Oleh: Indonesian Children | Januari 28, 2010

DEMO 100 HARI SBY TIDAK FOKUS DAN TIDAK CERDAS

DEMO 100 HARI SBY, TIDAK FOKUS DAN TIDAK CERDAS

Demonstrasi besar-besaran telah dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2010 oleh berbagai lapisan elemen masyarakat, mahasiswa dan kelompok tertentu. Demo ini dilakukan untuk mengkritisi hasil 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Melihat logika politik yang dibangun untuk melatarbelakangi filosofi demo itu tampaknya tidak fokus pada suatu masalah dan tidak cerdas dalam memilih momen atau tema. Tetapi terkesan hanya sekedar menghujat dan ingin menurunkan SBY.

Banyak yang mengkawatirkan demo yang berlangsung 28 Januari akan terjadi kerusuhan, dan untuk mengantisipasi dugaan tersebut ribuan polisi dipastikan akan dikerahkan untuk mengamankan berlangsungnya demo yang direncanakan berpusat di istana Presiden. Tetapi kekawatiran tersebut tidak terjadi meski di berbagai daerah timbul perilaku anarkis dari sebagian pendemo.

Jatuhkan SBY ?
Beberapa ahli berpendapat bahwa demo ini dianggap sebagai demonstrasi biasa. Demo ini tidak akan menggoyahkan apalagi menjatuhkan pemerintahan SBY. Demo akan menggoyahkan pemerintah, kalau diikuti ratusan ribu massa yang didukung pemberitaan media yang masif. Pemerintah akan jatuh, jika jutaan orang tumpah ruah di jalanan untuk memprotes pemerintahan SBY. Jika itu terjadi, aparat keamanan tidak akan mampu mengatasi aksi demonstrasi tersebut. Ekonomi akan lumpuh, dan akan terjadi chaos sosial. Peluang terjadinya aksi semacam itu sangat kecil karena menghadirkan ratusan ribu demonstran apalagi jutaan orang, tidak mudah. Rencana demo besar-besaran yang dilakukan mahasiswa maupun elemen masyarakat di beberapan kota di Indonesia yang mengkritisi program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono, diperkirakan tidak akan dapat melengserkan SBY. Tampaknya tidak ada ada pemakzulan terhadap SBY, karena situasi ekonomi saat ini relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lainnya. Indikatornya perekonomian masih stabil. Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan juga masih bagus. Meskipun akhir-akhir ini media massa mengekspos besar-besaran kasus Bank Century, hal itu tidak membuat pemerintahan SBY goyang. Sekarang ini masyarakat lebih pintar menilai. Kecuali masyarakat mengalami frustasii atau kecewa luar biasa, seperti harga gula, harga beras atau BBM mengalami kenaikan luar biasa yang dinilai dapat memberatkan masyarakat, maka akan bisa jatuh. SBY bisa lengser, jika para menteri pecah dan situasi di jajaran kabinet sudah tidak solid lagi. Presiden bisa jatuh, kalau menterinya pecah, angkatan bersenjatanya pecah. Kalau kekuasaan itu masih mengerucut, pemerintah itu masih kuat. Rezim yang kuat, tidak bisa dijatuhkan dengan parlemen jalanan atau aksi demo. Rezim Soeharto lengser dari presiden, karena banyak menteri yang mengundurkan diri dan angkatan juga terpecah. Dari survey, fakta dan opini yang ada, kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah masih sekitar 70 persen.

Aksi demo besar-besaran yang akan dilakukan sebagian mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya adalah perilaku wajar dalam alam demokrasi ini. Namun demonstrasi itu oleh pihak pemerintah dianggap sudah di luar kewajaran dalam berdemokrasi, karena jelas-jelas berniat menurunkan SBY dan Wapres Boediono dari jabatannya. Demonstrasi adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi, dan karena itu seharusnya berjalan dengan ketentuan dan prinsip demokrasi serta tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dan etika yang berlaku.

Tidak Fokus dan Tidak Cerdas
Secara umum fenomena demonstrasi ini jadi pembelajaran berpolitik dan berdemokrasi yang sehat dan cerdas. Bila dicermati 100 hari SBY sebenanya mungkin target normal suatu management atau sebuah sasaran antara dan bukan merupakan hasil akhir. Tetapi momentum ini digunakan secara berlebihan oleh kelompok tertentu. Bayangkan pada umumnya para pendemo berharap sangat banyak dalam 100 hari itu. Berbagai isu sosial, ekonomi dan politik dengan mengatasnamakan rakyat diangkat tidak dengan cerdas dan tidak logis. Berbagai kelompok beragam menuntut berbagai hal derita rakyat. Mulai gaji buruh, korupsi, gizi buruk, bank century, harga naik, kemiskinan, lingkungan hidup, harga beras, bahkan mobil dinas pejabat dipermasalahkan. Fokus utama demo tersebut tampak tidak fokus dengan satu masalah 100 hari program SBY. Justru fokus utama yang terlihat adalah upaya menjatuhkan kepemimpinan SBY tanpa menyentuh subtansi yang pokok.

Program 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono tidak bisa menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan pemerintahan, karena program 100 hari hanyalah langkah awal dari program pemerintahan selama lima tahun. Padahal para pendemo juga mungkin belum secara langsung mengetahui dengan cermat parameter keberhasilan 100 hari. Lantas bagaimana mungkin mosi tidak percaya dari hanya ribuan orang kepada pemerintahan baru yang dipilih secara demokratis oleh lebih dari 70 juta pemilih. Tentu saja fenomena itu tidak mengikuti kaidah dan prinsip demokrasi.

Melihat relevansi gugatan para pendemo dengan moment 100 hari tersebut tampaknya banyak kepentingan lain yang menjadi sasaran utama. Meskipun berulang para tokoh demo menampik, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sasaran akhir dan utama adalah menjatuhkan kredibilitas dan merongrong SBY. Fakta ini jelas terlihat dengan yel-yel dan spanduk turunkan SBY dan pembakaran foto SBY.

Gerakan sistemik di seluruh negeri ini bila dicermati tampaknya terdapat kekuatan besar dan terorganisir untuk mendisain skenarionya. Berbagai sumber intelejen menyebutkan penggagas gerakan demo pada hari Antikorupsi Internasional tanggal 9 Desember ikut banyak berperanan. Dengan kegagalan pengerahan masa saat 9 Desember itu, tampaknya termotivasi untuk melakukan hal yang sama dengan secara terencana dan terorganisir untuk melakukan demo yang lebih besar. Buktinya ada gerakan sistemik dan dengan modus yang sama bergerak diperbagai kota dan daerah. Seperti gerakan memaksa menerobos barikade untuk masuk kantor gubernur, kantor DPRD bahkan beberapa pendemo merencanakan menduduki istana. Melakukan gerakan dan tipikal yang sama dengan karakteristik menutup jalan, membakar ban bekas meski hanya dilakukan sedikit kelompok masa. Diberbagai daerah juga didominasi oleh bendera merah yang bisa diduga siapa yang bergerak dibelakangnya.

Beberapa dugaan bahwa demo ini juga didukung oleh kelompok besar dan dana besar, didapatkannya kelompok bayaran. Bahkan anak-anak dilibatkan dalam demo itu demi uang. Dalam berita yang dilansir di Metrotv jumat pagi (29/1/10), dilaporkan anak berusia 14 tahun memakai baju pocong dan dibayar Rp 20.000,- untuk mengikuti acara demo itu.  Ketika ditanya maksud dan tujuan demo, ternyata anak tersebut mengaku hanya untuk senang-senang. Yang menyedihkan  usia anak mendominasi kelompok tersebut. Bisa saja eksploatasi anak ini dilakukan karena biaya untuk demo pada anak lebih murah dibandingkan orang dewasa.

Fakta yang juga terjadi saat demo tersebut ternyata tidak seperti yang diekpos secara vulgar oleh media seminggu sebelum peristiwa. Media masa dengan kepiwaiannya juga secara tidak disadari memprovokasi gerakan demokratis yang tidak sehat. Puluhan ribu bahkan ratusan ribu yang digembar-gemborkan ternyata tak terjadi. Bahkan beberapa jurnalis, mengatakan jumlah demonstrans saat 28 Januari tidak lebih banyak dibanding saat demo anti korupsi 9 Desember. Padahal demonstrasi tanggal 9 Desember juga dianggap gagal karena tidak banyaknya pendukung seperti direncanakan.Saat kejadian ternyata pasar uang dan pelaku ekonomi tidak terpengaruh dengan gejala menguatnya nilai rupiah dan naiknya IHGS di pasar modal.

Tetapi apapun spekulasi yang muncul tampaknya masyarakat sudah mulai pintar untuk mengenali setiap perilaku dan gerakan politik individu atau kelompok tertentu. Pentolan pelaku hanya kelompok atau individu yang sama dan orangnya hanya itu-itu saja.

Pembelajaran Demokrasi dan Politik

Demo 100 hari SBY jadi pembelajaran bagi para pelaku politik dan demokrasi di negeri ini untuk bertindak sportif, cerdas dan tidak meninggalkan etika politik, hukum dan budaya. Rakyat nantinya akan sudah mulai pintar bahwa apakah memang benar mereka dibela pendemo atau hanya demi kepentingan individu dan kelompok.
Demokrasi di Indonesia tumbuh dengan ideal dan berguna bagi rakyat jika dijalankan secara konstitusional dan tidak boleh memaksakan kemauan, pikiran dan kehendak pribadi dan kelompok.  Sebaiknya para oposan bertugas untuk mengkritisi pemerintah bukan sekedar menghujat dan untuk memaksakan kehendaknya. Kaum oposan sebaiknya memberi kesempatan pada SBY untuk menikmati kemenangan Pemilu dan melakukan tugas yang diembankan rakyat. Kekalahan kaum oposan saat pemilu jangan dijadikan alasan untuk selalu menggoyang pemerintahan pilihan rakyat.

Pelajaran lain adalah pendemo sebaiknya berlaku santun dengan tidak menghujat, melecehkan simbol bangsa, anarkis atau mengganggu kepentingan umum. Dalam demonstrasi 28 Januari tampak tindakan anarkis dari pendemo dengan melempar petugas, membakar foto kepala negara, mencoret cat ke mobil, membakar ban bekas, menutup jalan bahkan menghentikan dan memukul-mukul mobil plat merah yang saat itu terjadi di berbagai daerah.

Idealnya demonstrasi itu sebagai sumber inspirasi bagi SBY untuk bekerja lebih giat lagi bagi rakyatnya. Pendemo dan siapapun dibelakangnya harus sadar bahwa SBY adalah presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Bila itu dipungkiri maka berarti para pendemo hanya sekedar mengangkat rakyat demi komoditas politik semata. Pendemo yang demokratis dan beretika akan menjadi sumber inspirasi dan motivator bagi kekurangan dan pekerjaan yang belum terselesaikan bagi SBY dan pemerintahanya. Tetapi sebaliknya demonstrasi yang anarkis, tidak cerdas dan tidak fokus menunjukkan suatu pemaksaan kepentingan individu atau kelompok dan sulit untuk mendapat simpati rakyat yang diperjuangkannya.

Dr Widodo Judarwanto SpA
KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: