Oleh: Indonesian Children | Februari 10, 2010

18 TAHUN, VONIS HAKIM UNTUK ANTASARI KARENA BUNUH NAZARUDIN

18 TAHUN, VONIS HAKIM UNTUK ANTASARI KARENA BUNUH NAZARUDIN.
AKANKAH JAKSA DAN ANTASARI BANDING ?

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar akan mendengarkan putusan majelis hakim atas kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang membelitnya, Kamis (11/2/2010). Menjelang vonis dibacakan, Antasari rajin salat tahajud. “Beliau sudah beberapa malam ini beliau salat tahajud, beliau selalu berdoa,” kata salah satu pengacara Antasari, Rabu (10/2/2010). Menurut Ari, apapun putusan yang nantinya dijatuhkan hakim, Antasari sudah siap menerimanya. Namun, melihat sikap hakim yang bijak dan arif saat memimpin sidang, Antasari yakin akan diberi keputusan yang paling baik. “Pak Antasari sudah siap dengan segala resikonya,” lanjut Ari.

Antasari dituntut hukuman mati dalam kasus pembunuhan yang menggemparkan di pertengahan Maret 2009 tahun lalu itu. Ia dianggap turut serta membujuk atau menganjurkan para eksekutor untuk membunuh korban. Antasari dikenakan pasal 55 ayat 1 ke 1 junto pasal 55 ayat 1 ke 2 junto pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Sidang Antasari digelar secara perdana pada Kamis 8 Oktober 2009. Pada hari Kamis pula, Majelis Hakim yang diketuai Herry Swantoro akan membacakan vonis. Berdasarkan fakta yang terungkap persidangan selama ini, Antasari Azhar menilai tidak ada bukti keterlibatannya dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Karena itu mantan Ketua KPK tersebut meminta hakim menjatuhkan vonis bebas terhadap dirinya. “Tidak berlebihan apabila majelis hakim menjatuhkan putusan bebas,” kata Antasari saat membacakan pledoi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (28/1/2010). “Berdasarkan fakta-yang terungkap di persidangan cukup alasan bagi majelis yang mulia untuk meragukan dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum,” pintanya.

Kuasa hukum Antasari Azhar, Mohammad Assegaf, menyatakan, kliennya siap menghadapi putusan yang rencananya akan dibacakan Kamis besok. Siang ini Antasari mengundang semua kuasa hukumnya ke Rutan Polda Metro untuk membicarakan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, demikian diungkapkan Assegaf. Menurut dia, pihaknya bersikukuh bahwa kasus yang menimpa Antasari tersebut penuh dengan rekayasa. Hal itu sudah dikemukakan dalam pledoi dan duplik yang dibacakan di muka persidangan, beberapa waktu lalu. Hal itu tampak sangat jelas dalam peristiwa Hotel Mahakam Kamar 803. “Bagaimana mungkin seorang Rani diantar, disuruh suaminya untuk menemui Antasari di hotel dengan pesan agar telepon genggam jangan di-off supaya pembicaraan terekam. Tidak logis pula kemudian Nasrudin masuk, mendobrak pintu, dan marah-marah. Itu rekayasa yang tidak logis,” kata Assegaf. Assegaf juga mempertanyakan pemasangan alat perekam di rumah Sigit Haryo Wibisono. “Dua hal tersebut kian menguatkan bahwa Antasari hanya korban rekayasa. Demikian pula dengan Nasrudin,” ungkap Assegaf.

Terkait dengan munculnya fakta-fakta persidangan yang dinilainya meragukan, Assegaf mengimbau agar hakim juga berpegang pada asas in dubio pro reo. Artinya, apabila ada keragu-raguan dalam keyakinan hakim, hakim harus membebaskan terdakwa. “Lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Kasus Antasari ini penuh dengan kontroversial dan itu meragukan,” kata dia. Namun, pihaknya akan menyerahkan kepada Antasari untuk mengambil sikap terlebih dahulu terhadap apa pun keputusan hakim yang akan diperdengarkan besok pagi.

Antasari Berharap Pada Hakim

Antasari Azhar menyatakan harapannya agar majelis hakim bersikap obyektif dalam memberikan putusan dalam persidangan dengan agenda vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/2/2010) besok. “Kami berharap majelis hakim menggunakan hati nurani yang tajam dan tulus, dengan berpegang pada fakta-fakta persidangan,” kata Juniver Girsang, kuasa hukum Antasari, Rabu (10/2/2010). Selama ini, ia menilai majelis hakim yang diketuai Hari Swantoro sudah bersikap obyektif. Ia menghargai sikap majelis hakim yang tetap berpegang pada Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan fakta-fakta persidangan yang terungkap. Diharapkan, sikap ini akan tetap ditunjukkan majelis hakim dalam putusannya besok. Hingga saat ini, kata Juniver, ia dan kliennya masih meyakini hakim akan menjatuhkan vonis bebas. Ia menilai, tidak ada fakta dalam persidangan yang bisa mengarahkan majelis hakim untuk menjatuhkan vonis mati seperti tuntutan jaksa penuntut umum. “Kita yakini, dengan fakta-fakta dalam persidangan, majelis hakim akan memberikan vonis bebas,” tuturnya.

Disinggung apakah akan mengajukan banding jika vonis yang dijatuhkan tidak sesuai dengan harapan, Juniver mengatakan, tentu ada hak dari terdakwa untuk menyatakan tanggapan. Ia akan membicarakan lebih lanjut dengan Antasari setelah putusan besok. “Tapi kalau putusan itu tidak berdasarkan fakta dalam persidangan tentu akan ke situ (banding),” tegasnya. Antasari yakin, majelis hakim yang diketuai Herry Swantoro memiliki kearifan dalam menjatuhkan keputusan. Majelis akan menjatuhkan putusan itu seadil-adilnya. “Saya berkeyakinan majelis akan menjatuhkan putusan seadil-adilnya berdasarkan fakta dan hati nurani,” ucapnya. Dalam bagian terakhir pledoinya tersebut, dia juga mengucapkan terimakasih kepada majelis hakim yang telah obyektif dan sabar memimpin persidangan. Tak lupa pla dia mengucapkan terimakasih kepada penasehat hukum. “Penasihat hukum tanpa pamrih, gratis, telah mendampingi saya sejak penyidikan,” tandas pria berkemeja batik warna merah campur kuning itu.

18 TAHUN, VONIS HAKIM UNTUK ANTASARI

Sejak sekitar pukul 10.00 WIB tadi, sebagian besar waktu sidang pembacaan vonis terdakwa pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, Antasari Azhar, berkutat di pembacaan kesaksian seluruh saksi tersumpah. Sejak Majelis Hakim sudah memasuki pembacaan pertimbangan hukum, wajah Antasari yang sejak awal sidang memang tegang, tampak semakin serius. Keluarga Antasari termasuk istri, Ida Laksmiwati, masih setia menunggu pembacaan vonis hakim kepada Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Kamis (11/2). Begitupula massa yang berasal dari kerabat Nasruddin Zulkarnaen, yang menantikan hukuman berat buat Antasari

Akhirnya, sekitar pukul 14.05 WIB, Ketua Majelis Hakim, Herry Swantoro, membacakan vonis hakim yang memidana Antasari dengan penjara selama 18 tahun penjara. Ketika Herry membaca vonis, wajah Antasari terlihat sedikit mengendur tak lagi setegang sebelumnya. Vonis hakim ini jauh lebih rendah dari tuntutan mati dari Jaksa Penuntut Umum. Sidang vonis yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Herry Swantoro, telah berjalan sekitar 6 jam

Wajah Antasari tampak tertegun dan menahan emosi. Dia tampak muram namun berusaha tenang. Sementara suasana di sekitar persidangan menjadi gaduh oleh suara para pengunjung sidang. Dua perempuan berbaju hijau, dan berjilbab merah tampak menangis. Sementara kedua putri Antasari nampak pasrah. Mereka saling pandang dan tertawa getir. Tampak mereka saling menguatkan satu sama lain. Suasana persidangan pun semakin gaduh oleh suara pengunjung.

Istri Antasari Azhar, Ida Laksmiwati, tampak enggan berkomentar banyak saat puluhan wartawan memberondong pertanyaan soal vonis 18 tahun yang diterima suaminya.  “Kawan-kawan wartawan kami mohon maaf, saya minta semuanya bersabar. Nanti saya layani satu per satu,” ujar Ida, menjawab pertanyaan para wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kendati demikian, Ida mengaku vonis yang diputuskan majelis hakim sudah dibayangkan sebelumnya. “Putusan ini mendapat diskon,” tandas Ida yang kala itu mengenakan pakaian warna hijau.
 
Ida nampak tabah menyikapi vonis yang diterima suaminya. Saat para pendukung Antasari berteriak karena tak puas dengan putusan hakin, Ida justru hanya menebar senyuman.“Saya memaklumi kemarahan teman-teman bapak. Mereka mungkin kecewa dengan putusan ini. Kebanyakan dari mereka adalah teman sekolah dan jaksa-jaksa dari daerah,” tukasnya.
Sementara itu Keluarga Antasari Azhar yang lain histeris mendengar vonis 18 tahun penjara dari majelis hakim. Mereka pun langsung berteriak-teriak, usai majelis hakim mengetuk palu tanda sidang selesai. Usai sidang selesai, anak Antasari langsung melompat kursi untuk mendatangi ayahnya. Dia pun langsung memeluk Antasari. Di tempat yang sama, Asnawati Azhar, adik Antasari, langsung histeris dengan melontarkan kata. “Kakakku bukan penjahat. Mana hakimnya,” teriak Asnawati

Keluarga tidak terima Antasari Azhar divonis 18 tahun penjara. Keluarga Antasari menangis histeris dan memprotes vonis yang dianggap tidak adil itu. “Jaksa salah! Jaksa salah! Bapak tidak salah. Saya tahu itu rekayasa,” teriak adik Antasari, Wati, sambil menangis usai sidang pembacaan vonis. Wati tidak mampu membendung kesedihannya. Perempuan yang mengenakan kerudung pink dan baju warna ungu itu nyaris jatuh pingsan. Wati ditenangkan keluarga Antasari lainnya.”Istiqhfar…,” kata seorang kakak Antasari sambil terus mengipasi Wati. Beberapa Polwan yang ingin membantu membopong juga disemprot oleh Wati. “Saya tidak mau dipegang polisi. Pergi kalian polisi!” kata Wati sambil terus menangis sesegukan.

Dalam sidang vonis, Wati terlihat menangis saat majelis hakim yang diketuai Herry Swantoro memvonis kakak tercintanya 18 tahun penjara. Wati terus membasuh air matanya. Dia juga menutup telinganya dengan earphone lalu berkomunikasi dengan handphone.2 Perempuan lain yang juga keluarga Antarsari terlihat meneteskan air mata. “Saya saja yang dipenjara. Nih penjara sekalian,” protes mereka sambil bergegas menuju mobil.

Seperti halnya antasari ke 4 tersangka lainya juga dihukum penjara , Sidang vonis Wiliardi Wizar dan Sigid Haryo Wibisono digelar di PN Jaksel, Kamis (11/2). Wiliardi Wizar divonis 12 tahun penjara, sementara Sigid Haryo Wibisono divonis 15 tahun penjara

Antasari Naik Banding

Setelah divonis bersalah dan harus menerima 18 tahun penjara, Antasari Azhar mengatakan menghargai putusan tersebut. Kepada Majelis Hakim, Antasari mengakui dirinya sangat menghargai obyektivitas dari Majelis Hakim sejak awal persidangan hingga akhir sidang vonis. “Sebagai warga negara dan penegak hukum, beri kesempatan kami untuk mewujudkan kebenaran dan menggapai keadilan. Pada kesempatan ini kami mengajukan banding,” ujar Antasari di ruang sidang vonis, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Permintaan naik banding Antasari mendapat sambutan teriakan histeris dari pengunjung sidang yang kebanyakan pendukung Antasari Azhar.

Di pihak lain, Jaksa Penuntut Umum, Cyrus Sinaga, ketika ditanya Majelis Hakim tanggapannya atas putusan sidang, mengatakan bahwa jaksa akan pikir-pikir.

Kronologis Sidang Kasus Antasari

Sidang Antasari Azhar akan segera diakhiri dengan vonis. Selama sidang, banyak momen-momen mengejutkan terjadi. Momen itu antara lain pengakuan Kombes Wiliardi Wizar yang mengaku ditekan penyidik serta petinggi Polri untuk mengaitkan nama Antasari dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Wili mengatakan, ia didatangi oleh Irjen Pol Hadiatmoko, saat itu Wakabareskrim, dan mantan Dirkrimum Polda Metro Kombes M Iriawan. Keduanya meminta agar ia menyamakan BAP-nya dengan milik Sigid Haryo Wibisono, yang menyatakan bahwa perintah membunuh Nasrudin datang dari mulut Antasari.

“Jam 10.00 WIB pagi saya didatangi oleh Wakabareskrim Irjen Pol Hadiatmoko. Dia katakan sudah kamu ngomong saja, kamu dijamin oleh pimpinan Polri tidak ditahan, hanya dikenakan disiplin saja,” kata Wiliardi dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, 10 November lalu.

Keterangan Wili ini adalah salah satu peristiwa penting dalam persidangan Antasari yang telah berlangsung selama empat bulan ini. Berikut momen-momen penting lainnya yang muncul sejak sidang pertama kali digelar pada 8 Oktober 2009:

8 Oktober 2009

Sidang perdana Antasari digelar oleh Ketua Majelis Hakim Herry Swantoro. Jaksa mendakwa Antasari turut serta dalam penganjuran atau pembujukan untuk membunuh Nasrudin. Mereka menilai Antasari melanggar pasal 55 ayat 1 ke-1 junto 55 ayat 1 ke-2 junto pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Jaksa membacakan dakwaan dimulai cerita esek-esek Antasari dengan Rhani Juliani di Kamar 803 Hotel Gran Mahakam. Menurut jaksa, dari peristiwa itulah awal mula terjadinya pembunuhan. Antasari mengaku tidak mengerti dakwaan itu.

15 Oktober 2009

Antasari dan tim kuasa hukumnya membacakan tanggapan atas dakwaan jaksa (eksepsi). Ia menilai dakwaan jaksa adalah upaya untuk membunuh karakternya. Dakwaan jaksa menurutnya juga kabur, tidak jelas, dan tidak cermat. Sementara pengacara menilai adanya konspirasi untuk melengserkan Antasari dari kursi ketua KPK. Takut konspirasi itu diketahui, maka sang sutradara menghabisi nyawa Nasrudin.

29 Oktober 2009

Hakim menolak eksepsi Antasari dan pengacaranya. Sidang dilanjutkan dua kali dalam sepekan dengan agenda pemeriksaan saksi sebanyak 45 orang belum termasuk saksi meringankan dari terdakwa.

3 November 2009

Saksi yang pertama kali diperiksa adalah Rhani Juliani, istri siri korban. Namun, mantan caddy golf Modern Land Tangerang, Banten, itu batal bersaksi karena jaksa kurang berkoordinasi. Sidang memeriksa istri pertama dan kedua Nasrudin, Sri Martuti dan Irawati Arienda.

5 November 2009

Rhani akhirnya dihadirkan ke persidangan, namun kesaksian perempuan berumur 23 tahun itu diambil secara tertutup. Sidang tertutup ini berlangsung selama enam jam dari pukul 14.00 WIB, hingga pukul 20 WIB.

Sidang sebelumnya juga memeriksa Sigid. Pengusaha ini mengatakan untuk menghentikan teror Nasrudin, Antasari usul korban dijebak sebagai pengguna narkoba. Sigid juga mencabut keterangannya di depan penyidik bahwa Antasari memerintahkan pembunuhan itu.

10 November 2009

Wili bersaksi untuk Antasari. Sambil mengucap sumpah ia mengatakan, penahanan Antasari dikondisikan oleh beberapa petinggi kepolisian. Mantan Kapolres Jaksel itu diminta mengaitkan Antasari, karena mantan Direktur Penuntutan itu Kejagung telah ditargetkan sebagai tersangka.

Kesaksian Wili ini menggemparkan publik dan makin menguatkan dugaan adanya rekayasa dalam penetapan Antasari sebagai tersangka. Hadiatmoko, Iriawan, dan 11 penyidik dijadwalkan hadir di persidangan untuk dikonfrontir. Sebelum itu, Mabes Polri mengadakan jumpa pers untuk membantah keterangan Wili. Mabes juga memutar video yang menyatakan Antasari ingin membubarkan KPK.

17 November 2009

“Faktanya tidak seperti itu,” kata Hadiatmoko membantah keras keterangan Wili saat bersaksi di depan hakim. Dia juga menyatakan tidak terlibat dalam penyidikan Wiliardi. Senada dengan Hadiatmoko, Iriawan yang merupakan kawan seangkatan Wili juga membantah melakukan penekanan. Penyidik lainnya pun seia-sekata.

8 Desember 2009

Lima Eksekutor lapangan dihadirkan sebagai saksi pasca dituntut seumur hidup di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten. Namun, dari lima itu, hanya Eduardus Ndopo Mbete alias Edo saja yang mau bersaksi. Heri Santosa sudah menolak dibawa ke pengadilan. Sementara Hendrikus Kia Walen, Fransiskus Tadon Keran, dan Daniel Sabon enggan bersaksi. Dalam kesempatan tersebut, sidang juga mendengarkan keterangan dari terdakwa Jerry Hermawan Lo. Jerry merupakan penghubung antara Wiliardi dan Edo sebagai pencari eksekutor.

10 Desember 2009

Ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Mun’im Idris bersaksi di persidangan. Ia menguraikan, jasad Nasrudin sudah dimanipulasi saat dibawa ke rumah sakitnya untuk diotopsi. Dia juga mengaku polisi meminta menghapus keterangan bahwa proyektil yang ditembakkan ke kepala Nasrudin berukuran 9 milimeter. Atas keterangannya ini, Mun’im dipanggil Polda Metro Jaya untuk memberikan klarifikasi keesokan harinya.

15 Desember 2009

Saksi ahli digital foresik Ruby Alamsyah memutar rekaman percakapan Rhani dan Antasari di Kamar 803 Hotel Gran Mahakam. Rekaman itu diambil oleh Nasrudin melalui HP Nokia E 65 yang sedang tersambung dengan HP Rhani. Namun, rekaman tersebut tidak jelas dan justru tawa cekikikan Rhani yang dominan. Rekaman berdurasi 15 menit itu diawali dengan pembicaraan seputar golf dan berujung kalimat, “Dih, bapak dibuka,” oleh Rhani.

Ruby dalam kesempatan tersebut juga memutar rekaman pembicaraan antara Sigid dan Antasari, namun karena juga tidak jelas terdengar, pengacara Antasari meminta untuk distop. Kemudian Ruby menayangkan gambar video pertemuan kedua orang itu yang, lagi-lagi, tidak sempurna.

17 Desember 2009

Giliran pengacara Antasari menghadirkan saksi meringankan. Pertamakali, mereka mendatangkan dua orang ahli IT dari ITB, Agung Harsoyo dan Aldo Alfian, untuk membuktikan apakah Antasari benar mengirimkan SMS ancaman kepada Nasrudin. Ahli tersebut mengatakan sebuah SMS bisa dikirim tanpa sepengetahuan pemilik nomor.

22 Desember 2009

Ahli ITB itu didatangkan kembali dan mengatakan SMS yang berinisial belakang “AA” itu tidak ada di HP Nasrudin. Majelis hakim mengeluarkan penetapan untuk meminta data Call Detail Record (CDR) untuk menemukan siapa yang mengirimkan SMS gelap tersebut.

29 Desember 2009

Atlet tembak Nasional Roy Haryanto dihadirkan ke persidangan. Roy mengatakan pistol revolver S&W yang digunakan untuk menembak Nasrudin tidak bisa dioperasikan oleh seorang amatir. Butuh latihan menggunakan 3.000-4.000 peluru untuk mahir menggunakan senjata tersebut. Ia mengungkapkan pistol itu juga sudah agak rusak, sehingga sulit dipakai.

Istri Wili, Novarina, juga dihadirkan sebagai saksi. Dia mengeluhkan sulitnya menjenguk suaminya saat diperiksa di Mabes Polri. Ia juga membenarkan suaminya diminta untuk membuat BAP tentang pelibatan Antasari salam perencanaan pembunuhan Nasrudin.

5 Januari 2010

Ahli IT dari ITB, Agung Harsoyo mengungkapkan kesimpulannya dari pembacaan CDR dari empat operator. Ia menemukan tidak ada transaksi SMS dari enam nomor milik Antasari kepada Nasrudin sepanjang Januari Maret 2009. Sebaliknya ia menemukan baik Antasari maupun Nasrudin menerima SMS yang tidak teridentifikasi pengirimnya. Ia menduga SMS itu dikirim melalui webserver. Pengacara Antasari pun mesinyalir adanya oknum yang mengadu domba Nasrudin dengan kliennya. Namun, hingga kini, tidak diketahui siapa pengirim SMS misterius tersebut.
 
7 Januari 2010

Secara mengejutkan, mantan Kabareskrim Susno Duadji hadir di persidangan sebagai saksi yang meringankan bagi Antasari. Dalam kesaksian selama 1 jam itu, Susno mengungkapkan dua hal pokok. Pertama, Hadiatmoko menjadi tim pengawas penyidikan kasus Nasrudin. Kedua, Kapolri membentuk tim untuk mencari motif Antasari membunuh Nasrudin, namun gagal menemukan.

12 Januari 2010

Antasari diperiksa sebagai terdakwa.

19 Januari 2010

Jaksa Cirus Sinaga menuntut hukuman mati bagi Antasari. Jaksa berkeyakinan terdakwa bersalah ikut serta melakukan pembujukan untuk membunuh korban. Tidak ada hal-hal yang meringankan bagi Antasari. Sebaliknya, jaksa mencatat setidaknya ada 10 hal yang memberatkan Antasari. Di antaranya, Antasari telah mencoreng citra penegak hukum, melakukan tindakan pidana bersama perwira polisi, dan sering membuat gaduh di persidangan.

29 Januari 2010

Antasari dan tim pengacara membacakan pledoi atau nota pembelaan. Dia menolak seluruh dakwaan jaksa dan mengatakan tuntutan jaksa hanyalah hasil imajinasi semata.Pengacara Antasari yang membuat pledoi sebanyak 700-an halaman menyatakan tuntutan jaksa penuh rekayasa. Mereka juga terang-terangan menuding Sigid adalah salah satu pelaku di balik konspirasi menjatuhkan Antasari dari KPK. Mereka juga meminta hakim tidak pertimbangkan kesaksian Rhani karena sosoknya yang tidak bermoral.

2 Februari 2010

Jaksa membacakan replik (tanggapan atas pledoi). Mereka meminta Antasari mencabut tuduhan tuntutan mati itu merupakan imajinasi. Jaksa juga menyerang balik Antasari terkait pencelaan terhadap Rhani.

5 februari 2010

Antasari membacakan duplik, jawaban atas replik jaksa.

KORAN DEMOKRASI INDONESIA
https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: