Oleh: Indonesian Children | Februari 7, 2010

RESSUFFLE KABINET KOALISI AKANKAH TERJADI ?

RESHUFFLE KABINET KOALISI, AKANKAH TERJADI ?

Meski para analis politik meragukan bahwa Presiden SBY berani melakukan reshuffle kabinet, ada sinyal politik dari kubu Partai Demokrat bahwa kecenderungan perombakan kabinet itu tampaknya kian kuat. Bahkan ada kesan kabinet koalisi di ambang perpecahan.

Usia kabinet pelangi yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum seumur jagung. Tapi, gara-gara penyelidikan kasus Bank Century di Dewan Perwakilan Rakyat, Kabinet Indonesia Bersatu jilid II itu terancam berantakan.

Isyarat soal kemungkinan perombakan (reshuffle) kabinet datang dari sejumlah politikus Partai Demokrat, partai lokomotif koalisi pendukung pemerintah Yudhoyono.

Setelah Sekretaris Jenderal Demokrat Amir Syamsuddin melemparkan isu panas reshuffle, kemarin giliran Ketua Fraksi Demokrat DPR Anas Urbaningrum menyampaikan isyarat senada.

Meski Presiden Yudhoyono pasti menginginkan koalisi tetap utuh dan solid, namun kemungkinan perombakan kabinet, cenderung menguat. “SBY mungkin tidak tahan jika Pansus Century Gate membongkar semua lini masalah dan pelanggaran yang dilakukan,” kata pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi.

Partai koalisi memberi tanggapan beragam atas sinyal reshuffle itu. Wakil Ketua Pansus Hak Angket Bank Century dari Partai Keadilan Sejahtera, Mahfudz Siddiq, menilai isyarat reshuffle terburu- buru dan emosional. “Kepanikan seperti itu akan menjadi blunder saja,” katanya. Di antara parpol koalisi SBY-Boediono, PKS dan Golkar yang dianggap ‘membakar’ isu pemakzulan presiden.

Kedua parpol itu, di satu pihak menyatakan tidak akan ada pemakzulan, Namun, di sisi lain mengatakan mungkin saja ada pemakzulan. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menganggap, isu pemakzulan yang datang dari PKS dan Golkar memiliki satu tujuan. Tidak lain hanya untuk menaikkan posisi tawar. “Pansus yang membakar-bakar isu itu, yang merespon orang luar. Orang Pansus terutama PKS dan Golkar. Pokoknya watak politik bargaining position,” katanya.

Sikap mendua PKS dan Golkar ini juga dilihat oleh Sekjen Partai Demokrat, Amir Syamsudin. Peringatan reshuffle kabinet terhadap menteri pun dilontarkan Amir. Bukan ancaman. Amir ingin memperingatkan parpol koalisi. Jika parpol koalisi ingin keluar dari bagian koalisi alias oposisi, Amir mempersilakan. Itu berarti suatu isyarat bahwa isu Kabinet Koalisi di ambang perpecahan, bukan hal mustahil lagi.

Apakah dengan kabinet yang diisukan bakal pecah, akan membuat istana goyah? “Bisa ya, bisa tidak. Tergantung bagaimana SBY menggunakan kecakapan politiknya untuk mengelola situasi dan suasana pemerintahannya sendiri,” kata antropolog politik Universitas Gadjah Mada Arif Mundayat PhD. Wacana reshuffle kabinet mengalir seiring dengan semakin dekatnya 100 hari kepengurusan Presiden SBY dan kabinetnya. Menganggap sebagai hak preogratif Presiden, anggota fraksi PKS Mahfudz Siddiq meminta agar reshuffle juga dibicarakan dengan partai koalisi. “Wajar saja presiden memberikan penilaian objektif, mana menteri yang berhasil dengan nilai-nilainya, mana yang lulus dan mana yang tidak,” ujar Mahfudz ketika break pemeriksaan pansus Century di DPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/1/2010).Menurut Mahfudz, dalam program 100 hari pasti sudah ada agenda dan dari sekian banyak agenda ada agenda prioritasnya. “Dan juga setiap prioritas ada indikator keberhasilannya,” terangnya. Jika ada konsekuensi keberlangsungan jabatan itu adalah hak presiden. “(Pergantian) Wajar tapi tentu saja karena terbentuk koalisi dan rekrutmen menteri karena pembicaraan dengan partai, maka kalau ada menteri yang tidak perform harus ada pembicaraan dengan partai,” pintanya.

Evaluasi partai anggota koalisi jangan dinilai sebagai momok yang menakutkan. Evaluasi untuk menjaga semangat koalisi dan tidak terkait kerja Panitia Khusus (Pansus) angket Bank Century. “Evaluasi ini hanya penegasan dari Presiden untuk menjaga semangat koalisi, bukan ancaman. Tidak ada kaitannya dengan (Pansus Century) itu,” ujar Ketua DPP PD Anas Urbaningrum saat berbincang dengan detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/1/2010). Anas membantah, anggapan yang mengatakan evaluasi partai anggota koalisi dilakukan karena koalisi sedang rapuh dan tidak solid akibat adanya Pansus angket Century. Dia juga tidak setuju anggapan yang mengatakan, evaluasi dilakukan karena PD sering diserang partai-partai anggota koalisi di Pansus.

Mantan anggota KPU ini menegaskan, partai anggota koalisi dalam keadaan baik-baik saja. Evaluasi dilakukan untuk menjaga semangat koalisi agar tetap langgeng. “Sejauh ini koalisi berada dalam keadaan baik-baik saja,” tegas dia. Anas menambahkan, evaluasi merupakan hal yang lumrah dilakukan partainya. Selain karena evaluasi ini ditekankan dalam kontrak politik koalisi, evaluasi bertujuan untuk menguatkan kembali barisan koalisi dalam 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Koalisi PD disokong oleh sejumlah partai politik antara lain PKS, PAN, PPP, PKB, dan Partai Golkar. 100 Pemerintahan SBY-Boediono akan jatuh pada 28 Januari 2010 mendatang.

Desakan untuk melakukan evaluasi terhadap mitra koalisi pemerintah semakin kencang berembus. Evaluasi ini diyakini sebagai imbas dari “galaknya” mitra koalisi dalam Pansus Angket Kasus Bank Century. Isu reshuffle kabinet pun merebak.

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai, peluang reshuffle dalam evaluasi koalisi oleh Partai Demokrat masih fifty-fifty. Wacana evaluasi diembuskan hanya untuk memberikan tekanan psikologis. “Evaluasi koalisi lebih merupakan tekanan psikologis kepada mitra koalisi yang kini dipusingkan dengan tingkah polah koalisi yang sulit didisiplinkan dalam kasus Century. Intinya, SBY akan memastikan format koalisi yang kuat, termasuk mempertimbangkan perampingan postur koalisi,” kata Burhanuddin. 

Opsi koalisi, ujarnya, salah satunya dengan merombak anggota kabinet dari partai politik yang susah diatur. Namun, ia menduga, tujuan evaluasi koalisi untuk memecah kekompakan mitra koalisi.  “Mereka yang sebelumnya dalam kasus Century sangat kompak bermain sendiri bisa berpikir seribu kali. Elite-elite koalisi yang sekarang duduk sebagai anggota kabinet bisa melakukan intervensi ke anggota mereka di Pansus agar melunak,” ujarnya. Gelagat melunaknya beberapa anggota Pansus, menurut Burhan, terlihat dari berkurangnya “nyali” untuk menghadirkan Presiden SBY dalam rapat Pansus. Keputusan pimpinan DPR untuk tidak meneruskan imbauan nonaktif kepada Boediono dan Sri Mulyani juga dianggap sebagai bukti lain. Ia khawatir hal ini akan menjadi gejala awal Pansus mulai “masuk angin”.

 
Dari berbagai sumber

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: