Oleh: Indonesian Children | Januari 8, 2010

Pansus DPR Century Mulai Memanas, Debat Kasar Ruhut dan Gayus

Pansus DPR Century Mulai Memanas, Debat Kasar Ruhut dan Gayus

Dua anggota Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk Angket Bank Century, Gayus Lumbun (Fraksi PDIP) dan Ruhut Sitompul (Fraksi Demokrat) seperti seteru abadi. Keduanya kerap kali berselisih pendapat, adu mulut dan menjurus ke pembicaraan kasar. Pada Rabu (6/1) perseteruan itu terulang di Gedung DPR RI Jakarta.

Saat itu, saking kesalnya, Ruhut menyebut Gayus yang memimpin sidang sebagai pemimpin kodok. Perseteruan keduanya terjadi saat Pansus memeriksa tiga pejabat Bank Indonesia (BI), yakni Rusli Simandjuntak, Maman Soemantri, dan Maulana Ibrahim, soal merger Bank Century. Kebetulan, beberapa anggota Pansus dari Fraksi PDIP mendapat jatah bertanya kepada ketiga saksi terperiksa.
Giliran Ganjar Pranowo bertanya cukup memakan banyak waktu, sekitar 5 menit. Lamanya pertanyaan memancing protes Ruhut.

“Pimpinan sidang, ini masih ada dua fraksi lagi yang bertanya. Ini makan waktu lama banget. Pimpinan harus tegas,” protes Ruhut kepada Gayus selaku Wakil Ketua Pansus yang saat itu memimpin sidang.
Kebetulan Gayus baru saja ke luar ruangan untuk buang air kecil sehingga tak tahu-menahu. “Ya, yah, nanti saja,” jawab Gayus.

Entah kenapa komentar keduanya menjadi memanas sembari saling melototkan mata. Adu mulut pun dimulai. Kata-kata tak pantas berhamburan.
“Saya pimpinan rapat, bukan kau,” kata Gayus.

“Eh siapa bilang, kita anggota Panitia Angket berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,” cetus Ruhut.
“Kata siapa tinggiku sama kau, kau yang sopan,” balas Gayus lagi disambut tawa meriah anggota Pansus dan wartawan yang memadati balkon atas ruang pemeriksaan.

“Sayangnya, saya pimpinan rapat ini. Kalau tidak, saya usulkan kepada pimpinan agar kau dikeluarkan karena selalu menggangu rapat,” Gayus melanjutkan.

Kemudian, Ruhut pun menimpali,”Jangan marah-marah kodok, pemimpin kodok! Engkau kan profesor.”
Mendengar gelarnya disebut-sebut Ruhut, Gayus yang guru besar Ilmu Administrasi Negara itu tak tinggal diam. “Anda kurang ajar. Jangan kurang ajar ya. Jangan bawa-bawa soal profesor,” timpalnya.
“Ini rapat, supaya si Ruhut itu ditegur. Dari kemarin selalu buat keributan. Supaya dikembalikan saja ke fraksinya,” tambah Gayus.

Ruhut menjawab, “Kita kan beda fraksi nggak usah atur-atur. Pemimpin harus tegas.”
Melihat teman fraksinya komentar tak karuan, Achsanul Qosasi (Fraksi Demokrat) yang duduk di samping kanan Ruhut, lantas mematikan mikrofon di depan Ruhut. Namun, hal itu tak membuat Ruhut kehabisan suara untuk berkoar bicara. Ia terus saja berbicara tak jelas.

Posisi mikrofon Gayus selaku pimpinan sidang tetap menyala, ia katakan, “Satu kata untuk kau, diam kau!”
Namun, Ruhut pun kembali membalasnya. “Kau yang bicara sopan. Kau yang diam, bangsat. Ngaca dong, ngaca,” kata Ruhut dengan muka yang mulai memerah.
“Suara siapa lagi itu?” tanya Gayus.
“Nggak tahu, suara siapa tuh,” jawab Ruhut.

“Kalau begitu, itu suara setan,” balas Gayus, yang disambut tertawa para anggota Pansus.
Sidang kembali tenang, ketika Achsanul kembali menenangkan Ruhut dan Gayus enggan menjawab komentar Ruhut.
Gayus selaku pimpinan sidang akhirnya menyerahkan giliran bertanya kepada anggota fraksi PKS, Andi Rahmat.

Adu mulut antara dua ini memang bukan pertama kalinya. Sebelumnya, Selasa (5/1), pada pemeriksaan Pansus terhadap mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aulia Pohan, kedua anggota DPR ini juga sempat adu mulut sesaat.
Saat itu Ruhut memprotes sikap Pansus yang dinilainya tak etis karena menuding saksi Aulia Pohan, yang juga besan SBY, tak jujur. Namun, Gayus langsung menyatakan sikap tegas. “Saya akan tetap menggunakan hak politik saya.”

Sikap Ruhut Sitompul, yang kerap membuat “panas” dan ramai suasana rapat Pansus, ternyata dirasakan cukup mengganggu oleh beberapa anggota lainnya.
“Saya luar biasa merasa terganggunya. Awalnya, kita diam saja tapi tidak ada perubahan,” kata anggota Pansus asal Fraksi Partai Hanura, Akbar Faisal, di Gedung DPR, Jakarta.
Selama melakukan interupsi, Ruhut dinilai tak pernah berbicara substansi persoalan. Akbar pun mempertanyakan pilihan Fraksi Demokrat menempatkan Ruhut di Pansus yang tengah menguak pengucuran dana talangan Century itu.

“Saya mempertanyakan apa fungsi dia di sini. Saya tidak melihat ada perubahan gaya dan tidak ada upaya untuk menegur yang bersangkutan oleh fraksinya. Dia hanya merusak suasana,” kata Akbar.
“Tapi biarlah dia mempermalukan diri sendiri, cuma kok enggak malu-malu,” ujarnya. Rasa terganggu juga diungkapkan Ganjar Pranowo, anggota Fraksi PDIP.

“Sangat, sudah sangat terganggu. Interupsi itu halal, tapi interupsi untuk melempengkan substansi bukan mengumpat atau berceramah,” ujar Ganjar disaat rehat rapat.

Berbeda dengan Akbar dan Ganjar, rekan sesama anggota Fraksi Demokrat, Benny K Harman, menganggap apa yang dilakukan Ruhut merupakan hal biasa dan dinamika politik di Dewan. “Itu hal yang biasa. Biarlah publik yang menilai. Saya tidak melihat itu sebagai hal yang aneh,” kata Benny.

Anggota Pansus lainnya, Andi Rahmat, justru menganggap aksi Ruhut sebagai hiburan. “Saya melihatnya sebagai hiburan saja di Pansus,” kata anggota Fraksi PKS ini.

Namun, ia menambahkan, sesuai tata tertib, pimpinan rapat seharusnya bisa bersikap jika tindakan anggota sudah mengganggu. Sikap yang bisa diambil, di antaranya memberikan peringatan, menghentikan anggota bicara, dan memaksa keluar ruangan.persda network/amb/kcm

Adu mulut antara politisi Demokrat Ruhut Sitompul dan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Gayus Lumbuun berbuntut panjang. Fraksi PDIP melayangkan surat protes kepada pimpinan Fraksi Demokrat yang membawahi Ruhut.

Terlepas dari langkah Fraksi PDIP tersebut, siang ini Ruhut meminta agar perseteruannya selama dua hari berturut-turut dengan Gayus, tidak diungkit-ungkit lagi. “Sudahlah, jangan dipanas-panasi lagi,” ujar Ruhut, Kamis 7 Januari 2010. “Aku sudah tidak apa-apa sama Gayus. Saya dan Gayus sahabat lama kok,” kata Ruhut.

Ruhut mengatakan, dirinya sudah lama mengenal Gayus, berhubung mereka berdua mempunyai latar belakang profesi yang sama sebagai advokat. Menurut Ruhut, ia dan Gayus sudah terbiasa berselisih paham, namun selalu berakhir damai.

“Kami sudah damai. Tadi kan sudah salaman dan cium pipi,” ujar Ruhut. Ruhut dan Gayus memang sempat bersalaman sebelum memulai rapat pemeriksaan pansus, karena arahan para fotografer media. Namun Ruhut dan Gayus tidak saling berucap apapun saat bersalaman.

Sementara itu, rekan sefraksi Gayus, Ganjar Pranowo, tetap menilai tindakan Ruhut itu keterlaluan dan melewati batas. “Kalau sudah pakai kata ‘bangsat,’ itu bukan adu argumentasi lagi, tapi kelewatan,” kata Ganjar. Karenanya, lanjut Ganjar, DPP PDIP tetap akan membahas insiden Ruhut secara khusus.

PDI surati Demokrat

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akan melayangkan surat keberatan resmi secara tertulis kepada Ketua Fraksi Demokrat, Anas Urbaningrum, terkait ucapan penghinaan yang dilontarkan oleh salah satu anggota Fraksi Demokrat, Ruhut Sitompul. Ruhut melontarkan kata penghinaan itu kepada anggota Fraksi PDIP, Gayus Lumbuun, dalam rapat pansus.

“Itu juga merupakan penghinaan kepada Fraksi PDIP,” kata Ketua Fraksi PDIP, Tjahjo Kumolo, dalam pesan tertulisnya kepada media, Kamis 7 Januari 2010. “Oleh karena itu, Fraksi PDIP akan meminta klarifikasi resmi dari Fraksi Demokrat terkait ucapan tersebut.”

PDIP menyatakan, mereka sangat menghargai perdebatan dan perbedaan pandangan dalam forum-forum DPR. “Tapi ucapan ‘bangsat’ jelas menghina PDIP sebagai partai politik, karena Gayus adalah wakil resmi PDIP di pansus, serta anggota resmi PDIP,” kata Tjahjo.

Surat keberatan dari Fraksi PDIP itu akan langsung disampaikan kepada Ketua Fraksi Demokrat, dengan tembusan kepada pimpinan DPR dan seluruh ketua fraksi di DPR. Meski secara kelembagaan PDIP melayangkan surat protes, namun secara personal, Gayus tidak akan membawa persoalan Ruhut ini ke Badan Kehormatan (BK) DPR karena ia menganggap cacian itu termasuk risiko kerjanya sebagai pimpinan sidang pansus.

Perlukah Badan Kehormatan

Setelah sejumlah besar masyarakat merasa kecewa dan megecam umpatan ‘bangsat’ Ruhut Sitompul kepada Gayus Lumbuun dalam rapat Pansus Century, kabarnya di kalangan DPR ada wacana untuk membawa masalah tsb ke Badan Kehormatan (BK) DPR

Desakan untuk membawa Ruhut Sitompul ke Badan Kehormatan DPR, terkait makian “Bangsat” yang dilontarkannya, tidak diapresiasi oleh Fraksi Demokrat. Karena menurutnya hal itu tidak penting.

“Tidak perlu lah. Badan Kehormatan itu menangani hal-hal yang penting saja. Hal yang tidak penting seharusnya dihindarkan dari agenda anggota dewan,” ucap Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada para wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/1/2010).

Demokrat mengakui kejadian tersebut tidak mengenakkan. Namun menanggapi hal ini, dia meminta semua pihak untuk melihatnya secara proporsional.

“Mari kita lihat kasus itu secara proporsional. Ke depan kita harapkan dinamika di Pansus agar jauh dari hal-hal yang tidak perlu,” kata Anas.

Selain itu untuk menghindari kejadian seperti itu, dia juga meminta semua pihak agar berkomitmen untuk fokus pada pembahasan tema, dan konsiten dalam menggunakan jatah waktu, yang menjadi sumber cekcok Ruhut dengan pimpinan Pansus Gayus Lumbuun, kemarin.

“Serta adanya semangat saling menghormati,” ujar Anas.

Ternyata anggota DPR yang juga berperan sebagai Si Poltak tukang minyak eceran ini menyatakan tidak gentar. Dengan gaya seperti orang yang tidak bersalah, artis sinetron ini seperti diberitakan oleh detik.com:7/1/10) memberikan pernyataan-pernyatan sbb:
“Jangankan ke BK, diadukan ke Tuhan yang di atas saja aku siap!” Kata Ruhut sambil menunjukkan tangannya ke atas, saat berada di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/1/2010). Seperti diketahui bahwa BK DPR saat ini diketuai oleh Gayus Lumbuun, professor yang sering emosional ini.

Cukup mengejutkan juga kalau kita mendengar Ruhut beranggapan bahwa perkataan bangsat yang dia lontarkan adalah layak, karena Gayus memicunya lebih dulu. Dia juga mengatakan bahwa, di parlemen luar negeri bahkan lebih parah dari apa yang dia lakukan, sampai tonjok-tonjokan, kepala sampai dijedor (rupanya ini mau dijadikan contoh ya ?).
Lebih lanjut Ruhut mengatakan bahwa Partai Demokrat yang bosnya (SBY) sering melontarkan himbauan kesantunan ini mendukung penuh apa yang dilakukannya. Tidak ada teguran dari Partai Demokrat atas aksinya.
“Dari partai nggak ada yang kritik gua kok. Partai MUJI SEMUA,” demikian kata Ruhut dengan yakin. Selain itu menurutnya dia mendapat kiriman 300 SMS yang menyatakan dukungan karena dia berani melawan Gayus. Dari sekitar 300 SMS yang masuk hanya 3 yang kritik, semua mendukung. Soal kasar menurut Ruhut orang boleh bilang apa, tapi ini Poltak,”
Mungkin definisi santun menurut versi Ruhut, SBY, dan Partai Demokrat perlu dikaji ulang kembali oleh masyarakat, setelah Ruhut menyatakan sendiri bahwa Partai Demokrat mendukung penuh apa yang telah dilakukannya. Mendukung penuh mengandung arti bahwa SBY juga turut mendukung.

Selain itu Dukungan Partai Demokrat terhadap Ruhut menunjukkan kalau ucapan “diam kau bangsat” masih termasuk kategori santun, setidaknya dianggap layak menurut pemain sinetron tsb (apa iya ?). Rasanya, jangankan raja minyak, tukang minyak eceran keliling saja cukup paham kalau kata bangsat tidak layak diucapkan oleh siapapun dan di manapun, apalagi oleh anggota DPR

Dari berbagai sumber

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
http://korananakindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: