Oleh: Indonesian Children | Januari 25, 2010

PANSUS CENTURY dan AHLI HUKUM

PANSUS CENTURY dan AHLI HUKUM : Beda Pendapat 2 ahli dan Pemaksaan Pendapat Anggota Pansus

Kembali Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPR untuk Bank Century akan para ahli. Saat ini yang giliran mendapatkan pemanggilan adalah dua pakar hukum tata negara. Mereka adalah Erman Rajagukguk dan Ahmad Syarifuddin Natabaya. Keduanya akan dimintai pendapat soal keabsahan bail out Rp 6,7 triliun untuk bank yang kini bersalin nama Bank Mutiara.

Keduanya menguasai masalah hukum, yakni ketatanegaraan. Disitu anggota pansus akan menerima informasi tentang landasan hukum suatu proses pengambilan keputusan. Terkait dasar hukum bail out, apakah valid atau tidak.
Keterangan Erman dan Ahmad amat penting guna membantu Pansus menyikapi kasus Bank Century. Jangan sampai hasil rekomendasi Pansus salah dan menyalahi wewenang. Informasi soal dasar hukum bail out harus dipahami dengan jelas oleh para anggota pansus. Jangan sampai nanti kesimpulan Pansus dipermasalahkan.
Namun tampaknya sebagian anggota Pansus masih memaksakan pendapat dan opininya dengan para ahli dengan mempermasalahkan opini para ahli itu. Bahkan terdapat anggota Pansus yang menyindir salah seorang ahli hukum tersebut dalam akhir debatnya dengan sindiran, “Terima kasih bapak Profesor, yang berilmu dan terpelajar. Sempat terjadi skorsing sidang saat terjadi kisruh tentang itu. Akhirnya ketua Sidang menegaskan bahwa, pendapat saksi ahli hendaknya diterima untuk dijadikan wacana bukan didebat. Seharusnya memang para anggota Pansus hanya mendengarkan dan menyimak bukan malah berdebat dan memaksakan pendapatnya kepada para ahli tersebut.

Beda Pendapat Tentang Uang Negara

Dua pakar hukum tata negara yang dimintai keterangan Panitia Khusus (Pansus) Bank Century berbeda pendapat soal apakah dana talangan (bail out) Rp 6,7 trilun yang dikucurkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk Bank Century merupakan uang negara atau bukan.  Ahmad Syarifudin Natabaya menyimpulkan dana LPS adalah keuangan negara. Sedangkan Erman Rajagukguk menyatakan uang LPS bukanlah uang negara. “Kita harus punya bijaksana, kekayan LPS uang negara yang dipisahkan dan batu pijaknya adalah Undang-undang,” kata Ahmad di hadapan Pansus Bank Century di Gedung DPR Jakarta. Pasal 1 ayat 1 UU Keuangan Negara dan Pasal 2 huruf G menerangkan, keuangan negara meliputi surat berharga, piutang dan lain-lain. Karena itu, dana yang digunakan LPS untuk Bank Century adalah bagian Keuangan Negara.

Erman menuturkan, modal sebesar Rp 4 triliun yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah keuangan LPS. Sementara dana yang digunakan menyelamatkan Bank Century adalah premi yang diterima LPS dari bank. “LPS bukan keuangan negara, karena tidak bisa mengalahkan doktrin hukum universal. Bahwa badan hukum punya keuangan sendiri,” jelas Erman.

Tak Perlu Panggil Presiden

Dua pakar hukum tata negara itu, berpendapat Panitia Khusus (Pansus) Bank Century tak perlu memanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pasalnya, Presiden sudah memandatkan penyelesaian skandal ini kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

“Jadi Presiden tidak perlu dipanggil,” ujar Erman di hadapan Pansus Century di Gedung DPR Jakarta, Senin (25/1) siang. Menurut dia, keterangan Presiden di media massa sudah cukup untuk digunakan sebagai data oleh Pansus bank yang berganti nama Bank Mutiara.

Senada dengan Erman, Ahmad mengemukakan, sesuai Pasal 6 Ayat 1 dan 2 Undang-undang Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003, Menkeu bisa mengelola kekayaan negara yang dipisahkan. Jadi, soal Century yang diduga merugikan negara sebesar Rp 6,7 triliun, Presiden tidak perlu dipanggil. “UU menjelaskan bahwa hal itu diserahkan ke Menkeu,” ujar Ahmad.
 

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: