Oleh: Indonesian Children | Februari 2, 2010

NASIONAL DEMOKRAT, BENARKAH SEKEDAR GERAKAN MORAL ?

NASIONAL DEMOKRAT, GERAKAN MORAL ATAU GERAKAN POLITIK

Deklarasi organisasi kemasyarakatan (ormas) bernama Nasional Demokrat (ND) telah dilakukan dengan megah pada hari Senin (1/2/10). Deretan tokoh nasional terlihat mendominasi sebagai deklarator. Para deklarator berulang-ulang menegaskan bahwa ormas ini bukan partai politik dan tidak akan menjadi partai politik. Namun, sebagian pengamat mengatakan, melihat latar belakang sebagian besar para deklataror dan inisitaornya maka gerakan ini adalah embrion parpol. Apakah filosofi dan roh ormas ini nantinya sekedar gerakan moral atau gerakan politik

Deklarasi dihadiri oleh para deklarator dari berbagai unsur dan latar belakang. Antara lain, Anies Baswedan, Sultan Hamengku Buwono X, Syafii Maarif, Khofifah Indarparawansa, Siswono Yudohusodo, Ferry Mursyidan Baldan, Syamsul Mua’rif, Enggar Tyasto Lukito dan Surya Paloh sebagai sebagai pendiri utama. Dari nama-nama ini, politisi Partai Golkar yang tidak diakomodir oleh Aburizal Bakrie dalam kepengurusan DPP Partai Golkar 2009-2014 tampak mendominasi. Ada juga anggota DPR dari berbagai partai politik yang terlibat. “Para deklarator berasal dari lintas profesi seperti budayawan, akademisi, termasuk anggota DPR dari berbagai fraksi. Ada Akbar Faizal dari Hanura, Budiman Sudjatmiko dari FPDIP dan lainnya.

Diharapkan ormas ini murni sebagai wadah gerakan sosial kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengimbangi gerakan politik dari partai. Tujuan utamanya untuk membangun komitmen bersama untuk berkontribusi sebesar-besarnya menciptakan kesejahteraan rakyat. Ini perwujudan kebebasan berserikat dan di luar gerakan politik. Gerakan politik itu perlu perimbangan gerakan moral, biar tidak melenceng.
Sempalan Golkar

Dua tokoh senior Partai Golkar Surya Paloh dan Sultan Hamengkubuwono akan mendeklarasikan organisasi kemasyarakatan (ormas) Nasional Demokrat (ND). Disinyalir ormas ini nantinya akan dipersiapkan menjadi partai politik yang akan ditarungkan dalam pemilu 2014 mendatang.

Namun, ada anggapan, gerakan yang juga digawangi politisi Golkar pro Paloh, menjadi “sempalan” dari partai berlambang pohon beringin itu. Sekjen Partai Golkar Idrus Marham menanggapi santai manuver Paloh. “Alhamdulillah. Kenapa Alhamdulillah? Kami selalu berpikir positif melihat segala sesuatunya. Ini bagus sehingga kita berlomba-lomba untuk berbuat maju bagi bangsa. Setiap warga negara berhak berserikat,” kata Idrus, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/2/2010). Ia menepis anggapan bahwa gerakan tersebut merupakan aksi dari ketidakpuasan barisan pro Paloh terhadap hasil Munas Golkar yang beberapa waktu lalu dimenangkan oleh Aburizal Bakrie. “Tidak ada perpecahan. Seluruh anak bangsa adalah kemitraan. Golkar itu kan kumpulan elemen masyarakat. Wajar jika ada perbedaan pendapat,” kata Idrus lagi.

Menurut salah seorang anggota Dewan Penasehat Partai Golkar, diperkirakan partai ND tidak akan berbeda jauh dengan Golkar. “Boleh-boleh saja,” ujar Anggota Dewan Penasehat Partai Golkar, Sharif Cicip Sutarjo, kepada wartawan usai menghadiri acara Deklarasi Calon Bupati Karangasem di Bali, Minggu (31/1/2010). Namun, jika memang nantinya ormas ND akan dibentuk menjadi sebuah partai politik, Cicip menegaskan, kedua tokoh tersebut harus meninggalkan Golkar. “Tapi nanti kalau akan jadi partai, tidak boleh menjadi Golkar lagi,” tegasnya. Dikatakan Cicip, dirinya tidak bisa memperkirakan arah aliran ormas tersebut jika nantinya memang akan dibentuk menjadi partai. Tapi, menurut dia, bila dilihat dari konsep nama partai sepertinya tidak akan berbeda jauh dengan Golkar. “Saya tidak tahu persis, tapi kan konsepnya tidak jauh dari nasional kerakyatan, sepertinya tidak jauh-jauh dari Golkar,” tutupnya.

Embrio Partai Politik

Pengamat menilai pembentukan organisasi massa Nasional Demokrat  mantan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar Surya Paloh sulit dilepaskan dari motif politik. Nasional Demokrat diprediksi sebagai embrio dari partai politik yang akan didirikan Paloh untuk bertarung di arena pemilu 4 tahun mendatang. Meski demikian, Paloh menyatakan pendirian perhimpunan tersebut hanya untuk mengakomodasi aksi-aksi sosial. “Perhimpunan Nasional Demokrat (PND) testing the water, uji pasar terhadap kemungkinan ormas yang didirikan Surya Paloh untuk membuat partai di 2014. Paloh sepertinya tidak ingin tergesa-gesa mendeklarasikan partai baru. Kalau uji pasar positif, bukan tidak mungkin PND akan bermutasi menjadi parpol baru,” kata pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, saat dimintakan analisisnya, Senin (1/2/2010), kepada Kompas.com. Arah mutasi menjadi kekuatan politik baru, dibaca Burhan, melalui lambang perhimpunan yang didominasi warna biru dan kuning. Menurut dia, Paloh mengarahkannya untuk mencuri basis dukungan partai asalnya, Partai Golkar, dan partai yang berjaya di dua pemilu, Demokrat. “Ceruk pasarnya hampir sama, pluralis, keagamaan moderat, dan nasionalis. Mengambil ceruk pasar Golkar sangat dimungkinkan, karena para aktivis PND juga diambil dari Golkar. Nama ‘Demokrat’ dan warna biru saya baca sebagai bentuk antisipasi terhadap pertumbuhan Demokrat. Jadi, sepertinya yang terancam dengan kehadiran PND ini Golkar dan Demokrat,” ujar Burhan. Akan tetapi, menurutnya, sebagai sebuah perhimpunan baru, Nasional Demokrat akan menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya, belum tentu mudah diterima oleh kalangan Golkar sendiri. Tantangan berikutnya, perilaku pemilih Indonesia masih terjebak dalam karakter “tokohisme”. Selama Nasional Demokrat belum bisa menelurkan tokoh-tokoh alternatif yang mampu menarik simpati publik, maka keberadaan perhimpunannya hanya sekadar menjadi “penggembira”.

“Bagaimanapun juga, SBY masih di atas angin. Kalau PND bisa melahirkan tokoh alternatif, mungkin bisa sedikit berkibar. Tapi kalau hanya mengandalkan tokoh-tokoh lama, agak sulit,” ungkapnya. Burhanuddin tak melihat Nasional Demokrat sebagai wujud “sakit hati” Paloh atas kekalahannya dari Aburizal Bakrie pada Munas Golkar Oktober 2009 lalu. Hanya saja, ia memandang Nasional Demokrat merupakan wujud eksperimen Paloh untuk menantang induknya, Partai Golkar. “Golkar memang melakukan sebuah kesalahan politik dengan tidak mengakomodasi Paloh dan elite-elite yang mendukungnya. Kita lihat saja perkembangannya dalam satu atau dua tahun ke depan,” kata Burhan.

Ketua Fraksi Partai Demokrat berharap kehadiran organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat akan memperkuat energi dan barisan demokrasi di Indonesia. Siapapun pencetusnya tak menjadi masalah.

Anas berpendapat pendeklarasian Nasional Demokrat adalah bagian kekayaan demokrasi. Ia tak melihat sejumlah kader Partai Golkar, seperti Surya Paloh, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Siswono Yudo Husodo menyalahi aturan. “Apapun latar belakangnya, siapapun yang melahirkan dan apapun asal partainya tak masalah,” tandas Anas. Lebih jauh, Anas menyentil soal warna biru yang menjadi warna kebesaran Nasional Demokrat. “Rupanya Pak Surya mulai suka  warna biru. Sebagai ormas baru tentu kehadirannya merupakan bagian dari berserikat dan berkumpul. Kami husnudzan saja,” ujar Anas. Sebagaimana diketahui, Partai Demokrat pun memilih biru sebagai warna kebesarannya. artai Demokrat mengapresiasi pendeklarasian organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat yang digagas Surya Paloh. Bahkan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok mengatakan bahwa Partai Demokrat merupakan saudara Nasional Demokrat. “Ini adalah kelanjutan dari Demokrat. Demokrat itu saudara tua. Visinya sama,” kata Mubarok seusai menghadiri Deklarasi Nasional Demokrat di Istora Senayan Jakarta.

Ia juga mengatakan bahwa saat pendeklarasian Partai Demokrat dulu persis sama. Tetapi Mubarok membantah bahwa kehadiran ormas baru ini merupakan jawaban kondisi demokrasi saat ini yang belum tercapai. “Bukan itu, tapi demokrasi yang berkembang sekarang ini tidak mencapai tujuan. Kalau demokrasinya demokrasi yang kayak di Pansus, tidak bisa bertujuan,” pungkasnya. Justru yang ingin dicapai oleh ormas ini, jelasnya, adalah membangun kesinambungan kehidupan berbangsa dan bernegara secara tertib. Ia juga melihat kelahiran ormas ini bagus untuk pembangunan demokrasi. “Ini kan pengembangan dari demokrat. Ini biru tua, yang itu biru agak muda. Soal kebangsaan tidak masalah,” tegasnya.

Hanya Gerakan Moral Biasa ?

Inisiator Nasional Demokrat Surya Paloh, mantan calon ketua umum Partai Golkar, mengatakan, dirinya belum berencana menjadikan Nasional Demokrat sebagai partai politik. “Belum terpikirkan ke arah itu,” ujarnya seusai memberikan pidato pada pendeklarasian Nasional Demokrat, di Istora Senayan, Jakarta. Ditambahkannya, Nasional Demokrat tidak hanya mengkritisi pemerintahan, tetapi juga keadaan bangsa. Menurutnya, keadaan bangsa ini belum seperti apa yang dicita-citakan para pendiri bangsa.
Surya Paloh, mengatakan, ormas ini lahir dalam situasi kemajuan bangsa yang dinilai mandek pascareformasi.

Sama seperti Soekarno yang melahirkan Ganefo sebagai perlawanan terhadap penindasan asing, Paloh menilai Nasional Demokrat juga sebagai bentuk perlawanan di era ini. “Kalau Bung Karno datang dengan semangat perlawanan terhadap dunia yang tidak berkeadilan. Saya pikir kenapa kita yang telah berkesempatan hidup lebih baik tidak mampu membuat suatu semangat perlawanan,” tuturnya saat pidato dalam Deklarasi Nasional Demokrat di Istora Senayan. Hanya saja, lanjutnya, perlawanan yang pertama harus diarahkan pada diri sendiri sehingga dapat becermin dengan obyektif untuk makin kritis dan berpikir positif. Dalam kondisi ini, Paloh mengatakan, Nasional Demokrat lahir dalam situasi ketika banyak lembaga kenegaraan yang tidak berfungsi secara maksimal. Indonesia memiliki banyak potensi, tetapi masih tertinggal jauh dari negara lain.

Menurutnya, masa reformasi belum terbukti mewujudkan cita-cita yang diharapkan, bahkan cenderung membawa anak bangsa ke dalam kecurigaan satu sama lain, termasuk pada hukum dan proses demokrasi yang sedang berjalan karena salah memahami. “Demokrasi bukanlah tujuan, demokrasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Tak ada gunanya kita memiliki demokrasi apabila tidak menghantarkan kita pada kesejahteraan sosial, kehidupan sosial, kehidupan masyarakat yang baik,” tegasnya.

Organisasi masyarakat Nasional Demokrat menyatakan menolak demokrasi yang hanya sekedar merumitkan tata cara berpemerintahan tanpa mewujudkan kesejahteraan umum. Mereka juga menolak demokrasi yang hanya menghasilkan rutinitas sirkulasi kekuasaan tanpa kehadiran pemimpin yang berkualitas dan layak diteladani.

“Kami mencita-citakan demokrasi Indonesia yang matang, yang menjadi tempat persandingan keberagaman dengan kesatuan, dinamika dengan ketertiban, kompetisi dengan persamaan, dan kebebasan dengan kesejahteraan,” ujar Anies Baswedan ketika membacakan manifesto, di Istora Senayan, Jakarta.

Anies, bersama deklarator lainnya merasa terpanggil untuk merebut masa depan yang gemilang, dengan keringat dan tangan sendiri. Anis menjelaskan, Nasional Demokrat adalah gerakan perubahan yang berikhtiar menggalang seluruh warga negara dari beragam lapisan dan golongan untuk merestorasi Indonesia. Nasional Demokrat, lanjutnya, tidak hanya bertumpu dan berpusat di Jakarta, melainkan gerakan perubahan yang titik-titik sumbunya terpencar di seluruh penjuru dunia.

Anies Baswedan mengakui peran sertanya mendirikan Nasional Demokrat adalah karena sifat organisasinya yang tidak politis. Nasional Demokrat adalah organisasi massa yang bukan partai.

“Saya akan berusaha mempertahankan ini tetap menjadi ormas,” ujar Anies ditemui usai mendeklarasikan Nasional Demokrat di Istora Senayan, Jakarta, Senin 1 Februari 2010. “Saya berniat aktif di ormas. Selama itu ormas, artinya berkaitan dengan rakyat, masalah-masalah pendidikan, maka itu menarik,” ujar Rektor Universitas Paramadina itu.

Menurut Anies yang membacakan naskah manifesto Nasional Demokrat itu, saat ini yang dibutuhkan adalah masyarakat sipil yang terorganisir. “Yang mendukung demokratisasi dengan cara partisipasi. Partisipasi masyarakat itu bagaimana menyalurkannya, ya melalui organisasi massa ini salah satunya,” katanya. Keterlibatan sejumlah politisi seperti Surya Paloh, Budiman Sudjatmiko, Poempida Hidayatulloh, dan Syamsul Ma’arif pun justru, kata Anies, untuk membuat mereka tidak melulu memikirkan kekuasaan. “Rakyat di bawah sana menginginkan program yang riil, jangan hanya janji-janji saat mau memilih tapi sesudah itu yang dipikirkan lain,” katanya. Dan sebagai ormas, Anies siap berperan menjalankan sejumlah program Nasional Demokrat, mulai dari pendidikan sampai pemberdayaan petani. “Ini yang perlu saya dorong untuk jadi ke sana,” katanya

Terkait dengan diselenggarakannya Deklarasi Nasional Demokrat yang melibatkan puluhan tokoh, Syafi’i Maarif yang biasa disapa Buya ini memberikan tanggapannya.Salah satu deklarator itu mengatakan, deklarasi tersebut hanya sebagai gerakan kemasyarakatan. Tidak ada alasan politis di balik penyelenggaraan acara yang berlangsung sore ini tersebut. “Enggak tahu perkembangannya, itu kan sekarang gerakan kemasyarakatan aja. Ndak ada gerakan politik,” kata pendiri Syafi’i Maarif Institute tersebut, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Pria yang akrab dipanggil Buya tersebut mengatakan, saat ini ia hanya menjadi deklarator dan tidak punya kapasitas penting di dalamnya. “Saya hanya salah satu deklarator. Saya bukan bagian penting di sana,” lanjut Buya. Buya juga mengatakan, saat ini citra partai politik sudah merosot jauh sekali. “Citra semua partai politik merosot jauh sekali. Elite memeras rakyat. Rakyat memeras elite. Dan ini akan melumpuhkan demokrasi,” katanya. Keikutsertaan dia dalam deklarasi tersebut adalah berkat ajakan seorang tokoh. “Ada beberapa orang yang ajak saya,” ujar Buya.
Secara terpisah, inisiator Khofifah Indarparawansa mengatakan, secara logika, Nasional Demokrat tidak dapat menjadi partai politik. Para anggotanya saat ini terdiri dari lintas parpol dan ormas. “Ada Maruarar Sirait dan Budiman Sudjatmiko dari PDI-P, lalu Akbar Faizal dari Hanura. Lalu, saya dari NU dan ada juga Syamsul Ma’arif dari Muhammadiyah,” ujarnya. Khofifah berharap adanya pencairan ego antarparpol dan antarormas pada Nasional Demokrat.

Sementara itu, Akbar Faizal mengatakan, Nasional Demokrat akan segera menggelar rapat pimpinan nasional guna menyusun jajaran kepengurusan setelah jajaran kepengurusan daerah terbentuk

Berbagai sumber mengatakan, bahwa ormas ini akan disiapkan menjadi partai politik yang akan ditarungkan dalam pemilu 2014 mendatang. Namun sebelum dideklarasikan sebagai parpol, ND memang akan dibangun menjadi ormas dengan kelengkapan struktur organisasi sampai ke desa-desa.

Dr Widodo Judarwanto SpA
http://korananakindonesia.wordpress.com


Responses

  1. Bung Surya saya adalah penggemar beratmu di Malang saya siap menjadi pionir kepanjangan tangan di Malang Raya utamanya di Kota Malang. Kalau ada acara di undang ya?

  2. asslm,kepada Bung Surya.saya stuju dngan adanya ormas ND.agar nntinya bs memantau tentang perkmbangan negara ini.saya slalu mndukung kegiatan ND.saya pengen masuk didalamnya,saya tinggal di Medan.dan saya siap menjadi pionir ND apa lagi Bung Surya.untuk mengembangkan ND.saya siap.apabila ada acara saya mngharap undangannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: