Oleh: Indonesian Children | Januari 30, 2010

PLEDOI ANTASARI : DALAM KASUS SIDANG PEMBUNUHAN NAZARUDIN

PLEDOI ANTASARI : DALAM KASUS SIDANG PEMBUNUHAN NAZARUDIN

 

 

Sidang Antasari
Pledoi Pengacara: Rhani Tak Kenal Malu, Tak Senonoh & Langgar Agama


 

Tim pengacara Antasari Azhar menilai Rhani Juliani dalam kehidupanya tidak mengenal malu, tidak senonoh, melanggar hukum dan agama. Karena itu, mereka meminta agar hakim tidak mempertimbangkan kesaksian Rhani.  “Saksi tidak dapat didengar keterangannya dan tidak dapat digunakan sebagai alat bukti. Karena menurut pasal 185 KUHAP, cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang dapat mempengaruhi dapat atau tidaknya keterangan diterima,” kata salah satu pengacara Antasari, Hotma Sitompoel.

Hal itu dikatakan dia saat membaca pledoi dalam sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (28/1/2010). Hotma mengatakan, Rhani di dalam persidangan mula-mula mengaku sebagai istri ketiga almarhum Nasrudin. Namun kemudian terbukti Rhani tidak melakukan perkawinan secara sah menurut hukum yang berlaku. Rhani juga mengaku sudah ‘bercerai’ dengan Nasrudin, namun hidup kembali bersama direktur PT Putra Rajawali Banjaran itu.”Pernikahannya hanyalah secarik surat di bawah tangan yang dibuat korban sebagai pengakuan telah menikah dengan saksi Rhani. Sehingga kalau toh ada perceraian, menurutnya, itu pun dibuat di atas secarik kertas,” ungkap Hotma.

Sebagai tambahan, lanjut pengacara berkacamata tersebut, Rhani dengan pongah mengaku-aku sebagai istri ketiga Nasrudin tanpa rasa bersalah terhadap istri pertama dan kedua pengusaha itu. “Rhani telah mengetahui bahwa korban telah beristri namun tetap bersedia secara sembunyi-sembunyi menjadi istri siri, simpanan dari korban,” jelas Hotma.
 Sebagai istri simpanan, menurut Hotma, Rhani di dalam persidangan terbukti sering membohongi korban. Berbohong rupanya menjadi kebiasaan bagi bekas caddy padang golf Modern Land, Tangerang, Banten itu. “Kami ingatkan, dia bohongi rekan-rekan kerjanya bahwa korban bukanlah suaminya melainkan sebagai langganan bermain golf,” bebernya. Yang mengejutkan, masih menurut Hotma, Rhani tanpa malu mengaku telah melakukan aborsi janin hasil hubungan gelap dengan seseorang yang bukan suaminya. Namun saat ditanya lebih lanjut, Rhani bungkam.

Terhadap keterangan Rhani atas Antasari, Hotma mengatakan, Rhani juga banyak melakukan fitnah serta berbohong. Hal itu misalnya terkait peristiwa di Hotel Gran Mahakam pada Mei 2008. “Keterangan saksi Rhani tidak pantas di-BAP penyidik dan dimasukkan dalam berkas yang digunakan oleh JPU karena fitnah yang dibuat untuk merusak nama baik, menimbulkan stigma negatif bagi terdakwa,” pungkas Hotma.

Materi Pledoi Sudah Siap, Antasari akan Bikin Kejutan

Terdakwa kasus pembunuhan Direktur PRB Nasrudin Zulkarnaen, Antasari Azhar, akan membacakan pledoi, Kamis (28/1/2010). Saat ini, materi pledoi sudah siap. Antasari akan menyampaikan kejutan-kejutan. Tunggu saja! “Saat ini materi pledoi Pak Antasari sudah siap, tinggal dijilid,” kata kuasa hukum Antasari, Ari Yusuf Amir, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (27/1/2010).

Pledoi disusun sendiri oleh Antasari. “Kami selaku kuasa hukum hanya membantu dan memberi masukan-masukan,” kata Ari. Dalam pledoi nanti, Antasari akan menyampaikan hal-hal yang selama ini belum pernah disampaikan di persidangan atau kepada publik. Namun, hal dan kejutan baru apa yang akan disampaikan Antasari, Ari tidak mau membocorkannya. Sehari menjelang pembacaan pledoi, Antasari dalam kondisi sehat, segar bugar. “Pak Antasari sehat, sangat tegar,” ujar dia.

Kuasa hukum Antasari juga menyiapkan pledoi. Karena itu, sepekan terakhir, tim kuasa hukum selalu menggelar rapat hingga tengah malam. “Sepekan terakhir begadang terus,” kata dia. Menurut Ari, perlu pemikiran mendalam dalam membuat pledoi, karena dalam tuntutannya, jaksa penuntut umum tidak melihat fakta dan bukti-bukti yang ada. Bagi Ari, kasus Antasari ini bukan kasus pidana biasa. Dalam sidang di PN Jakarta Selatan Selasa 19 Januari 2010 lalu, jaksa menuntut Antasari dengan hukuman mati. Tuntutan ini sangat mencengangkan kuasa hukum, karena tidak ada bukti kuat bahwa Antasari terlibat dalam kasus ini.

 

Antasari Masukkan Testimoni Susno dalam Pledoi

Tersangka dugaan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Antasari Azhar hari ini, Kamis, (28/1) membacakan pledoinya. Dalam pledoinya, Antasari memasukan testimoni Susno Duadji terkait adanya pemaksaan penyidikan kasus pembunuhan Nasrudin.

“Iya dan paling tidak kesaksian beliau (Susno) kemarin juga kita gunakan di dalam pembelaan hari ini,” ujar kuasa hukum Antasari Machdir Ismail di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ia mengatakan, mantan ketua KPK itu akan membacakan pledoinya yang berjumlah 622 halaman. “Jumlahnya untuk pledoinya saja 622 halaman, ditambah lampirannya ada sekitar 700-an halaman,” katanya.

Sebelumnya, dalam dokumen testimoni mantan Kabareskrim Susno Duadji yang diserahkan ke Pansus Century. Dalam dokumen itu, Susno menuliskan, tim yang dibentuk Kapolri Bambang Hendarso Danuri tak menemukan bukti untuk mengungkap motif pembunuhan Nasrudin. Berikut tulisan lengkapnya; Awal mulai Penyidikan kasus pimpinan KPK dimulai dari keinginan Kapolri untuk mengungkap apa motif sebenarnya pembunuhan NASRUDIN, kemudian Kapolri menunjuk Wakabereskrim IRJEN POL Drs. HADIATMOKO mengkoordinir penyelidikan dan Penyidikan motif pembunuhan NASRUDIN, kemudian IRJEN POL Drs. HADIATMOKO membentuk 5 (lima) Tim.

Setelah beberapa bulan kemudian kelima Tim tersebut bekerja tidak menemukan bukti untuk mengungkap motif pembunuhan, namun Kapolri sudah terlanjur melaporkan kepada Presiden tentang adanya kejahatan suap yang melibatkan Pimpinan KPK sebagai motif terjadinya pembunuhan NASRUDIN. Kapolri merasa malu kalau laporannya tersebut tidak bisa dibuktikan, untuk itulah Kapolri memerintahkan Tim Penyidik yang sudah dibentuk untuk mencari kasus yang dapat dibuktikan guna menjerat pimpinan KPK. Selanjutnya Tim Penyidik mendapat kasus sebagaimana yang bergulir saat ini yang menyebabkan kontroversi. Penyidikan sepenuhnya di bawah kendali Kapolri.

Kabareskrim tidak diberi peran signifikan kecuali atas perintah Kapolri. Anehnya TPF atau Tim 8 menuntuk Kabareskrim KOMJEN POL SD dinonaktifkan sebagai pertanggung-jawaban Penyidikan Pimpinan KPK, CH dan BSR. Adilkah ini ??? Seorang Bhayangkara sejati tidak akan mempersoalkan adil atau tidak, dan hanya berharap tidak terjadi pada Bhayangkara yang lain.

 

KORAN DEMOKRASI INDONESIA

http”//korandemokrasiindonesia>wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: