola ini tampaknya adalah pencerahan bagi semua pihak, di tengah gelombang dukungan membabi buta terhadap pencemaran nama baik yang dilakukan Prita. Semua itu tidak akan terjadi bila semua pihak beretika dan beretiket dalam mengemukakan pendapat. Menghormati hak orang lain, serta menjunjung tinggi etika dan aturan hukum yang ada di dalam masyarakat adalah esensi utama dalam penegakan demokrasi. Masyarakat Indonesia dan pers sesuai fakta yang sudah terjadi ternyata punya dua pilihan, mencaci maki Luna atau memuja-muja Prita ? Mungkin pilihan yang tepat adalah menjunjung tinggi hukum formal dan hukum berkeadilan secara seimbang.

Dr Widodo Judarwanto SpA

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: