Oleh: Indonesian Children | Januari 20, 2010

VONIS PENGADILAN KASUS ANTASARI

VONIS PENGADILAN KASUS ANTASARI

Antasari dan Wiliardi Wizar Dituntut Hukuman Mati Mantan ketua KPK Antasari Azhar dan Wiliardi Wizar, terdakwa dalam kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (19/1). Menurut jaksa, Wiliardi didakwa telah mengatur tim eksekutor untuk membunuh Direktur Putra Rajawali Banjaran itu. Tuntutan hukuman mati ini dibacakan Ketua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Iwan Setiawan. “Menjatuhkan tuntutan terhadap terdakwa Wiliardi Wizar dengan pidana mati,” ucap JPU Iwan Setiawan pada persidangan di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta. Menurut jaksa, Wiliardi Wizar dituduh telah menyalahgunakan kekuasaan dengan kekerasan atau ancaman, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 55 (1) ke-1 jo pasal 55 (1) ke-2 pasal 340 KUHP. Terdakwa, lanjut Iwan, juga terbukti secara sah melakukan tindak pidana, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan saksi Sigid Haryo dan Antasari Azhar. Antasari sendiri diberikan waktu selama sepekan untuk pembelaan.

Sumber: Liputan6

Dituntut Mati
Pengacara Wiliardi: Tuntutan Jaksa Terlalu Over Acting

Mantan Kapolres Jakarta Selatan Wiliardi Wizar menggangap tuntutan mati terhadap dirinya over acting. Ia menuding sidang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang menyeretnya sebagai terdakwa direkayasa. “Tuntutannya terlalu over acting. Fakta tidak diterapkan sebagaimana rasio dalam proses sidang,” kata pengacara Wiliardi, Santrawan Paparang, seusai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Selasa (19/1/2010). Santrawan menyatakan, seluruh fakta dalam persidangan telah direkayasa dan tidak sesuai dengan yang sebenarnya. “Tuntutannya itu bukan melihat fakta sebenarnya,” katanya. Sidang Wiliardi akan dilanjutkan lagi pada 28 Januari 2010 dengan agenda pembelaan dari kuasa hukum. “Kalau (pengacara) tidak siap berarti dianggap tidak melakukan pembelaan terhadap tuntutan jaksa,” kata ketua majelis hakim Artha Theresia.

Tuntutan Jaksa Membabibuta

Juniver Girsang, mengaku shock dengan tuntutan hukuman mati jaksa penuntut hukum terhadap Antasari. “Kami shock. Semula kami sangka akan ada tuntutan berat, 15 atau 20 tahun penjara, tapi ternyata tuntutannya hukuman mati,” kata Juniver usai persidangan kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (19/1). Dalam persidangan tersebut jaksa penuntut umum yang dipimpin oleh Cirus Sinaga menuntut hukuman pidana mati terhadap Antasari. Antasari dinilai telah terbukti melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin. “Tuntutan mati oleh jaksa penuntut umum itu membabibuta,” kata Juniver.

Juniver bersikukuh bahwa tuntutan jaksa penuntut umum tidak sesuai dengan fakta persidangan. “Sejumlah saksi dalam persidangan, seperti Wiliardi Wizar, telah mengakui bahwa Antasari tidak terlibat,” kata Juniver. Dalam Berita Acara Pemeriksaan awalnya, Wiliardi memang sempat mengatakan bahwa Antasari yang meminta agar Nasrudin dileyapkan. Namun dalam persidangan, Wiliardi menyatakan mencabut BAP dia dan mengatakan bahwa dia dalam tekanan pada saat pemeriksaan dan pembuatan BAP. “Kalau kita cermati, tuntutan itu hanya memindahkan BAP pada tuntutan. Kalau seperti ini, untuk apa ada sidang? Langsung aja dituntut mati,” ujar Juniver. Dalam berkas tuntutan setebal sekitar 600 halaman tersebut, jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati terhadap Antasari karena dinilai telah terbukti melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin. Nasib serupa juga dialami oleh Mantan Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Wiliardi Wizar dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono. Dalam sidang terpisah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, jaksa penuntut umum menuntut mereka berdua hukuman mati. Antasari Azhar bersama Wiliardi Wizar dan Sigid Haryo Wibisono didakwa melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin. Nasrudin tertembak mati usai bermain golf di Padang Golf Moderland, Cikokol, Tanggerang, 14 Maret 2009.

Sumber : tempointeraktif

Wiliardi Pertanyakan Tuntutan Hukuman Mati

Mantan Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Wiliardi Wizard, mempertanyakan tuntutan hukuman mati dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadapnya dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen. “Sah-sah saja hukuman mati, kalau bisa dibuktikan oleh JPU,” katanya usai persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan terhadapnya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa. JPU menuntut hukuman mati terhadap Wiliardi karena secara sah dianggap telah melakukan pembunuhan tersebut dan dikenai Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP Jo Pasal 340 KUHP. Selain Wiliardi, Antasari Azhar (mantan Ketua KPK) dan Sigit Haryo Wibisono, dituntut hukuman mati, sedangkan terdakwa Jerry Hermawan Lo dituntut 15 tahun penjara. Ia menyatakan persoalannya dari fakta persidangan tidak ada yang menuduhnya memerintahkan dan diperintahkan untuk membunuh Nasruddin Zulkarnaen. “Kan fakta persidangan tidak ada yang menuduh seperti itu, kok jaksa menuntut itu,” katanya.

Kendati demikian, dia menyerahkan seluruhnya kepada majelis hakim yang akan memutuskan perkara dirinya tersebut. “Kita serahkan kepada majelis hakim yang akan memutuskannya,” katanya. Sementara itu, kuasa hukum Wiliardi Wizard, Sastrawan T Paparang, menyatakan, jaksa terlaku bernafsu menuntut kliennya itu. “Over acting putusan jaksa itu, berdasarkan fakta sesungguhnya Wiliardi harusnya bebas,” katanya.

Sumber : antara

Wiliardi: Hukuman Mati Sah Saja, Kalau Bisa Dibuktikan

Mantan Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Wiliardi Wizard, mempertanyakan tuntutan hukuman mati oleh jaksa penuntut umum (JPU) terhadap dirinya terkait pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen. “Sah-sah saja hukuman mati, kalau bisa dibuktikan oleh JPU,” ujarnya seusai persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan terhadap dirinya, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010). Sebelumnya, JPU menuntut hukuman mati terhadap Wiliardi Wizard karena dianggap secara sah telah melakukan pembunuhan tersebut dan dikenai Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP Jo Pasal 340 KUHP. Selain Wiliardi, Antasari Azhar (mantan Ketua KPK) dan Sigit Haryo Wibisono, juga dituntut hukuman mati, sedangkan terdakwa Jerry Hermawan Lo dituntut 15 tahun penjara. Ia menyatakan persoalannya dari fakta persidangan tidak ada yang menuduh dirinya memerintahkan dan diperintahkan untuk membunuh Nasruddin Zulkarnaen.

“Kan fakta persidangan tidak ada yang menuduh seperti itu, kok jaksa menuntut itu,” jelasnya. Kendati demikian, ia menyerahkan seluruhnya kepada majelis hakim yang akan memutuskan perkara tersebut. “Kita serahkan kepada majelis hakim yang akan memutuskannya,” katanya. Sementara itu, kuasa hukum Wiliardi Wizard, Sastrawan T Paparang, menyatakan, tuntutan jaksa terhadap kliennya tersebut, terlalu bernafsu.”Dan over acting tuntutan jaksa itu, berdasarkan fakta sesungguhnya Wiliardi harusnya bebas,” tandasnya

Sumber : berita 8

Wiliardi Diminta Mengaku

Istri Wiliardi Wizard, Novarina, mengatakan, ada perubahan dalam berita acara pemeriksaan suaminya terkait pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Perubahan itu berupa keterangan mengenai perintah membunuh Nasrudin. Nova menyampaikan hal itu dalam sidang kasus pembunuhan berencana Nasrudin dengan terdakwa mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/12). Ia dihadirkan sebagai saksi oleh penasihat hukum Antasari. Wiliardi kini juga menjalani persidangan di PN Jakarta Selatan sebagai terdakwa dalam kasus yang sama. Menjawab pertanyaan penasihat hukum Antasari, antara lain Ari Yusuf Amir, Maqdir Ismail, dan Hotma Sitompoel, Nova mengatakan, pada berita acara pemeriksaan (BAP) tertanggal 29 April 2009, suaminya menjelaskan, ia kenal Antasari dan Sigit Haryo Wibisono. Namun, pada BAP tertanggal 30 April 2009 ada keterangan soal perintah untuk membunuh. Nova mengatakan, pada 30 April 2009 pagi ia ke rumah tahanan Mabes Polri untuk menjenguk Wiliardi yang ditahan. Namun, ia dilarang masuk sebab Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bertemu Wiliardi. Saat itu, Wakil Kepala Bareskrim Polri dijabat Inspektur Jenderal Hadiatmoko. Sepeninggal Hadiatmoko, Wiliardi memberikan penjelasan kepada Nova. ”Kata suami saya, ada perintah dari atasan untuk mengakui adanya perintah Antasari membunuh Nasrudin. Padahal, kata suami saya, dia tidak melakukan itu,” katanya. Nova juga mengaku, ia pernah berada dalam ruangan pemeriksaan Wiliardi. Saat itu ada Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iriawan yang juga teman seangkatan Wiliardi. ”Saya tanya, ’Apa ini’? Lalu Direktur bilang, ’Yang sabar, targetnya Antasari. Pokoknya nanti kita bantu’,” ujarnya. Lima hari sebelum berkas perkara dinyatakan lengkap, Nova ditelepon Wiliardi yang memintanya datang ke Mabes Polri karena ada berita gembira. Nova bersama Wiliardi dan Iriawan ke Mabes Polri, bertemu Kepala Bareskrim Polri yang saat itu dijabat Komisaris Jenderal Susno Duadji. Susno mengatakan, Wiliardi tidak akan dipecat. ”Saya yang penting kalau Antasari bebas, kamu juga bebas. Saya tidak mau Antasari bebas, kamu malah dihukum berat,” kata Nova mengutip kata-kata Susno kepada Wiliardi ketika itu. ”Saat itu, suami saya mengatakan, ’Demi Allah, tidak pernah mendapat perintah dari Antasari’,” ujar Nova.

Tim jaksa penuntut umum yang diketuai Cirus Sinaga menanyakan apakah Nova kenal dengan Jerry Hermawan Lo. Jerry juga didakwa terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Nasrudin. ”Saya kenal sejak tahun 1998, dikenalkan suami saya. Kami kadang saling mengunjungi ke rumah,” ujar Nova. Penasihat hukum Antasari juga menghadirkan Roy Haryanto, ahli senjata dan amunisi. Roy adalah atlet tembak yang menjadi pemasok untuk tim menembak TNI Angkatan Darat. Penasihat hukum meminta jaksa menunjukkan kembali barang bukti. Penasihat hukum dan jaksa sempat saling bantah soal barang bukti. Penasihat hukum menilai, serpihan peluru yang dihadirkan saat itu berbeda dengan yang ditunjukkan pada sidang sebelumnya. Ketua Majelis Hakim Herri Swantoro sampai mengetukkan palunya, meminta penasihat hukum dan jaksa tenang. Roy menilai, penembakan terhadap Nasrudin tak mungkin dilakukan orang yang amatir. Penembakan dilakukan orang yang melaju di sepeda motor.

Sumber ; kompas

Kuasa Hukum Antasari Curigai Perubahan Penting BAP Wiliardi

Juniver Girsang, kuasa hukum terdakwa pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Antasari Azhar, mencurigai perubahan signifikan antara BAP Wiliardi Wizard pada 29 dan 30 April 2009. “Kami melihatnya ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan berubahnya secara signifikan BAP WW antara tertanggal 29 dan 30 April,” ujar Juniver di sela-sela skors makan siang sidang tersebut di PN Jaksel pada Kamis (19/11).

Perubahan yang dimaksud Juniver tersebut adalah, pada BAP 29 April 2009, sama sekali tidak disebut-sebut bahwa ketua KPK saat itu, Antasari Azhar, berkaitan dengan usaha penghilangan nyawa Nasruddin. “Namun, di BAP 30 April 2009, tiba-tiba nama Antasari mendominasi dan dihubungkan dengan usaha pembunuhan Nasrudin,” ungkapnya. Ditanyakan kepada penyidik Polri Komisaris Polisi Jurius Saragih yang di sidang Kamis ini dihadirkan sebagai saksi, Juniver menyatakan ketidakpuasannya. “Kami tanyakan apakah Jarius yang saat itu sebagai penyidik WW merasa curiga tiba-tiba masuk nama Antasari yang saat itu ketua KPK, Jarius mengatakan ketidaktahuannya,” ungkap Juniver. Juniver berharap majelis hakim dapat menilainya secara bijaksana. “Kami menyerahkan semua kepada majelis hakim. Semoga majelis hakim tidak terlalu mendengarkan opini yang berkembang di luar persidangan. Majelis hakim harusnya hanya mempertimbangkan keterangan yang dilakukan di persidangan,” ujar Juniver tanpa mau menjawab maksud dari opini yang berkembang di luar tersebut.

Sumber : mediaindonesia
KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: