Oleh: Indonesian Children | Februari 6, 2010

SIDANG KASUS ANTASARI : DUPLIK ANTASARI

SIDANG KASUS ANTASARI : DUPLIK ANTASARI

Sidang kasus pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar dengan agenda duplik digelar hari Jumat (5/2). Sebelumnya, pada Selasa (2/2) lalu, Antasari yang dituntut hukuman mati itu mengatakan Jaksa Penuntut Umum berupaya merekayasa fakta demi mengaitkan dirinya dengan peristiwa pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. “Yang pasti bagaimana memposisikan supaya saya terkait. Walaupun bukti kecil, kaitkan saja,” ujarnya waktu usai persidangan saat itu. Menurutnya, tidak ada fakta baru yang diungkap dalam duplik jaksa, sebab hanya berisi penegasan tuntutan. Hukuman mati juga divoniskan pada dua terdakwa lainnya, yakni Sigid Haryo Wibisono dan Williardi Wizard.

SIDANG pembacaan duplik Antasari Azhar diawali dengan membawa ayat suci Al Quran. Untuk itu Antasari mengutip surat Al Mu’min. “Sebelum saya menyampaikan tanggapan, perkenankan saya mengutip ayat Al Mu’min yakni surat ke 40 ayat 17,” kata Antasari di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya, Jakarta, Jumat (5/2) kemarin. “Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diutarakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya,” lanjut Antasari.

Antasari kemudian melanjutkan dupliknya dengan mengucapkan terima kasih kepada majelis hakim yang telah memeriksa perkaranya dengan cepat, ringkas, dan bijak. “Saya meyakini yang mulia majelis hakim yang memeriksa perkara akan mengambil keputusan yang senantiasa sesuai dengan norma dan kaidah hukum yang berlaku objektif, manusiawi, berani, dan tegas,” katanya. Dia kemudian melanjutkan pembacaan dupliknya yang berisi 19 halaman. Salah satu isi dupliknya menyoal Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang meminta Antasari Azhar mencabut kata-kata ‘imajinasi’ yang dilontarkannya untuk menilai tuntutan mati JPU. Untuk itu Antasari menyatakan belum mau mencabut tudingan itu. “Saya belum akan mencabut pernyataan tersebut selama penuntut umum tidak dapat menjelaskan fakta-fakta hukum yang diperoleh di depan persidangan mengenai tuntutan penuntut umum,” katanya.

Antasari kemudian melanjutkan dupliknya dengan mengucapkan terima kasih kepada majelis hakim yang telah memeriksa perkaranya dengan cepat, ringkas, dan bijak. “Saya meyakini yang mulia majelis hakim yang memeriksa perkara akan mengambil keputusan yang senantiasa sesuai dengan norma dan kaidah hukum yang berlaku obyektif, manusiawi, berani, dan tegas,” imbuhnya. Antasari kemudian melanjutkan pembacaan dupliknya yang berisi 19 halaman.

Dalam duplik ini, sambungnya, akan membahas bahwa jaksa tidak bisa memberi alasan yang cukup mengenai kenapa Nasrudin menyuruh Rani untuk bertemu dengan Antasari. Namun saat menemukan Rani bersama Antasari di dalam kamar 803 Hotel Grand Mahakam. “Nasrudin justru marah dan menempeleng Rani. Ini sudah jelas sandiwara yang tidak logis. Dan ternyata skenario itu tidak diperankan dengan baik oleh aktor-aktornya, dan itu merupakan bukti awal rekayasa itu dibangun,” jelasnya. Ia menyatakan, persoalan itulah yang akan dipaparkan dalam sidang pembacaan duplik ini. “Kurang lebih dalam duplik kami akan membahas hal-hal tersebut,”
Antasari Azhar merasa Jaksa Penuntut Umum (JPU) menutup peluangnya bebas. Hal ini terungkap dalam pembacaan duplik yang dilakukan Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam duplik tersebut, Antasari mempertanyakan tentang peran dan motif saksi sekaligus istri korban, Rani Juliani. Apalagi timbul kesan JPU melarang penasehat hukumnya bertanya lebih dalam kepada Rani.

“Pernyataan itu tanpa disadari JPU telah menunjukkan kelalaian dalam beban pembuktian. Seharusnya JPU menggali kebenaran meteriil, namun menampakan sikap subjektivitas,” beber Antasari, Jumat (5/2/2010).

Antasari juga menyatakan JPU terlalu bersemangat. Artinya dengan cara bagaimanapun dirinya harus dihukum. Buktinya, ketika terdapat fakta terjadi alur konspirasi, JPU selalu mengesampingkannya. “Kalau JPU tidak demikian, tentunya berpeluang saya bebas dari semua jeratan hukum,” tegas mantan Kajari Jaksel tersebut.

Terdakwa Antasari Azhar dalam dupliknya juga tetap bersikeras bahwa dakwaan sebagai dasar tuntutan jaksa penuntut umum terhadap dirinya, penuh imajinasi. Terutama hal yang berkaitan dengan saksi Rani Juliani. “JPU mengenai Rani yang manis dan jelita serta teringat akan manjanya Rani, setelah kami menyimak surat dakwaan dan fakta persidangan tidak ada satu saksi pun yang menyatakan sebagaimana pernyataan JPU di atas. Dengan demikian maka tidaklah berlebihan jika saya menyatakan hal tersebut, hanyalah merupakan suatu kesimpulan imajinasi dari JPU,” ujar Antasari.

Hal itu disampaikan Antasari saat membacakan duplik dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Menurut Antasari, pernyataan JPU itu didasari pada satu kenyataan atau fakta yang hanya diketahui penuntut umum sendiri. Sementara mengenai suara rekaman pembicaraan dirinya dan Rani di kamar 803 Hotel Gran Mahakam, yang terdengar krasak-krusuk, menurut Antasari hanyalah pemikiran negatif JPU yang mungkin sering berpikir negatif pula terhadap suatu hal. “Hasil rekaman yang diputar itu pun sama sekali tidak bisa membuktikan adanya pelecahan seksual seperti yang selama ini diopinikan,” tandas mantan Ketua KPK itu. Selain itu, Antasari juga menyinggung soal pemberian uang USD500 pada saksi Rani, dalam dupliknya. “Pernyataan itu terus menerus disampaikan dalam dakwaan, tuntutan dan tanggapan JPU, sekalipun saya sudah membantah dan JPU tidak dapat membuktikannya, kecuali hanya semata-mata dari saksi Rani,” pungkasnya.

Di bagian akhir pembacaan dupliknya Antasari juga berkisah tentang seorang pengembara. “Hal ini saya rangkum dari renungan dalam dzikir di Blok A nomor 10 tahanan narkoba,” kata Antasari yang juga mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 5 Februari 2010.

Antasari mulai bercerita. Suatu ketika ada seorang pengembara dikejar Harimau yang kelaparan. Si pengembara itu lari ke sebuah sumur untuk menghindari kejaran. “Ternyata di dalam sumur terdapat seekor ular,” cerita Antasari. Dia melanjutkan cerita. Si pengembara tadi masuk ke dalam sumur dan hanya bergantungan pada sebuah akar pohon. Melihat si pengembara tergantung pada sumur dengan memegang akar pohon, sang ular mencoba mengiggit kaki pengembara yang jaraknya hanya sejengkal. “Ketika melihat ke atas, Harimau itu siap menerkam dengan jarak satu jengkal, antara kepala Harimau dengan si pengembara,” lanjut dia.

Kaki Harimau lapar itu ternyata tersanguut pohon. Karena goyangan kaki Harimau, pohon itu tumbang. Pada pohon itu ternyata terdapat satu sarang lebah, yang juga ikut terjatuh. “Madu dari sarang lebah itu menetes ke pengembara. Harimau itu terjatuh dalam sumur bersama ular. Dan, keduanya mati bersama-sama,” cerita Antasari yang mengibaratkan dirinya sebagai seorang pengembara. Akibat madu yang menetes di atas mulut si pengembara, akhirnya dahaga haus pun hilang. “Hikmah yang dapat diperoleh, ketika suasana genting yang dihadapi dengan penuh kesabaran maka percayalah mukzizat Tuhan akan datang,” lalu Antasari pun menutup dupliknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: