Oleh: Indonesian Children | Januari 19, 2010

KONTROVERSI DAMPAK SISTEMIK BANK CENTURY

KONTROVERSI DAMPAK SISTEMIK BANK CENTURY

1. Lima Alasan Kenapa Century Berdampak Sistemik

Sumber: infobanknews.com

Jangan sampai, politisasi terhadap penyehatan bank akan membuat pengambil keputusan takut mengambil keputusan jika ada bank yang ukurannya lebih besar mengalami kegagalan. Kasus Bank Century menimbulkan kontroversi dari berbagai pakar  apakah berdampak sistemik atau tidak. Apakah bank tersebut ditutup pada November 2008 lalu?
 
Berbagai pertimbagan dan latar belakang yang meyikapi keadaan tersebut adalah
Kita lihat dampak pertama, yaitu kondisi sistem pembayaran. Sistem pembayaran boleh jadi berjalan normal, namun dengan gejala segmentasi di pasar uang antarbank (PUAB) yang makin meluas. Bukan hanya itu. Terdapat potensi kerentanan apabila terjadi flight to quality atau capital outflow yang mengakibatkan bank-bank menengah-kecil akan mengalami kesulitan likuditas. Bahkan, terdapat 18 bank yang berpotensi mengalami kesulitan likuiditas bila hal tersebut terjadi. Di sisi lain, ada lima bank yang memiliki karakteristik mirip Bank Century diduga akan mengalami kesulitan likuiditas.
 
Kepanikan seperti itu membuat bank-bank cenderung menahan likuiditas, baik rupiah maupun valuta asing (valas), untuk keperluan likuiditasnya masing-masing. Kondisi seperti ini akan membahayakan bank-bank yang tidak memiliki kekuatan
likuiditas yang cukup. Lebih mengerikan lagi, jika kemudian muncul rumor atau berita negatif mengenai. kegagalan bank dalam settlement kliring/real time gross settlement (RTGS), hal. ini akan dengan cepat memicu terjadinya kepanikan di kalangan masyarakat dan. berpotensi menimbulkan bank run. Disebut-sebut, dari 23 bank tersebut ada Rp30 triliun yang berpotensi fligt to quality. Dari jumlah itu, ada sekitar Rp18 triliun yang akan menjadi beban LPS jika dilakukan penutupan.

Kedua, dampak terhadap pasar keuangan. Ketika itu, situasi pasar keuangan masih
relatif labil dalam menyerap berita-berita negatif. Waktu itu terdapat potensi sentimen negatif di pasar keuangan,terutama dalam kondisi pasar yang sangat rentan terhadap berita-berita yang dapat merusak kepercayaan terhadap pasar keuangan.
 
Ketiga, dampak kepercayaan publik atau psikologis pasar. Penutupan bank dapat menambah ketidakpastian pada pasar domestik dan diyakini dapat berakibat fatal pada psikologi pasar yang sedang
sensitif. Pada waktu itu rumor kalah kliring dan situasi rawan fligt to quality sedang terjadi dengan isu-isu bank kekurangan likuiditas dan negera-negara tetangga. menerapkan kebijkan penjaminan 100%. Psikologi pasar inilah yang bisa memorak-porandakan sistem keuangan, kendati. bank tersebut berukuran kecil.
 
Keempat, berdampak pada bank lain. Jujur, harus diakui, jika dilihat dari peran bank memang tidak signifikan dalam hal fungsinya sebagai lembaga intermediasi atau pemberian kredit, ukuran bank, substitutability, dan keterkaitan dengan bank atau lembaga keuangan lain. Namun, dari sisi jumlah nasabah dan jaringan kantor cabang, bank ini
termasuk memiliki jumlah nasabah yang cukup besar (65.000 nasabah) dan jaringan cukup luas di seluruh Indonesia dengan 65 kantor.
 
Dalam kondisi pasar yang normal, jika bank ini ditutup,diperkirakan relatif tidak akan menimbulkan dampak sistemik bagi bank lain. Namun, dalam kondisi pasar yang saat itu cenderung rentan terhadap. berita-berita negatif, penutupan bank berpotensi menimbulkan contagion effect berupa upaya rush terhadap bank-bank lain, terutama peer banks atau bank yang lebih kecil. Situasinya ketika itu sedang terjadi penurunan kepercayaan masyarakat akibat psikologi pasar yang tidak menentu. Bahkan, akan menimbulkan kekacauan yang lebih besar dan dapat menyeret bank-bank lain.
 
Kelima, kondisi sektor riil dan sistem keuangan. Saat itu,menurut data-data, kondisi sistem keuangan mengalami tekanan sejalan dengan kondisi ekonomi dan keuangan global yang terus memburuk. Hal yang sama juga terjadinya penurunan cadangan devisa dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun, karena perannya pada pemberian kredit terhadap sektor riil tidak signifikan, kegagalan bank ini memiliki dampak yang relatif terbatas terhadap sektor riil
 
Nah, jika memperhatikan kenyataan pada November 2008, permasalahan yang terjadi pada Bank Century berpotensi menimbulkan dampak sistemik, terutama melalui jalur psikologi pasar, sistem pembayaran, dan pasar keuangan. Psikologi pasar bisa merembet ke bank-bank yang lebih besar sehingga menimbulkan kekacauan (rush).
 
Itu artinya, kondisi saat pengambilalihan perlu diperhatikan. Tidak bisa dilihat dari kacamata sekarang ini. Hanya, sialnya, dalam situasi yang sistemik dengan psikologi pasar yang tak menentu, celakanya terjadi pada Bank Century, yang sebelum diambil alih dikelola dengan penuh moral hazard. Hal yang sama juga akan dilakukan jika terjadi pada bank lain karena memang situasi pada setahun lalu sangat rawan rush.
Psikologi masyarakat sangat rentan akan terjadinya bank run. Sebab,penyelamatan Bank Century atau sebuah bank gagal bukan semata-mata menyelamatkan satu bank, melainkan menyelamatkan industri
perbankan.
 
Jangan sampai, politisasi terhadap penyehatan bank akan membuat
pengambil keputusan takut mengambil keputusan jika ada bank yang ukurannya lebih besar mengalami kegagalan. Jika demikian, akan terjadi kiamat perbankan yang akan menghancurkan sistem perbankan. Harapannya, politisasi terhadap penyehatan perbankan
ini tidak akan memakan biaya krisis yang lebih besar lagi.  Jangan sampai di masa-masa mendatang jika ada bank gagal yang ukurannya lebih besar dibiarkan hanya karena ketakutan disalahkan dan
diseret-seret setelah menetapkan sebagai bank gagal. Jika demikian, tentunya akan merusak sistem perbankan.

Awal Mula Keributan “Sistemik”

Keributan kembali terjadi dalam sidang Panitia Khusus Angket Century DPR. Kali ini yang ribut adalah Politisi Gayus Lumbuun mengaku telah berdamai dengan Benny K Harman. “Apakah Anda mengerti teori sistem? Saya tanyakan ini karena menurut teori sistem, Bank Century adalah subsistem dari sistem ekonomi nasional, yang akan berpengaruh terhadap sistem keuangan nasional. Ini juga ada kaitannya dengan status Century sebagai bank gagal berdampak sistemik,” demikian Benny K Harman melontarkan pertanyaan kepada para ahli ekonomi yang diundang pansus dalam rapat Pansus Angket Century di Gedung DPR RI, 21 Januari 2010. Pertanyaan itulah yang menjadi awal keributan “sistemik” di Pansus.

Kata “sistem” dan “sistemik” memang kini seolah menjadi trend sejak kasus Century mengemuka. Tercatat, tak kurang dari lima kali Benny mengucapkan kata “sistem” maupun “sistemik” dalam satu kali lontaran pertanyaan. Namun pertanyaan tersebut berbuah masalah, ketika Benny tak puas dengan jawaban para ahli, yang ia rasa bukan merupakan ahli teori sistem. Benny pun mulai mempertanyakan bidang keahlian dan kompetensi para pakar tersebut. “Anda ahli apa?” tanya Benny kepada salah satu ahli, Ichsanuddin Noorsyi. “Saya disebut ahli ekonomi politik,” jawab Ichsanuddin. “Siapa yang menyebut Anda ahli ekonomi politik?” tanya Benny lagi. “Surat Rektor UGM,” jawab Ichsanuddin kalem. Namun keterangan ini rupanya tak memuaskan Benny. Ia kemudian mengawali pertanyaannya kepada Ichsanuddin dengan kalimat “Kepada Anda yang mengaku-aku ahli ekonomi politik.” Sontak perilaku Benny ini diprotes Gayus Lumbuun selaku pimpinan rapat, karena dianggap tak patut. Gayus mengingatkan Benny untuk menghormati para ahli ekonomi tersebut. Menanggapi peringatan Gayus itu, Benny hanya sedikit merubah pola kalimatnya menjadi “Kepada Anda yang disebut-sebut ahli ekonomi politik.” Melihat kebandelan ini, Gayus pun berang. “Kita harus menghormati para ahli. Kita sendiri yang sepakat untuk mengundang mereka kemari,” tegas Gayus. Namun Benny tampak tidak sepaham dengan Gayus, sehingga mereka berdua pun terlibat adu mulut.

Di tengah adu mulut tersebut, anggota Pansus dari Fraksi Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa, melakukan interupsi. “Saya keberatan dengan cara Saudara Benny meminta keterangan kepada ahli. Kita sendirilah (Pansus) yang sudah mengklasifikasikan, men-declare, dan mengakui mereka sebagai ahli, sehingga mereka diundang ke sini,” tegas Agun. Bagai gayung bersambut, anggota Pansus dari Fraksi PDIP, Eva Kusuma Sundari, juga menyambung dengan interupsi senada. “Saya mendukung Pak Agun. Kita di sini tidak sedang uji kebijakan moneter. Mohon fokus pada substansi masalah,” tandasnya. Melihat keberatan serupa dari sejumlah anggota Pansus, Gayus pun kembali meminta Benny agar menghargai para ahli sebagai tamu, tanpa perlu mempertanyakan kapasitas mereka. “Mereka di sini karena kita ingin meminta keterangan mereka. Kalau tidak butuh keterangan mereka, ya tidak apa-apa. Biar yang lain yang butuh saja,” ujar Gayus kepada Benny. Terdesak, Benny pun tidak lagi meributkan soal kompetensi para ahli. Namun, baru beberapa detik Benny mulai melontarkan pertanyaan kembali kepada mereka, ia lagi-lagi diprotes karena menyebut para ahli sebagai “saksi ahli.” Gayus kembali memotong kalimat Benny, dan mengingatkan bahwa para undangan adalah “ahli,” dan bukan “saksi ahli.” Gayus menjelaskan, “saksi” dan “ahli” memiliki posisi yang berbeda.

Tapi, lagi-lagi Benny tidak menerima penjelasan Gayus, dan tetap ngotot memanggil “saksi ahli.” Akhirnya Gayus membacakan UU terkait Pansus. Dalam salah satu pasal UU tersebut, disebutkan bahwa yang ada adalah istilah “saksi-saksi” dan “ahli-ahli.” Jadi, tegas Gayus, tidak ada istilah “saksi ahli,” yang ada adalah “saksi” dan “ahli.” Tetap saja, Benny tidak sependapat dan bersikukuh memangggil para ahli dengan sebutan “saksi ahli.” Ia meminta Gayus untuk menghargai perbedaan pendapatnya. Namun Gayus tidak mau kompromi. “Saya larang Saudara menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan UU, atau Saudara keluar,” tukas Gayus naik pitam. Keributan pun kembali melanda keduanya. Untunglah, kali ini rekan sefraksi Benny, Ruhut Sitompul — yang biasanya menjadi biang onar, justru bertindak sebagai juru damai. Ia meminta Gayus dan Benny berdamai, dan bersedia untuk melakukan lobi guna mencari solusi terbaik. Rapat Pansus pun diskors selama lima menit, dan perwakilan tiap fraksi maju ke meja pimpinan rapat untuk melakukan lobi kecil. Tidak sampai lima menit, lobi tercapai. Dalam lobi tersebut, Fraksi Demokrat menjamin untuk tidak lagi mengeluarkan kata-kata yang melanggar ketentuan UU. Akhirnya, skors dicabut dan rapat pun dilanjutkan kembali. Namun, kali ini Benny tampak sudah tak ingin lagi bertanya kepada para ahli, meskipun saat itu masih gilirannya untuk bertanya. “Saya tak butuh jawaban Anda,” tukasnya singkat

2. Pengamat Indef yakin Kasus Century Berdampak Sistemik

Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan secara aset Century tidak mempengaruhi perbankan, tapi berdampak sistemik. Dia mensejajarkan posisi Century dengan penutupan 16 bank pada krisis 1998 sehingga kepercayaan pasar jatuh dan bank-bank lain akan ikut jatuh.

Pasalnya, Indonesia tidak memiliki blanket guarantee yang menjamin dana nasabah. Penjaminan dibatasi Rp 2 miliar. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang menjamin hingga 100 persen. Kejatuhan perbankan merupakan mimpi buruk perekonomian. “Sembilan puluh persen transaksi ekonomi dunia terjadi di perbankan,” katanya dalam diskusi Analasis Bank Century di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (10/12). Dia menilai langkah pemerintah penggulirkan talangan Rp 6,7 triliun tepat. Aksi demonstrasi yang marak belakangan ini dinilainya hanya menguntungkan elit politik dan merugikan masyarakat. Ketidakstabilan politik memicu hengkangnya investasi asing. Investasi turun bisa mengakibatkan pemutusan hubungan kerja.

Dia menilai kebanyakan pihak yang kontra pengguliran dana talangan tidak mengerti pokok masalah. Hal itu terlihat dari berkembangnya wacana perampokan uang rakyat untuk Century. “Perlu tempatkan institusi pada perannya,” ujar ekonomo Institute for Development Economy and Finance (Indef) itu. Lembaga Penjamin Simpanan yang mengeluarkan dana talangan merupakan lembaga yang pemangku kepentingannya adalah bank. “Mereka sebagai nasabah yang bayar premi,” katanya. Premi yang terkumpul digulirkan untuk bantuan bagi bank yang bermasalah untuk menyelamatkan ekonomi, layaknya asuransi. Dia mendukung upaya Dewan Perwakilan Rakyat dalam mengungkap aliran dana Bank Century. “Tapi bukan pada keputusannya,” kata Aviliani. Pasalnya tidak ada yang salah pada proses pengambilan keputusan penalangan Bank Century. Aviliani menyayangkan panitia khusus Bank Century yang hanya berbekal audit Badan Pemeriksa Keuangan. Menurut dia, hasil pemeriksaan tersebut hanya didasarkan perhitungan angka. “Tidak ada unsur situasi (krisis) saat itu,” ujarnya. Kisruh ini bisa mempengaruhi investasi. Aviliani mengatakan Indonesia harusnya memanfaatkan 2010 sebagai masa mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebab diperkirakan pada 2011 negara lain mulai keluar dari krisis dan sulit bagi Indonesia bersaing jika tidak memacu ekonominya lebih dahulu.”PAda 2010 harusnya jadi era ekspansi perbankan,” kata Komisaris Bank Rakyat Indonesia itu. Hal itu terlihat dari obligasi bank Indonesia yang sangat diminati investor dalam dan luar negeri. “Tapi itu sulit terjadi jika kasus ini bergulir terus,” ujar Aviliani.

3. BPK Ragukan Penilaian Dampak Sistemik Century

Alasan penyelamatan Bank Century (BC) sampai menelan Rp 6,7triliun adalah karena bank tersebut dikhawatirkan berdampak sistemik, namun alasan ini diragukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena tidak memiliki kriteria yang jelas dan terukut. Dalam laporan hasil audit investigasi soal bailout Bank Century, BPK meragukan penilaian Bank Indonesia (BI) dan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) tentang dampak sistemik BC. Laporan Hasil Pemeriksaaan Investigasi Atas Kasus BC yang dikeluarkan BPK menyatakan 3 hasil analisis proses assessment terhadap dampak sistemik oleh BI menunjukkan: Terdapat inkonsistensi dalam penerapan Mou Uni Eropa yaitu dengan penambahan satu aspek berupa aspek psikologi pasar dalam pembuatan analisis dampak sistemik BC yang dilakukan oleh BI. Selain itu, BI juga tidak menggunakan indikator kuantitatif dalam melakukan penilaian terhadap dampak selain dampak pada institusi keuangan. Assessment pada masing-masing aspek lebih banyak didasarkan pada judgement dan mengandung sejumlah kelemahan dalam penentuan indikatornya. Proses pembuatan analisis dampak sistemik BC terkesan tergesa-gesa karena hanya dibuat dalam waktu dua hari dengan menggunakan suatu metode yang baru pertama kali digunakan dan belum pernah diujicobakan sebelumnya. Data yang digunakan adalah data yang tidak mutakhir karena menggunakan data per 31 Oktober 2008 bukan data yang paling dekat dengan tanggal penetapan BC sebagai bank gagal yang ditengarai berdampak sistemik (pada 20 November 2008). Sementara posisi CAR yang digunakan untuk menetapkan BC sebagai bank gagal berdampak sistemik adalah posisi tanggal 31 Oktober 2008. “KSSK juga tidak mempunyai suatu kriteria yang terukur untuk menetapkan dampak sistemik BC, tetapi penetapannya lebih didasarkan kepada judgement,” ujar laporan tersebut seperti dikutip detikFinance , Senin (23/11/2009).

BPK juga menilai, dari aspek institusi keuangan, terlihat bahwa size BC tidak signifikan dibandingkan dengan industri perbankan secara nasional. Namun KSSK lebih memperhatikan aspek psikologis pasar yang diperkirakan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan secara keseluruhan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dan keuangan. Maka KSSK menetapkan BC sebagai bank gagal yang berdampak sistemik. “Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa KSSK menetapkan BC sebagai bank gagal berdampak sistemik serta menetapkan penanganannya kepada LPS mengacu pada Perpu No.4 Tahun 2008. Tetapi proses pengambilan keputusan tersebut tidak dilakukan berdasarkan data kondisi bank yang lengkap dan mutakhir, serta tidak berdasarkan data pada kriteria yang terukur,” tutur laporan tersebut.

Sumber : detik.com

4. Darmin Bantah Kalla Soal Sistemik Century

Bekas anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Darmin Nasution berbeda pendapat dengan pernyataan Jusuf Kalla soal kondisi Bank Century. Meskipun kolaps karena dirampok pemiliknya, penutupan Bank Century, kata Darmin, tetap berpotensi merembet ke perbankan lainnya. “Yang dikatakan Pak Jusuf Kalla itu sumber persoalan, tapi saat itu yang dibicarakan akibat-akibat persoalan,” kata Darmin saat pemeriksaan Panitia Khusus Angket Bank Century Dewan Perwakilan Rakyat, di gedung DPR, Jakarta, Senin (18/1). Menurut Darmin, meskipun sumber persoalan Bank Century lebih disebabkan dirampok pemiliknya, dalam situasi saat itu penutupan Bank Century tetap berpotensi sistemik kepada bank-bank lainnya. Karena itu dia mengatakan penyelamatan Bank Century tetap perlu dilakukan. Darmin menganalogikan situasi penyelamatan Bank Century saat itu seperti menangani rumah yang terbakar. “Kalau rumah terbakar, kan kita harus melindungi rumah-rumah tetangga agar tidak ikut terbakar,” kata Darmin.

Senada dengan Darmin, mantan anggota Dewan Komisioner lainnya Fuad Rahmany juga menyatakan penutupan Century bisa berdampak sistemik. Dia mengakui jika Century termasuk bank kecil, begitu juga dari sisi finansial yang tidak terlalu besar.
“Tapi ini ibarat api dan minyaknya sudah menyebar,” ujar Fuad. Karena itu, dalam rapat KSSK, kata Fuad, setelah mempertimbangkan berbagai hal, KSSK menyadari bahwa penutupan Bank Century berpotensi sistemik.

Sumber : korantempo

5. Skandal Century, Jusuf Kalla Tak Setuju Dampak Sistemik

Dalam kesaksiannya di depan pansus hak angket DPR, mantan wakil presiden Jusuf Kalla kembali menegaskan, ketua KSSK saat itu Sri Mulyani tidak melaporkan secara resmi kepada dirinya mengenai keputusan Bailout Bank Century. Jusuf Kalla juga menyatakan tidak setuju putusan bailout Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Keterangan mantan wakil presiden di pansus hak angket DPR tidak hanya membuat anggota dewan, pengunjung serta wartawan segar karena celotehan, dan pendapatnya yang lugas akan tetapi juga mematahkan semua argumentasi dan pendapat mantan gubernur BI Budiono dan mantan ketua KSSK Sri Mulyani. Yang mengatakan proses bailout Bank Century dikarenakan alasan ekonomi yang akan berdampak sistemik. Kalla juga mengatakan, dirinya juga tidak pernah membaca tembusan SMS dari Sri Mulyani pada tanggal 21 November 2008. JK mengaku, Sri Mulyani datang kepadanya tanggal 25 November 2008, menemui dirinya di kantor wapres untuk melaporkan telah dikeluarkan Bailout Bank Century. JK juga sudah memerintahkan Budiono untuk segera melaporkan kepada kapolri untuk menangkap Robert Tantular. Namun perintah tersebut tidak digubris oleh Budiono dengan alasan tidak ada dasar hukum.

Sumber : indosiar

6. LPS: Jika Century Ditutup, Negara Langsung Rugi Rp 5,4 Triliun

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan, jika pemerintah memutuskan untuk menutup Bank Century, maka dana yang akan dikeluarkan dan langsung menjadi kerugian negara nilainya mencapai Rp 5,4 triliun. Namun jika bentuknya bailout melalui dana Penyertaan Modal Sementara (PMS) sebesar Rp 6,7 triliun seperti saat ini, maka dana itu masih dimungkinkan kembali setelah penjualan bank yang saat ini bernama Mutiara tersebut. Demikian dikatakan oleh Kepala Eksekutif LPS, Firdaus Djaelani ketika diperiksa Pansus Hak Angket di Gedung DPR-RI, Jakarta, Selasa (19/01/2010). “Kami menggunakan data Bank Indonesia (BI), jika Century harus ditutup nilai kerugiannya bisa mencapai Rp 5,4 triliun,” ujar Firdaus. Ia menjelaskan, berdasarkan data tersebut nasabah dengan simpanan di bawah Rp 2 miliar tercatat sebanyak Rp 5,4 triliun. “Itu sudah pasti kami tanggung,” tegasnya. Kemudian, lanjut Firdaus, nasabah di atas Rp 2 miliar sekitar Rp 5 triliun yang terdiri atas 500 rekening. “Sekitar Rp 1 triliun nasabah di atas Rp 2 miliar yang sesuai suku bunga penjaminan saat itu yakni sebesar 10 persen, akan dibayar Rp 2 miiliar,” tambahnya.”Yang melampuai suku bunga 10 persen itu Rp 1 triliun. Jadi Rp 6,4 triliun dikurangi Rp 1 triliun, sehingga Rp 5,4 triliun,” ungkapnya. Ditambah lagi, LPS mencatat penjualan aset Bank Century hanya sekitar Rp 500 miliar. “Belum lagi proses likuidasi yang bisa memakan waktu hingga 5 tahun. Ini sangat lama dan tidak lupa jika ada efek domino yang ditimbulkan kepada bank lain. Tetapi, Firdaus mengatakan dengan diselamatkannya Bank Century berikut dana PMS sebesar Rp 6,7 triliun masih ada kemungkinan besar untuk kembali. “Masih ada harapan menjual bank. Paling rendah saja diprediksikan bisa laku Rp 3 triliun sampai Rp 4 triliun dalam waktu 5 tahun.

7. Demokrat Minta JK Ikut Bertanggungjawab

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla harus ikut bertanggungjawab atas kebijakan pemerintah menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik pada November 2008. “JK sebaiknya bersikap negarawan. Jangan karena kalah Pilpres membuka kembali perbedaan pendapat di internal pemerintah saat itu ia sebagai wakil presiden,” tegas anggota Pansus Angket Century dari Fraksi Partai Demokrat, Benny Kabur Harman, saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Rabu petang (20/1). Benny mengingatkan, para pembuat kebijakan saat itu adalah jajaran bawahan JK di pemerintahan. Kesaksian JK di hadapan Pansus yang terkesan menyalahkan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) atas bailout Century, dinilainya tidak mencerminkan sikap kesatria. “Dia harus membela keputusan itu. Bukan salahkan keputusan itu apalagi para mantan pembantunya, karena itu sikap yang tidak kesatria. Jangan lupa, persoalan ini muncul setelah Pemilu,” jelasnya

8. Pansus Dua Kali Ribut Gara-gara ‘Sistemik’

Sumber : VIVAnews –

Rapat Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Century mengundang tiga pakar ekonomi, Hendri Saparini dari econit, Chatib Basri yang juga staf ahli Menko Perekonomian, dan Ichsanuddin Noorsy dari UGM. Setidaknya, terdapat dua kali keributan sistemik dalam pertemuan pansus kali ini. Keributan sistemik yang pertama terjadi pada rapat sesi pagi ini di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 21 Januari 2010. Di sini, Hendri Saparini ekonom dari econit dan Chatib Basri memegang dua pendirian yang berbeda terkait proses bail-out atau penalangan dana Century. “Kebijakan bail-out sudah tepat,” tegas Chatib Basri di dalam forum pansus.

Chatib berpendapat, dalam kasus bail-out ini, permasalahannya bukanlah sekedar soal Century. “Kebetulan saja obyeknya Century,” kata Chatib. Menurut dia, dalam kondisi saat itu, bank sekecil apapun yang kolaps harus diselamatkan agar tidak mengganggu sistem perbankan secara keseluruhan. “Bahwa kemudian bank itu ternyata bermasalah, ya silahkan berproses secara hukum,” ujar Chatib. Di sisi lain, Hendri Saparini mengemukakan pandangan yang berbeda. Menurut dia, masalah Bank Century sebagai satu bank berskala kecil, cenderung dibesar-besarkan sehingga gambarannya berubah menjadi masalah besar dalam sistem perbankan.

Lebih lanjut, Hendri merasa bahwa alasan penyelamatan Bank Century seperti yang dikemukakan dalam buku putih Depkeu, sangat tidak tepat. Dalam buku putih itu, kata Hendri, Bank Century dibandingkan dengan Northern Rock Bank di Inggris yang juga dianggap sebagai bank kecil yang kemudian diselamatkan oleh pemerintah Inggris. “Padahal alasan ini salah, karena Northern Rock Bank adalah bank besar — terbesar nomor 8 di Inggris. Northern Rock sama sekali bukan bank kecil,” tandas Hendri. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kondisi Bank Century sangat tidak bisa dibandingkan dengan Northern Rock Bank. “Jangan cari justifikasi dengan membandingkan dengan Northern Rock. Kok seolah-olah cuma ada satu alternatif sebagai asumsi. Seperti zaman IMF saja,” tukas Hendri. Terlebih, masalah yang dihadapi Century ialah terkait persoalan perampokan, bukan soal krisis. Jadi, simpul Hendri, Bank Century bukanlah representasi dari seluruh industri perbankan.

10. Bankir Setujui Bailout karena alasan Sitemik :

Pansus Century Harusnya Minta Pendapat Bankir

sumber : detikcom

Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) meminta Pansus Hak Angket Kasus Bank Century untuk meminta pendapat dari para bankir seputar keputusan bailout Century. Karena bankir lebih merasakan dampak krisis ekonomi global tahun 2008 kemarin. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono ketika ditemui usai acara Dialog Industri Perbankan Tahun 2010 di Gedung LPPI, Kemang,
Jakarta, Senin (25/01/2010). “Seharusnya mereka (Pansus) menanyakan pendapat bankir pada saat penyelamatan tersebut dilakukan, karena yang merasakan dampaknya ya para bankir,” ujarnya. Sigit mengatakan, Pansus tidak hanya memanggil ahli-ahli ekonomi sebagai ahli dalam penyelidikan kasus bailout Bank Century.
Sampai saat ini , Pansus Century DPR sudah memanggil Menteri Keuangan Sri Mulyani, Wapres Boediono, Gubernur BI Darmin Nasution, dan mantan-mantan pejabat BI untuk dimintai keterangan. Tapi tidak ada satupun bankir yang dimintai keterangan. Menurut Sigit, semua bankir jika ditanyakan soal penyelamatan Century, pasti mereka menyetujui bailout yang dilakukan. “Karena ya memang kami yang merasakan langsung bagaimana mengelola bank sewaktu krisis. Apalagi waktu itu yang terjadi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) anjlok 50%, kemudian rupiah juga terdepresiasi 30% yang merupakan nilai terendah sejak krisis tahun 1998,” papar Sigit.

Selain itu, Sigit menambahkan keadaan situasi cukup rawa karena CDS (credit default swap ) yang naik terus dan diikuti oleh yield (imbal hasil) Surat Utang Negara (SUN) yang turun. “Hal-hal seperti ini tidak dirasakan langsung oleh orang-orang yang tidak berhubungan dengan operasi perbankan. Dan mungkin mereka semua tidak ada rasa khawatir,” jelas Sigit. “Jika diminta (Pansus) Perbanas siap-siap saja,” ujar Sigit.

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Responses

  1. is vr good


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: