Oleh: Indonesian Children | Januari 15, 2010

PENJARA MEWAH, GEBRAKAN AWAL HANCURKAN MAFIA HUKUM

PENJARA MEWAH, GEBRAKAN AWAL HANCURKAN MAFIA HUKUM

Gebrakan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang menemukan berbagai fakta mencengangkan dalam inspeksi mendadak ke Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, diharapkan tidak sekadar untuk popularitas. Dasar pembentukannya berupa keputusan presiden juga membuat keefektifan langkah Satgas ini diragukan dapat optimal. Demikian diutarakan anggota Komisi III DPR, T Gayus Lumbuun, dan Direktur Eksekutif Human Rights Working Group Rafendi Djamin di Jakarta, secara terpisah, Senin (11/1/2010). Satgas Antimafia Hukum, yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto itu, dibentuk dengan keppres.

Rafendi mengatakan, inspeksi mendadak (sidak) Satgas Antimafia Hukum jangan sampai hanya untuk menciptakan citra tanpa menyentuh permasalahan sebenarnya. Sidak yang menemukan kondisi riil Artalyta Suryani dan Limarita (Aling), terpidana dalam kasus penyuapan dan narkotika, adalah hal jitu untuk pencitraan. Namun, ia melihat gegap gempita sidak yang diliput media cenderung hanya untuk mencari popularitas sesaat. ”Hentikan cara-cara infotainment dalam penegakan hukum,” kata Rafendi lagi.

Gayus memuji langkah Satgas yang melakukan sidak. Pembentukan Satgas bisa dilihat sebagai niat baik dari pemerintah. Namun, Satgas akan sulit bekerja secara optimal karena dasar hukumnya adalah keppres. Akibatnya, Satgas tidak bisa memasuki wilayah lembaga independen karena dasar hukumnya berada di wilayah eksekutif.

Kinerja aparatur

Gayus menyarankan, dasar hukum pembentukan Satgas Antimafia Hukum sebaiknya peraturan pemerintah (PP) dan melekat pada Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Sasaran Satgas adalah peningkatan kinerja aparatur negara.

Terkait sidak Satgas ke Rutan Pondok Bambu, Gayus menuturkan, ”Semestinya Direktur Jenderal Pemasyarakatan dan jajarannya menggunakan hasil sidak itu untuk evaluasi. Bukan justru berusaha menutup-nutupinya.”

Rafendi mengingatkan, Satgas harus kembali pada latar belakang kelahirannya, yakni berhubungan dengan rekaman percakapan Anggodo Widjojo dengan pejabat Polri dan Kejaksaan, yang diputar di Mahkamah Konstitusi pada 3 November lalu. Rekaman itu diduga terkait kasus kriminalisasi terhadap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.

”Sekelas Satgas yang dibentuk Presiden seharusnya dimulai dengan mereformasi penegak hukum di Polri dan Kejaksaan serta mulai memproses makelar kasus,” kata Rafendi. Langkah yang harus diambil, antara lain, adalah merombak pejabat bidang penegakan hukum

Penjara Mewah. Namanya penjara harusnya dibatasi fasilitas dan akses-akses lainnya, dan pasti kondisinya pun kondisi penjara yang pas-pasan. Namun ternyata ada juga penjara mewah di Indonesia. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dalam sidaknya di Rutan Wanita Pondok Bambu semalam, Senin (11/01/2010) menguak apa yang selama ini menjadi isu menjadi fakta: sel mewah napi kaya.

Bagaimana mungkin di dalam penjara lebih mewah dari di luar penjara? Jawabannya memang pasti bisa, jikalau tersedianya berbagai fasilitas dan dan terbukanya akses ke luar, yang pasti bisa terjadi jika ada kerjasama “kong kali kong” dengan pihak dalam, baik sipir maupun kepala rutan.

Satgas memeriksa beberapa sel termasuk yang ditempati Artalyta Suryani alias Ayin. Napi 5 tahun kasus suap ini memiliki dua ruangan khusus, selain sel penjara. Ruangan khusus itu terletak di lantai tiga. Ruangan 8×8 ini berisi ranjang, AC dan TV layar datar serta meja kerja. Ruangan itu seharusnya menjadi ruang kantor petugas LP, namun disulap menjadi kamar setara hotel berbintang.

Dirjen Pemasyarakatan (PAS) Depkum HAM Untung Sugiono menyatakan ruangan itu terbuka untuk umum bukan untuk Ayin seorang, ruangan Ayin sebenarnya adalah ruangan ketrampilan Rutan Pondok Bambu.

“Ruang tersebut terbuka untuk umum dan untuk kepentingan umum pula,” kata Untung dalam jumpa pers di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (11/1/2010). Untung tidak menampik bila fasilitas umum itu kemudian disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. “Tapi memang ada kepentingan umum yang ditumpangin kepentingan pribadi,” jelas Untung. Menurut Untung, jika ruangan itu untuk kepentingan umum, siapa pun boleh memasukinya. Bahkan ruangan fitness dan home theater diperbolehkan ada di Rutan. “Boleh selama untuk kepentingan umum,” tandasnya.

Namun akhirnya Dirjen Pemasyarakatan (PAS) Depkum HAM Untung Sugiyono mengakui memberi fasilitas untuk Artalyta Suryani alias Ayin. Pihaknya ingin membantu Ayin bertemu keluarga dan mengurus perusahaan.

“Kami akui memberikan fasilitas untuk Artalyta. Itu hanya tempat untuk menerima keluarganya dan untuk kegiatan perusahaan milik Artalyta,” ungkap Untung Sugiyono dalam keterangan pers di Depkum HAM, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (11/1/2010). Untung lalu melanjutkan, Ayin mempekerjakan 50.000-80.000 karyawan dan itu tetap harus diawasi dengan baik oleh Ayin karena berhubungan dengan nasib orang banyak.

Satgas Pemberantasan Mafia Hukum melalui Sekretarisnya, Denny Indrayana membantah hal tersebut. “Seperti teman-teman lihat kemarin ada gambar pribadi Artalyta. Ada boks bayi, itu sudah sangat personal, itu bukan ruang publik tapi ruang pribadi,” ujarnya sai peluncuran buku bertajuk Korupsi Mengorupsi Indonesia di Graha Niaga, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (12/1/2010). Menurut Denny, ruangan Aling awalnya merupakan ruangan Dharma Wanita untuk diadakannya pertemuan-pertemuan. Namun ruangan itu kemudian disulap menjadi ruangan karaoke. “Di ruangan itu, ada foto-foto Aling dan barang pribadi dia,” jelas Denny.

Sebagai informasi juga untuk Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, saat ini dihuni 1.164 orang. Padahal kapasitas penjara itu hanya untuk 504 orang. Bagaimana mungkin di tengah kepadatan penghuni rutan tersebut, masih ada sisi kemewahannya? Keberhasilan menguak skandal penjara mewah ini memang boleh dikatakan gebrakan yang baik dari Kementrian Hukum dan HAM. Hal tersebut juga diakui Denny Indrayana.

Sekretaris Satgas Pemberatasan Mafia Hukum Denny Indrayana mengatakan bahwa sidak yang dilakukan Satgas diketahui Menkum HAM. Bahkan, Menkum HAM yang membantu Satgas dan wartawan ketika mengalami kesulitan masuk ke dalam Rutan.”Saya sebelum melakukan sidak, di rumahnya Patrialis. Beliau yang meminta dan melindungi kita untuk sidak. Ini kerja sama untuk perbaiki Lembaga Pemasyarakatan,” kata Denny.

Sang Menteri, Patrialis Akbar secara terbuka mengambil tanggung jawab permasalahan ini. “Saya yang bertanggung jawab,” kata Patrialis di Gedung Depkum HAM, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/1/2010). Patrialis menyatakan akan memeriksa dan memberi sanksi pada yang bertanggung jawab. “Tapi sanksinya kepada siapa kita menunggu hasil pemeriksaan. Yang pasti saya tegas dalam hal ini,” katanya. Patrialis menyatakan akan terus melakukan pembenahan di lembaga pemasyarakatan. Ia mengaku Presiden SBY setuju menggelontorkan dana Rp 1 Triliun untuk pembenahan lapas.

Patrialis pun siap memenuhi panggilan Komisi III DPR terkait terbongkarnya fasilitas mewah di sel Artalyta Suryani cs. “Tentu karena Dirjen Pemasyarakatan berada di bawah Depkum HAM maka kami akan bersama-sama datangnya. Kami pasti datang karena DPR wakil rakyat harus kita hormati. Kapan pun dipanggil harus datang,” kata Patrialis dalam jumpa pers di Depkum HAM, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/1/2010).

Langkah reformasi ini patut diapresiasi dan didukung. Karena apa yang sudah terjadi ini bisa saja terjadi di lembaga-lembaga pemasyarakatan atau rumah-rumah tahanan lainnya. Namun kelihatannya tidak akan menemui langkah mudah. Orang dalam saja yang sudah bertahun-tahun mengurusi lapas maupun rutan ini merasa pesimis seperti Kepala Kanwil Depkum HAM DKI Jakarta Asdjudin Rana bahkan tidak yakin atasannya, Menkum HAM Patrialis Akbar, bisa memperbaiki kondisi lapas dan rutan.

Para mafia lapas atau rutan ini, pasti menerima keuntungan besar dalam “kong kali kong” ini, tentunya mereka akan berupaya juga menjegal segala penyelidikan atau pemberesan masalah ini. Jika dilihat dalam UU Tentang Pemasyarakatan, UU No. 12 Tahun 1995 dalam Pasal 5 Bab II dinyatakan pada point b, bahwa system pembinaan dilaksanakan berdasarkan asas persamaan perlakuan dan pelayanan, maka sudah pasti kasus penjara mewah sudah tidak sesuai dengan undang-undang dan akan dilakukan tindakan hukum terhadap pelanggarnya.

Menhumkam, Patrialis Akbar perlu bertindak cepat, didukung oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, dan tentunya para pihak berwajib perlu bersatu padu memberantas ketidakadilan ini. Apalagi ini PR penting bagi Patrialis sebelum mengakhiri program 100 hari Kementrian Hukum dan HAM.

Sasarannya tentu dari pihak teratas di lembaga pemasyarakatan, Dirjen Pemasyarakatan dan para Kepala Lapas atau Rutan. Karena merekalah yang seharusnya tahu dan menguasai benar lapas dan rutan di bawah koordinasi mereka.

Langkah Menkumham mencopot Kepala Rutan Pondok Bambu Sarju Wibowo merupakan langkah tepat. Namun bagaimana dengan Dirjen Pemasyarakatan (PAS) Depkum HAM Untung Sugiono dan Kepala Kanwil Depkum HAM DKI Jakarta Asdjudin Rana? Perlu juga rasanya dilakukan penyelidikan. Yang kemudian dilanjutkan penyelidikan ke seluruh wilayah Indonesia lainnya.

Tentu kita tidak mau membuat penjara semakin padat lagi karena masyarakat berebutan masuk penjara, karena di penjara tersebut ada kemewahan. Tentu tidak setimpal dan tidak adil seharusnya kejahatan menuai hukuman dan keterbatasan, malahan menerima kemewahan.

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Responses

  1. Ayin kembali membuat berita heboh, dengan ditemukannya fasilitas mewah di sel yang dihuni olehnya dalam infeksi mendadak SatGas pemberantasan mafia hukum. Sebenarnya bukan hal yang aneh bagi seorang ayin untuk bisa memperoleh fasilitas yang demikian mewah. Mengingat kapasitas dan kemampuan dia sebagai ratu lobi.

    Namun, siapapun orangnya yang menjadi tahanan. Sudah seharusnya diperlakukan sama. Sebab semua orang sama di depan hukum tanpa memandang status.
    Membuat Blog


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: