Oleh: Indonesian Children | Januari 8, 2010

Susno Membuat Kejutan Saat di Persidangan Antasari

Susno Membuat Kejutan Saat di Persidangan Antasari

Mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji tiba-tiba datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Susno dihadirkan pengacara Antasari Azhar sebagai saksi yang meringakan untuk mantan Ketua KPK ini.

Kedatangan Susno tersebut di luar dugaan. Sungguh mengejutkan! Semula pengacara Antasari, Juniver Girsang, mengatakan akan menghadirkan satu saksi ahli pidana. Namun dirinya masih merahasiakan siapa saksi tersebut.

“10 menit lagi sampai ke sini,” ujar Juniver dalam persidangan Antasari, di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (7/1/2010).

Sidang tersebut kemudian diskors 10 menit untuk menunggu kedatangan saksi tersebut. Ternyata saksi ahli pidana tersebut adalah Susno Duadji. Sebelumnya, pengacara Antasari yang lain, Ari Yusuf Amir, menyebutkan bahwa hari ini akan ada “kejutan”. Ternyata kejutan tersebut adalah Susno.

Susno tiba pukul 11.00 WIB dengan mengenakan seragam dinas lengkap bintang tiga. Begitu tiba di pengadilan, dia langsung disambut oleh para jurnalis yang mengabadikannya. Sepanjang berjalan, Susno banyak mengumbar senyum.

Begitu masuk ruang sidang, Susno bersalaman dengan Antasari. Lalu dia duduk di sebelah pengacara Antasari.

Jaksa penuntut umum benar-benar tidak menyangka Komjen Susno Duadji dihadirkan ke persidangan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Namun, mereka diuntungkan karena menilai keterangan mantan Kabareskrim Polri itu justru memberatkan Antasari.

“Keterangan yang bersangkutan (Susno) bukan meringankan, tapi memberatkan,” kata jaksa penuntut umum Cirus Sinaga usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (7/1/2010).

Menurut Cirus keterangan Susno selaras dengan keterangan 11 saksi verbalisan (penyidik) dan keterangan mantan Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Hadiatmoko sebelumnya. Bahwa perkara Antasari tidak ada unsur rakayasa dan sudah disidik dengan independen serta sesuai prosedur hukum.

“Saksi Hadiatmoko telah menerangkan di persidangan bahwa ia tidak mencampuri proses penyidikan,” terang Cirus.

Dikatakan dia, Susno juga mendukung kesaksian Hadiatmoko bahwa terdakwa Kombes Wiliardi Wizar mengeluh selama proses penyidikan karena terbatas berkomunikasi dan bertemu dengan istrinya. Dan keluhan Wili tersebut sudah diselesaikan oleh para penyidik.

Selain tidak menyangka, Cirus sempat memprotes kehadiran Susno yang memakai pakaian dinas ke persidangan. Dia sempat meminta agar Susno melepas baju kebesarannya itu bisa datang ke persidangan atas nama pribadi, bukan institusi.

“Majelis sudah bersikap bijaksana. Majelis memang tidak boleh menolak, karenanya keberatan jaksa dicatat oleh panitera,” pungkasnya.

Susno Seharusnya Izin ke Kapolri

Mantan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji boleh saja mengatakan kehadirannya di sidang Antasari Azhar dalam kapasitas pribadi. Tapi prosedur yang ada, Susno harus meminta izin Kapolri. “Kapolri dong. Jadi harus ke Bapak Kapolri,” jelas Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Ito Sumardi di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (7/1/2010).

Susno, lanjut Ito, bersaksi di waktu jam dinas. Dan sesuai peraturan pastinya harus ada izin Kapolri. “Ya kalo misalnya kita dalam jam dinas. Dalam jam dinas aturannya minta izin ke pimpinan,” tambahnya.

Apakah Susno sudah meminta izin Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri? “Saya belum tahu,” tutupnya.

Susno dihadirkan sebagai saksi oleh pengacara Antasari sebagai saksi yang meringankan mantan ketua KPK itu. Jaksa penuntut umum (JPU) Cirus Sinaga mempersoalkan surat izin dari Mabes Polri terkait kedatangan Susno menjadi saksi Antasari.

Bagi JPU, Susno yang bersaksi pada jam tugas dan mengenakan seragam dinas seharusnya mendapatkan izin terlebih dulu dari Mabes Polri. Susno mengakui kehadirannya ke sidang atas nama pribadi.

Polri Tak Anggap Susno Berkhianat

Kesaksian Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji menohok Polri. Apa yang disampaikannya di persidangan berbanding terbalik dengan tindakan hukum Polri atas Antasari. Apakah Susno dianggap berkhianat?

“Kita tidak melihat dalam konteks dikhianati atau tidak,” kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (7/1/2010).

Sulistyo menyampaikan, dalam persidangan, hal apapun bisa terjadi sesuai dinamika. “Dalam sidang apa saja bisa terjadi,” tambahnya.

Sulistyo menjelaskan, kehadiran Susno di sidang itu pun sepenuhnya atas permintaan pengacara.

Komjen Pol Susno Duadji secara mengejutkan hadir di persidangan Antasari. Mantan Kabareskrim Mabes Polri itu akan membuka berbagai misteri yang belum terungkap dalam kasus ini.

Hal tersebut tertuang dalam pesan singkat Susno kepada Koordinator Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, Kamis (7/1/2010). Pesan singkat itu disampaikan Susno 30 menit sebelum bersaksi ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel), Jl Ampera, Jaksel.

Berikut bunyi SMS Susno kepada Neta S Pane “30 menit lagi saya bersaksi di PN Jaksel ttg kasus Antasari. Apakah ada grand strategi atau tidak? Dan kenapa SD dikucilkan dlm pemeriksaan terkait pejabat KPK? Sedikit demi sedikit saya buka”.

Neta menilai, isi pesan itu merupakan curahan perasaan Susno. Perwira Polri bintang 3 tersebut merasa dikorbankan oleh atasannya. “SMS Susno ini adalah gambaran perasaan dan hati nuraninya sebagai manusia yang dikorbankan,” ujar Neta.

Neta menambahkan, berdasarkan penelusuran IPW, Susno tampaknya memang dikorbankan atasannya. Susno merupakan korban pertarungan antar angkatan 77 dan 78 menjelang suksesi kepemimpinan Polri.

“Susno tidak disukai karena banyak mengkritik ketidakbecusan internal Polri, terutama mengenai proyek pengadaan barang,” ungkap Neta.

Dianggap Aneh

Menurut kantor berita Antara, Wakil Ketua Komisi III (bidang hukum dan keamanan) DPR RI Azis Syamsuddin menilai janggal keterangan mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan bahwa dirinya tidak tahu-menahu dan tidak dilibatkan dalam tim yang dibentuk untuk mengusut pelaku teror terhadap mantan Ketua KPK Antasari Azhar.

“Masa` ada tim yang bekerja tanpa sepengatahuan Kabareskrim. Ini aneh,” kata Azis kepada pers di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis.

Azis mengatakan, pengakuan Susno bahwa dirinya tidak ikut serta secara langsung ataupun tidak langsung dan tidak bertanggungjawab karena tidak pernah dilibatkan sama sekali dan justru ada tim lain di luar kendali Kabareskrim adalah satu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi di institusi seperti Polri.

Susno Duadji mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya pembentukan tim yang dibentuk Kapolri untuk mencari pelaku teror terhadap Antasari Azhar.

“Saya tidak tahu tim itu. Saya juga tahunya terakhir. Saya tidak tahu siapa pembentuk tim itu,” katanya dalam kesaksian di dalam persidangan mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam perkara dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis.

Susno menambahkan dirinya mengetahui pembentukkan tim itu setelah ramai di pemberitaan media massa dan persidangan.

“Pembentukannya saya tidak tahu, setelah persidangan baru tahu menurut khalayak ramai,” katanya.

Ia mengatakan yang punya otoritas dalam penanganan kasus itu, yakni, Irjen Pol Hadiatmoko –saat itu Wakabareskrim Mabes Polri–dengan langsung melapor ke Kapolri.

“Karena dia (Hadiatmoko) sudah punya otoritas. Jadi tidak perlu lapor ke saya. Dia lapor ke Kapolri, saya tidak mengerti,” katanya.

Disebutkan, Irjen Pol Hadiatmoko menjabat sebagai ketua tim pengawas penyidikan. Ia menjelaskan, kasus Antasari Azhar ditangani Polda Metro Jaya dan pengawas penyidiknya ditunjuk Hadiatmoko. “Hadiatmoko langsung melapor ke Kapolri,” katanya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cirus Sinaga dalam dakwaannya menyebutkan adanya pembentukkan tim pencari pelaku teror terhadap Antasari Azhar yang dipimpin oleh Kapolres Jaksel dan merupakan bentukkan dari Kapolri.

Pembentukkan tim itu setelah sebelumnya Antasari Azhar melaporkan adanya tindak teror terhadap dia dan istrinya melalui pesan singkat (SMS).

Tim kemudian mendapatkan Nasruddin Zulkarnaen dan istri sirinya, Rhani Juliani di salah satu hotel di Kendari, Sulawesi Tenggara dalam operasi penggerebekan narkoba.

Kemudian tim menyatakan tidak mendapatkan bukti almarhum Nasruddin melakukan teror terhadap Antasari Azhar.

Jadi Saksi Meringankan Antasari. Tampilnya Komjen Susno Duadji sebagai saksi meringankan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (7/1) menimbulkan masalah serius. Mabes Polri memastikan mantan Kabareskrim tersebut melanggar aturan kedinasan Polri. Apalagi, kehadirannya di persidangan tanpa seizin Kapolri atau Wakapolri sebagai pimpinannya.

Mabes Polri berencana menggelar sidang kode etik dan disipilin internal untuk mengadili Susno. Sanksi terberat yang bisa dikenakan adalah pemberhentian dengan tidak hormat (PTDH). Hal itu disebabkan Susno merupakan jenderal bintang tiga yang tidak mungkin lagi kena demosi (penurunan pangkat) atau dijatuhi sanksi penundaan kenaikan pangkat.

“Dari rangkaian klarifikasi yang kami lakukan, kehadiran Pak Susno bisa dikualifikasikan menyalahi aturan dan melanggar kode etik,” jelas Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (7/1).

Selain mengklarifikasi Susno Duadji, Mabes Polri juga menghubungi PN Jakarta Selatan, Bareskrim Polri, dan kedinasan Polri, tindakan mantan Kabareskrim itu menyalahi aturan yang berlaku dan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang melanggar disiplin dan kode etik.
Menurut Edward, kalau dalam proses pemeriksaan terhadap Susno ternyata ada unsur kesengajaan, maka yang bersangkutan bisa saja dikenakan sanksi terberat seperti PTDH. “Dalam aspek disiplin, tentunya ada pelanggaran disiplin dan akan ada tindakan disiplin,” tegasnya.

Dikatakan Edward, setiap anggota Polri diwajibkan untuk mentaati aturan kedinasan. Aturan tersebut melingkupi kewajiban mentaati jam kerja, meminta izin jika hendak meninggalkan tugas, menjaga citra dan kelembagaan Polri, memegang teguh garis komando, mematuhi jenjang kewenangan dan bertindak berdasarkan aturan serta tata cara yang berlaku, tidak melakukan hal-hal yang menurunkan kehormatan diri, martabat negara, Pemerintah dan Polri.

Edward menegaskan, Susno tidak pernah meminta izin kepada Kapolri maupun Wakil Kapolri untuk menghadiri persidangan Antasari. “Dalam konfirmasi yang kami lakukan terhadap beliau, yang bersangkutan menyatakan kehadirannya dalam sidang tersebut adalah sebagai pribadi dan berpakaian dinas karena saat itu masih jam dinas,” jelas Edward.

Polri juga tidak pernah menerima surat pemanggilan bagi Susno Duadji untuk menghadiri sidang, apalagi menjadi saksi meringankan bagi Antasari Azhar.
Edward mengungkapkan, dalam waktu dekat Polri segera memeriksa Susno Duadji. “Semua kan ada mekanismenya dan kami akan melakukan sesuai dengan mekanisme yang berlaku,” tukasnya.

Susno Berbohong
Polri juga membantah kesaksian Susno yang menyatakan tidak tahu proses penanganan kasus Antasari. “Saya tidak pernah mencampuri persidangan, tetapi saya mau katakan bahwa sistem di Polri itu, dalam proses penanganan kasus ini, berjalan dengan baik. Dokumennya berjalan. Kalau ada Wakil Kabareskrim tentunya ada Kabareskrim. Dan apa yang dilakukan anak buah, tentunya pimpinan mengetahuinya,” jelas Edward.

Edward yakin Susno tahu proses penanganan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang melibatkan Antasari Azhar. “Apalagi ada surat perintah yang menujukkan sudah ada sistem yang dibangun dan berjalan,” timpalnya.

Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Sulistyo Ishak menyatakan, surat perintah yang dimaksud adalah adanya surat perintah pembentukan tim pengawas penyidikan untuk kemudian mengawasi jalannya proses penyidikan kasus Nasrudin, yang dikeluarkan Susno Duadji selaku Kabareskrim kala itu.

Tim pengawas penyidikan bertugas mengawal agar penyidikan yang telah dilakukan oleh tim penyidik dapat terjaga independensinya. “Untuk kasus ini sudah dikeluarkan perintah oleh Kabareskrim kepada tiga orang Komisaris Besar untuk melaksanakan pengawasan penyidikan,” terang Sulistyo. Surat tersebut bernomor 479a/V/2009/Bareskrim tertanggal 1 Mei 2009, dan ditandatangani oleh Susno Duadji.

Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Ito Sumardi mengatakan mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji seharusnya meminta izin kepada pimpinan akan menjadi saksi pada persiangan Antasari Azhar.
“Minta izin ke Kapolri dong,” kata Ito Sumardi saat dikonfirmasi wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Dari berbagai sumber

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
http://korananakindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: