Oleh: Indonesian Children | Februari 8, 2010

PROFESIONALITAS PERS DALAM INFORMASI KESEHATAN

PROFESIONALITAS MEDIA DALAM INFORMASI KESEHATAN

dr Widodo Judarwanto SpA

Dalam sebuah acara di sebuah televisi favorit tampak seorang ustadz bergelar Gus, bak seorang dokter mengupas habis informasi kesehatan kepada masyarakat. Bukan hanya sang ustadz saat ini siapa saja yang dinobatkan oleh masyarakat sebagai tabib, dukun atau ahli terapi alternatif bergantian menggantikan peran dokter memberi ceramah kesehatan bagi masyarakat. Sepintas hal ini adalah hal yang wajar terjadi dan sepertinya tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi bila dicermati akan menjadi masalah yang cukup serius bagi masyarakat, karena acaranya semakin menjamur. Bahkan wajah seorang profesional seperti dokter sudah semakin langka dalam acara seperti itu. Apakah yang terjadi dalam media masa dan gejala apakah yang terjadi dalam masyarakat ?

Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia. Komunikasi, informasi dan edukasi kesehatan adalah salah satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk kepedulian terhadap kesehatannya. Selanjutnya keberhasilan penyampaian komunikasi, informasi dan edukasi ini akan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang semaikin terpuruk di kawasannya. Namun peran strategis yang dilakukan media elektronika tersebut tidak dilakukan secara profesional. Peranan yang sangat vital tersebut saat ini seakan dipercayakan kepada nara sumber yang tidak berkompeten. Sebenarnya motivasi media elektronik untuk menyampaikan informasi kesehatan itu patut diacungi jempol. Namun sayangnya hampir setiap hari acara kesehatan di media elektronik televisi tersebut didominasi oleh nara sumber non profesional. Hal ini menunjukkan profesionalitas pelaku industri media elektronik harus segera ditingkatkan.

Bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari, dalam meningkatkan kualitas informasi para insan pers melakukan ratifikasi standar perusahaan pers, standar kompetensi wartawan, kode etik jurnalistik, dan standar perlindungan wartawan. Ratifikasi kompetensi wartawan dan kode etik jurnalistik dikaitkan dengan kualitas informasi sangat penting.

Dengan adanya kemajuan teknologi informasi ternyata membawa dampak yang luar biasa dalam masyarakat. Banyak manfaat yang bisa diperoleh, karena masyarakat dapat mengakses informasi seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Baik dari media cetak ataupun elektronik.

Dari media elektronik semua stasiun radio dan televisi setiap hari marak memberikan informasi kesehatan. Belum lagi kehebatan informasi alam maya melalui internet. Informasi kesehatan apapun baik yang bersifat ilmiah dan popular dapat diketahui. Manfaat yang luarbiasa ini ternyata tidak hanya menguntungkan tetapi sebaliknya bisa menyesatkan apabila informasi yang diterima tidak benar atau terjadi kesalahan dalam mencerna informasi tersebut.

Salah satu contoh tragis yang dialami masyarakat adalah contoh sang dosen. Seorang dosen perguruan tinggi di Jakarta yang bergelar S2, sudah divonis dokter mengidap penyakit diabetes mellitus atau kencing manis yang harus minum obat jangka panjang. Awal cerita tragis terjadi, saat melihat acara televisi yang menayangkan kehebatan seorang berjas putih yang mengklaim dapat mengobati penyakit semua penyakit dengan berbagai ramuan obat-obatan. Dengan bangga penderita tesebut dengan menceritakan pengalaman kehebatan tabib itu, badan penderita sudah segar setelah minum ramuan tersebut.

Akhirnya obat dokter ditinggalkannya, selang satu bulan kemudian sang dosen terserang stroke. Dokter mengatakan bahwa stroke terjadi karena penyakit diabetes tidak terkendali karena obat dihentikan, sehingga timbul komplikasi stroke. Akhirnya si dosen hanya bisa menyesal mengapa harus mempercayai informasi kesehatan yang menyesatkan tersebut.

Pengalaman tragis itu menunjukkan bahwa, tidak semua informasi yang saat ini sangat berlimpah itu memberi manfaat tapi kadang justru menyesatkan. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi ternyata membawa dampak yang luar biasa dalam masyarakat. Banyak manfaat yang bisa diperoleh, karena masyarakat dapat mengakses informasi seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Baik dari media cetak ataupun elektronik.

Dari media elektronik semua stasiun radio dan televisi setiap hari marak memberikan informasi kesehatan. Belum lagi kehebatan informasi alam maya melalui internet. Informasi kesehatan apapun baik yang bersifat ilmiah dan popular dapat diketahui. Manfaat yang luarbiasa ini ternyata tidak hanya menguntungkan tetapi sebaliknya bisa menyesatkan apabila informasi yang diterima tidak benar atau terjadi kesalahan dalam mencerna informasi tersebut. Bayangkan seorang dosen perguruan tinggi bergelar S3 saja dapat terkecoh oleh informasi kesehatan yang menyesatkan tersebut. Apalagi masyarakat luas lainnya yang secara umum pendidikannya relatif belum terlalu tinggi.

Kelemahan informasi kesehatan tersebut harus lebih dicermati dan disikapi dengan jelas oleh berbagai pihak yang berkompeten dqn berwenang. Bila tidak, berapa banyak lagi masyarakat yang dapat terjerumus oleh informasi yang justru malah merugikannya. Kelemahan dalam penyampaian informasi tersebut, sangat tergantung dari kualitas informasi yang disampaikan ataupun kemampuan penerima informasi untuk mencernanya.

Dalam melakukan komunikasi informasi dan edukasi tentang kesehatan terhadap masyarakat, tidak sederhana seperti yang dibayangkan. Pengetahuan medis yang sulit dan bahasa medis yang membingungkan tidak mudah ditranformasikan terhadap masyarakat awam sekalipun masyarakat berpendidikan tinggi. Diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik dalam penyampaian tersebut.

Masalah yang utama yang tidak kalah penting adalah kualitas dari informasi kesehatan itu sendiri. Sebaiknya informasi kesehatan diberikan oleh pihak yang paling berkompeten yaitu dokter atau tenaga kesehatan profesional lainnya. Tetapi informasi kesehatan yang ada juga sangat luas. Kualitas informasi tersebut tergantung dari kompetensi dokter yang menyampaikannya.

Tidak semua dokter sama kompetensinya dalam menyampaikan masalah kesehatan tertentu. Misalnya, informasi kesehatan tentang masalah penggunaan pelayanan bayi tabung, yang paling berkompeten adalah dokter kandungan ahli fertilitas. Meskipun bila disampaikan oleh dokter umum atau dokter kandungan lainnya tidak masalah, tetapi tentunya kualitas informasinya lebih bagus yang disampaikan oleh dokter kandungan ahli fertilitas, karena pengalaman dan latar belakang pendidikannya berbeda.

Di dominasi informasi terapi irasional

Saat ini terdapat kecenderungan yang terjadi dalam penyampaian informasi kesehatan di media elektronik televisi didominasi informasi kesehatan alternatif dan irasional. Hampir setiap hari berbagai stasiun televisi dan radio berlomba-lomba menayangkan acara kesehatan alternatif. Hal ini terjadi karena ternyata kebutuhan informasi alternatif merupakan informasi kesehatan yang paling menarik bagi masyarakat Indonesia.Fenomena ini tampaknya mungkin hampir sama dengan kecenderungan masyarakat Indonesia lebih menyenangi film cerita dan hiburan yang berbau mistis.

Memang harus diakui terdapat beberapa terapi alternatif yang berguna bagi masyarakat. Tetapi masyarakat juga tidak boleh menutup mata tentang banyaknya ketidak berhasilan, efek samping dan komplikasi yang ditimbulkannya hingga saat ini tidak pernah terungkap.
Saat ini media elektronik telah memercayakan penyampaian informasi tersebut kepada orang yang bukan berkompeten. Bayangkan dalam tayangan televisi, seorang ustadz, seorang yang mendapat ilmu meracik herbal dari orangtuanya, atau siapapun orangnya dengan kepercayaan diri tinggi mempunyai klinik diberi kepercayaan televisi untuk mencerdaskan pengetahuan kesehatan masyarakat. Dengan piwai seorang host acara televisi mengajukan pertanyaan tentang gejala, penyebab, pengobatan dan prognosa penyakit dijawab dengan tangkas oleh nara sumber tersebut bak seorang dokter. Mungkin bila orang awam yang mendengarnya merupakan suatu informasi yang berharga. Tetapi, bila seorang dokter mendengar jalannya konsultasi tersebut pasti ingin menginterupsi karena banyaknya informasi yang menyimpang. Yang unik, setiap kali pertanyaan yang sulit dijawab sang narasumber selalu saja mengatakan bahwa sebaiknya ibu langsung saya periksa saja di tempat praktek. Jadi, sebenarnya informasi kesehatan tersebut substansinya bukan kualitas informasi tapi sekedar media iklan.
Sebenarnya tidak salah seorang ahli terapi alternatif harus membawakan masalah kesehatan dan upaya promosi dalam aktifitas mereka. Tetapi jangan sampai semua hal tersebut mengorbankan kualitas informasi kesehatan yang dapat menyesatkan pengetahuan dan perilaku kesehatan masyarakat.

Fenomena unik ini harus diakui sedang menggejala dalam masyakat. Adalah hal yang biasa terjadi dan tidak pernah diungkapkan bila terapi medis berhasil menyembuhkan pasien. Tetapi, bila ada kegagalan dalam terapi medis maka berita tersebut akan lebih mudah tersebar. Sebaliknya, bila ada keberhasilan terapi alternatif akan merupakan buah bibir bagi masyarakat. Tetapi, bila tidak berhasil dalam terapi alternatif maka masyarakat pasti akan memendamnya dalam-dalam. Hal inilah yang membuat promosi gratis yang baik bagi terapi alternatif.

Di bidang ilmu kesehatan sering dibedakan antara terapi medis dan terapi alternatif. Terapi medis adalah penatalaksanaan atau pengobatan suatu penyakit atau kelainan yang berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Penanganan di dalam ilmu kedokteran harus berdasarkan berbagai latar belakang ilmuan kedokteran seperti imunopatobiofisiologis ataupun biomolekular. Dalam penerapannyapun harus berdasarkan penelitian medis berbasis pengalaman klinis. Secara ilmiah berbagai terapi yang diberikan juga harus berdasarkan pengalaman klinis dengan berbasis pada penelitian ilmiah yang terukur. Dalam kurun waktu terakhir ini pemberian pengobatan di bidang kedokteran sudah beralih ke arah Evidance Base medicine (EBM) atau pengalaman klinis berbasis bukti. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan

Sedangkan terapi alternatif yang juga sering disebut terapi unconventional atau terapi orthodox adalah berdasarkan pendekatan pengobatan tradisional turun temurun baik dari mulut kemulut berbagai pengalaman diperoleh dari warisan nenek moyang yang tidak berdasarkan kaidah ilmiah atau bertentangan dengan ilmu kedokteran. Meskipun diakui tidak semua terapi alternatif tidak bermanfaat. Saat ini ada juga terapi alternatif yang mulai disinergikan dengan terapi di bidang ilmu kedokteran seperti terapi akupuntur. Hal seperti inipun harus melalui proses penelitian secara ilmiah yang berlangsung lama, dan memang terbukti secara klinis.

Terapi atau diagnosis alternatif meskipun tidak berdasarkan kaidah ilmiah juga banyak dilakukan oleh profesional medis di bidang kedokteran seperti dokter, terapis dan lain sebagainya. Secara aspek legal dan secara etika kedokteran sebenarnya hal tersebut tidak dilazimkan karena akan menyimpang dari kompetensi dan profesionalitas seorang dokter.

Terdapat perbedaan mendasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan terapi medis dan terapi alternatif. Di bidang medis alat ukur keberhasilan medis harus berdasarkan penelitian terukur dan sahih secara statistik. Misalnya dalam penggunaan obat asma, harus diketahui tingkat keberhasilan dari 100 pemakai sekitar 80 yang berhasil dengan memperhatikan dengan cermat berbagai faktor yang mempengaruhi pengobatan tersebut. Sedangkan terapi alternatif, biasanya diukur berdasarkan pengakuan orang perorang dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga akurasi dan validitas keberhasilannya tidak bisa diketahui secara pasti

Memang tidak bisa dipungkiri, terdapat beberapa terapi alternatif yang terlihat kasiatnya dalam jangka pendek. Namun masyarakat harus mencermati, apakah membaiknya karena terapi yang diberikan atau karena faktor lainnya. Karena, setiap terapi alternatif selalu dikaikan dengan doa-doa, pemberian obat-obatan herbal atau pantangan beberapa makanan. Mungkin saja memang ada obat herbal yang bermanfaat, tetapi kita harus cermat adakah obat lain yang terkandung. beberapa temuan didapatkan obat herbal dari terapi alternatif tersebut terkandung obat kortikosteroid. Ternyata obat jenis tersebut dalam bidang kedokteran termasuk obat dewa, karena bisa memperbaiki reaksi inflamasi yang ditimbulkan oleh berbagai penyakit. Hasilnya manjur, sesaat akan merasa segar dan enak tetapi secara jangka panjang pemakaian obat tersebut mengganggu ginjal, hati, tulang dan menurunkan daya tahan tubuh. Secara umum pemberian obat ini hanya bersifat mengurangi gejala dan tidak menyembuhkan penyakit yang ada.
Informasi Ideal

Berbagai masalah informasi kesehatan yang ada tersebut dengan berbagai aspek yang dapat ditimbulkan, sebaiknya menjadikan perhatian segera berbagai pihak. Pemerintah khususnya departemen kesehatan, Komisi Penyiaran Indonesia dan berbagai pihak yang berwenang harus lebih memperhatikan kualitas informasi yang sekarang semakin meningkat pesat dengan berbagai aspek yang tidak disadari ternyata bisa sangat merugikan masyarakat.

Pihak stasiun televisi dan radiopun harus lebih mawas diri. Sebaiknya lebih mengutamakan kualitas informasi daripada selera masyarakat dan kepentingan materi. Harus disadari bahwa industri media adalah bisnis yang tidak lepas dari materi. Sebenarnya bila acara kesehatan tersebut dikemas secara profesional maka keuntungan bisnisnya akan jauh lebih baik dari yang sekarang ada.
Penyelenggara acara telivisi dan radiopun mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat untuk memberikan informasi yang mencerdaskan bukan dengan informasi yang irasioanal dan menyesatkan. Informasi kesehatan sebaiknya lebih diutamakan dalam penyampaian pesan, bukan mengutamakan promosi bagi layanan jasa kesehatan bagi nara sumbernya. Sebaiknya informasi tersebut harus diberikan oleh pihak yang berkompeten sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya di bidang medis. Kalaupun dalam penyampaian informasi pengobatan alternatif dilakukan, dikemas dengan cara rasional dan tidak berkesan memperdayai masyarakat. Harus diakui masyarakat Indonesia semakin pintar tetapi ternyata yang berpikiran irasionalpun juga masih sangat banyak.

Kelemahan informasi kesehatan tersebut harus lebih dicermati dan disikapi dengan jelas oleh berbagai pihak yang berkompeten dan berwenang. Bila tidak, berapa banyak lagi masyarakat yang dapat terjerumus oleh informasi yang justru malah merugikannya. Kelemahan dalam penyampaian informasi tersebut, sangat tergantung dari kualitas informasi yang disampaikan ataupun kemampuan penerima informasi untuk mencernanya.

Dalam melakukan komunikasi informasi dan edukasi tentang kesehatan terhadap masyarakat, tidak sederhana seperti yang dibayangkan. Pengetahuan medis yang sulit dan bahasa medis yang membingungkan tidak mudah ditranformasikan terhadap masyarakat awam sekalipun masyarakat berpendidikan tinggi. Diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik dalam penyampaian tersebut.

Masalah yang utama yang tidak kalah penting adalah kualitas dari informasi kesehatan itu sendiri. Sebaiknya informasi kesehatan diberikan oleh pihak yang paling berkopeten yaitu dokter. Tetapi informasi kesehatan yang ada juga sangat luas. Kualitas informasi tersebut tergantung dari kompetensi dokter yang menyampaikannya.

Tidak semua dokter sama kompetensinya dalam menyampaiakan masalah kesehatan tertentu. Misalnya, informasi kesehatan tentang masalah penggunaan pelayanan bayi tabung, yang paling berkompeten adalah dokter kandungan ahli fertilitas. Meskipun bila disampaikan oleh dokter umum atau dokter kandungan lainnya tidak masalah, tetapi tentunya kualitas informasinya lebih bagus yang disampaikan oleh dokter kandungan ahli fertilitas, karena pengalaman dan latar belakang pendidikannya berbeda.

Di bidang ilmu kesehatan sering dibedakan antara terapi medis dan terapi alternatif. Terapi medis adalah penatalaksanaan atau pengobatan suatu penyakit atau kelainan yang berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Penanganan di dalam ilmu kedokteran harus berdasarkan berbagai latar belakang ilmuan kedokteran seperti imunopatobiofisiologis ataupun biomolekular. Dalam penerapannyapun harus berdasarkan penelitian medis berbasis pengalaman klinis. Secara ilmiah berbagai terapi yang diberikan juga harus berdasarkan pengalaman klinis dengan berbasis pada penelitian ilmiah yang terukur. Dalam kurun waktu terakhir ini pemberian pengobatan di bidang kedokteran sudah beralih ke arah Evidance Base medicine (EBM) atau pengalaman klinis berbasis bukti. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan

Sedangkan terapi alternatif yang juga sering disebut terapi unconventional atau terapi orthodox adalah berdasarkan pendekatan pengobatan tradisional turun temurun baik dari mulut kemulut berbagai pengalaman diperoleh dari warisan nenek moyang yang tidak berdasarkan kaidah ilmiah atau bertentangan dengan ilmu kedokteran. Meskipun diakui tidak semua terapi alternatif tidak bermanfaat. Saat ini ada juga terapi alternatif yang mulai disinergikan dengan terapi di bidang ilmu kedokteran seperti terapi akupuntur.

Hal seperti inipun harus melalui proses penelitian secara ilmiah yang berlangsung lama, dan memang terbukti secara klinis. Terapi atau diagnosis alternatif meskipun tidak berdasarkan kaidah ilmiah juga banyak dilakukan oleh profesional medis di bidang kedokteran seperti dokter, terapis dan lain sebagainya. Secara aspek legal dan secara etika kedokteran sebenarnya hal tersebut tidak dilazimkan karena akan menyimpang dari kompetensi dan profesionalitas seorang dokter.

Terdapat perbedaan mendasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan terapi medis dan terapi alternatif. Di bidang medis alat ukur keberhasilan medis harus berdasarkan penelitian terukur dan sahih secara statistik. Misalnya dalam penggunaan obat asma, harus diketahui tingkat keberhasilan dari 100 pemakai sekitar 80 yang berhasil dengan memperhatikan dengan cermat berbagai faktor yang mempengaruhi pengobatan tersebut. Sedangkan terapi alternatif, biasanya diukur berdasarkan pengakuan orang perorang dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga akurasi dan validitas keberhasilannya tidak bisa diketahui secara pasti.

Sering dilihat di televisi dalam acara terapi alternatif oleh seseorang bukan berlatar belakang nonmedis, bahwa pengakuan seorang sembuh karena terapi yang diberikan. Mungkin saja memang penderita tersebut berhasil dengan terapi alternatif tersebut, tetapi tidak diketahui apakah yang tidak berhasil juga lebih banyak lagi.

Di bidang medis seorang dokter tidak boleh menyebutkan keberhasilan pengobatan berdasarkan kesaksian keberhasilan seorang pasien. Seorang dokter harus selalu merujuk berdasarkan penelitian sebuah jurnal kesehatan yang kredibel atau jurnal yang dapat diakses di pubmed secara online.

Memang tidak bisa dipungkiri, terdapat beberapa terapi alternatif yang terlihat kasiatnya dalam jangka pendek. Namun masyarakat harus mencermati, apakah membaiknya karena terapi yang diberikan atau karena faktor lainnya. Karena, setiap terapi alternatif selalu dikaikan dengan doa-doa, pemberian obat-obatan herbal atau pantangan beberapa makanan. Mungkin saja memang ada obat herbal yang bermanfaat, tetapi kita harus cermat adakah obat lain yang terkandung. beberapa temuan didapatkan obat herbal dari terapi alternatif tersebut terkandung obat kortikosteroid. Ternyata obat jenis tersebut dalam bidang kedokteran termasuk obat dewa, karena bisa memperbaiki reaksi inflamasi yang ditimbulkan oleh berbagai penyakit. Hasilnya manjur, sesaat akan merasa segar dan enak tetapi secara jangka panjang pemakaian obat tersebut mengganggu ginjal, hati, tulang dan menurunkan daya tahan tubuh. Secara umum pemberian obat ini hanya bersifat mengurangi gejala dan tidak menyembuhkan penyakit yang ada.

Penggunaan terapi alternatif secara klinis masih belum dilakukan penelitian secara menyeluruh tentang manfaat dan efek sampingnya. Sehingga seringkali klinisi tidak bisa mengungkapkan kemungkinan bahaya penggunaan terapi alternatif. Sampai saat inipun masih belum ada penelitian klinis yang dapat membuktikan efek samping dan bahaya berbagai terapi alternatif.

Hal yang lain yang dikhawatirkan adalah penanganan alat terapi seperti ini akan membuat “lost cost therapy” biaya pengobatan terbuang percuma. Apalagi untuk terapi penyakit kronis biasanya dibutuhkan waktu pengobatan jangka panjang. Pada umumnya penderita yang sering beralih pada terapi alternatif adaah penderita penyakit kronis seperti asma, alergi, penyakit kanker, diabetes, dan sebagainya.

Berbagai masalah informasi kesehatan yang ada tersebut dengan berbagai aspek yang dapat ditimbulkan, sebaiknya menjadikan perhatian segera berbagai pihak. Pemerintah khususnya departemen kesehatan, Komisi Penyiaran Indonesia dan berbagai pihak yang berwenang harus lebih memperhatikan kualitas informasi yang sekarang semakin meningkat pesat dengan berbagai aspek yang tidak disadari ternyata bisa sangat merugikan masyarakat.

Pihak stasiun televisi dan radiopun harus lebih mawas diri. Sebaiknya lebih mengutamakan kualitas informasi daripada selera masyarakat. Penyelenggara acara telivisi dan radiopun mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat untuk memberikan informasi yang mencerdaskan bukan dengan informasi yang irasioanal dan menyesatkan.

Informasi kesehatan sebaiknya lebih diutamakan dalam penyampaian pesan, bukan mengutamakan promosi bagi layanan jasa kesehatan bagi nara sumbernya. Sebaiknya informasi tersebut harus diberikan oleh pihak yang berkompeten sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya di bidang medis. Kalaupun dalam penyampaian informasi pengobatan alternatif dilakukan, dikemas dengan cara rasional dan tidak berkesan memperdayai masyarakat. Harus diakui masyarakat Indonesia semakin pintar tetapi ternyata yang berpikiran irasionalpun juga masih sangat banyak. Dalam jaman modern ini apakah media masa masih harus membawa masyarakat alam pikiran irasionalitas. Bila ini terus terjadi, maka penambahan usia pers tak berbanding lurus dengan kemampuan dalam mencerdaskan pengetahuan kesehatan masyarakat.

 
KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: