Oleh: Indonesian Children | April 11, 2010

Jenderal Kontroversial, Pantaskah Jadi ketua KPK

Jenderal Kontroversial, Pantaskah Jadi ketua KPK
 


 
Saat melantik Susno Duaji  menjadi Kabareskrim Mabes Polri, Kapolri  mengatakan alasan pengangkatannya karena kredibilitas dia baik. “Orangnya konsisten, keras, tidak ada kompromi”. Ternyata alasan kapolri tersebut terbukti saat ini Susno mulai terlihat sepak terjangnya di dunia hukum, politik dan karir kepolisian demikian kontroversial. Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji, bisa jadi menjadi salah seorang yang bintang fenomenal di Indonesia tahun ini. Beberapa saat yang  lalu, ia menjadi cacian dan makian masyarakat Indonesia. Tidak lain karena dampak dari kontroversi dan perseteruan cicak dan buaya melawan Bibit dan Chandra wakil ketua KPK. Tidak saja dicaci maki, gambar wajahnyapun diubah-ubah menyerupai monster dan drakula yang menakutkan oleh para demonstran. Bahkan masyarakat ramai-ramai merekomendasikan pencopotan dari jabatan kabareskrim, hingga pemecatan dari keanggotaan Polri. Dunia seperti terbalik ketika saat ini Susno dipuja bahkan sebagian masyarakat beramai ramai ingin mengangkat Susno jadi ketua KPK. Pantaskah Susno jadi ketua KPK ?

Ternyata roda memang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Siapa sangka sebagai bekas orang yang teraniaya saat Cicak Buaya,  Jenderal bintang tiga ini malah mendapatkan bintang yang bersinar terang justru saat dia tidak berkiprah aktif di kepolisian. Ini karena sikap keberanian yang ditunjukkannya. Memberikan kesaksian yang meringankan pada persidangan Ketua KPK, Antansari. Ia juga yang berani membuka dan membongkar rahasia di tubuh Polri. Yang paling heboh adalah membongkar makelar kasus (markus) perpajakan, Rp 25 miliar, yang diduga melibatkan rekan sejawatnya. Tidak segan, ia menuding para jenderal Polri sebagai pelaku markus perpajakan. Atas tindakannya pula, kini ia harus menyandang status tersangka atas tindak pidana dugaan pencemaran nama baik.
Masyarakat dan sebagian anggota DPR yang dulu mencaci dan mencibirnya habis-habisan, kini berbalik arah memberikan dukungan. Dunia jejaring facebook pun, juga ramai memberikan dukungan. Tidak saja dalam dukungan mengungkap kasus-kasus di tubuh Polri. Bahkan iapun juga didukung untuk menjadi orang nomor satu di jajaran Polri, yakni sebagai Kapolri. Bahkan kelompok lain dengan lantang meneriakkan agar Susno diangkat sebagai letua KPK. Setidaknya, di jejaring facebook, ada 12 grup yang mendukung keberanian Susno Duadji. Di grup-grup ini, Susno mampu mendulang suara yang mencapai 7 ribuan anggota.
Perubahan cerita yang sangat drastis tersebut tampaknya harus lebih dicermati secara mendalam. Keberanian Susno menentang arus dalam menyidik wakil ketua KPK dalam kasus Cicak Buaya tersebut diperlukan kajian ulang lebih mendalam. Bila melihat keberanian dan kengototannya dalam mengungkapkan berbagai kebrobokan di Lingkungan Polri maka tampaknya tidak ada salahnya untuk mengevaluasi ulang sepak terjang Susno dalam kasus Cicak Buaya.
Secara logika umum, seorang yang mempunyai riwayat darah tidak putih atau koruptor pasti tidak akan berani secara moral berbicara banyak di berbagai tempat dalam melawan korupsi apalagi yang dibongkar adalah di Intitusinya. Seorang bekas maling atau pernah punya riwayat koruptor akan gamang secara moral bila harus bicara untuk melawan korupsi. Tetapi tampaknya Susno tidak, dengan lugas, tegas dan konsisten sangat berani berusaha mengungkapkan kebenaran menurut dirinya.
Mengapa dalam hitungan detik Susno dicaci kemudian berubah jadi dipuja menjadi pahlawan. Pasti ada yang tidak benar dalam menilai fenomena selama ini. Ada dua analisa yang dapat menyikapi perubahan drastis dalam fenomena Susno itu. Pertama kasus Susno dalam Cicak buaya adalah memang salah dan kasus Susno dalam berbagai kasus yang diungkapkannya saat ini adalah bohong besar. Kemungkinan kedua kasus Cicak Buaya Susno dalam posisi yang benar. Demikian pula saat ini berbagai terbosannya dalam mengungkapkan kasus korupsi di instusinya adalah benar.
Bila analisa yang pertama dipakai maka pasti semua nyanyian Susno selama ini adalah bohong besar. Tetapi melihat fakta dan bukti yang secara pasti mulai terungkap. Segala kebenaran yang diucapkan Susno mulai satu persatu terbukti. Tampaknya karakter keras, konsisten dan tanpa kompromi seorang Susno merupakan poin yang dapat menambah nilai untuk melihat kebenaran seorang Susno selama ini. Bila hal itu benar terjadi maka selama ini arus masyarakat yang demikian besar melawannya dalam kasus Cicak Buayapun bisa saja dalam arus yang salah.

Perjalanan karir
Komjen Pol Drs. Susno Duadji, S.H, M.Sc. (lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juli 1954; umur 55 tahun) adalah mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim Polri) yang menjabat sejak 24 Oktober 2008 hingga 24 November 2009. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kapolda Jawa Barat. Susno Duadji merupakan lulusan Akabri Kepolisian dan mengenyam berbagai pendidikan antara lain PTIK, S-1 Hukum, S-2 Manajemen, dan Sespati Polri. Ia juga mendapat kursus dan pelatihan di antaranya Senior Investigator of Crime Course (1988), Hostage Negotiation Course (Antiteror) di Universitas Louisiana AS (2000), Studi Perbandingan Sistem Kriminal di Kuala Lumpur Malaysia (2001), Studi Perbandingan Sistem Polisi di Seoul, Korea Selatan (2003), serta Training Anti Money Laundering Counterpart di Washington, DC, AS  Susno adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Duadji, seorang sopir dan ibunya, Siti Amah, seorang pedagang kecil. Ia adalah suami dari Herawati dan bapak dari dua orang putri.
Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno yang menghabiskan sebagian karirnya sebagai perwira polisi lalu lintas, sudah juga mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi. Karirnya mulai meroket ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan berturut-turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang. Susno mulai ditarik ke Jakarta, ketika ditugaskan menjadi kepala pelaksana hukum di Mabes Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK pada tahun 2003. tahun 2004 dia ditugaskan di Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK ). Sekitar tiga tahun di PPATK, Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda Jabar dan sejak 24 Oktober 2008, dia menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri menggantikan Bambang Hendarso Danuri.
Susno Duadji sempat menyatakan mundur dari jabatannya pada tanggal 5 November 2009, akan tetapi pada 9 November 2009 ia aktif kembali sebagai Kabareskrim Polri. Namun demikian, pada 24 November 2009 Kapolri secara resmi mengumumkan pemberhentiannya dari jabatan tersebut. Kode sebutan (call sign) Susno sebagai “Truno 3″ atau orang nomor tiga paling berpengaruh di Polri setelah Kapolri dan Wakapolri, menjadi populer di masyarakat umum setelah sering disebut-sebut terutama dalam pembahasan kasus kriminalisasi KPK. Meskipun demikian, kode resmi untuk Kabareskrim sesungguhnya adalah “Tribrata 5″, sedangkan Truno 3 adalah kode untuk Direktur III Tipikor (Tindak Pidana Korupsi).
Berbagai kontroversi  yang sangat fenomental adalah salah satunya pernyataan Susno yang berbunyi “Ibaratnya di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya” telah menimbulkan kontroversi hebat di Indonesia. Akibat dari pernyataan ini muncul istilah “cicak melawan buaya” yang sangat populer. Istilah ini juga memicu gelombang protes dari berbagai pihak dan membuat banyak pihak yang merasa anti terhadap korupsi menamakan diri mereka sebagai Cicak dan sedang melawan para “Buaya” yang diibaratkan sebagai Kepolisian. Kontroversi lainnya adalah kode “Truno 3″ disebut dalam percakapan yang disadap oleh KPK sehubungan dengan kasus bank Century.
Sedangkan pernyataan kontroversial lain adalah kebijaksanaan Susno yang berbunyi “Jangan Pernah Setori Saya” juga sangat terkenal saat beliau menjabat sebagai kapolda Jabar juga menjadi perhatiann banyak kalangan. Sepak terjang lainnya adalah Susno mengungkapkan adanya seorang pegawai pajak yang mempunyai rekening tidak wajar. Pegawai pajak yang dimaksud adalah Gayus Tambunan dan akibat dari terbongkarnya kasus ini, beberapa jendral polisi , pejabat kejaksaan, kehakiman dan aparat dari Kementrian keuangan kehilangan jabatanya dan diperiksa atas dugaan bersekongkol untuk merugikan negara

Keras, Konsisten dan Tanpa kompromi
Ternyata alasan Kapolri saat mengangkat Susno sebagai kabareskrim bahwa dia adalah sosok keras, konsisten dan tanpa kompromi adalah benar adanya. Bahkan alasan itulah yang sempat merepotkan Kapolri dan institusinya saat Susno banyak mengeluarkan manuver dan opininya di berbagia media dan kalangan termasuk DPR.
Bahkan sempat yang diakunya saat dalam dengar pendapat dengan anggota komisi III DPR, Susno menjelaskan bahwa dirinya dicopot dari Jabatan dan ditunda naik pangkatnya adalah hal yang biasa. Saat menjadi Letnan Satu di Jawa Tengah dalam menyidik kasus korupsipun dia tidak mau melepas orang penting dalam kasus yang ditangani. Meski harus melawan Kapoldanya, akhirnya dia dicopot dari jabatannya gara-gara kasus tersebut. Bahkan karena karakter keras  dan tanpa komprominya maka Susno seringkali dihambat kenaikkan pangkatnya. Tetapi justru saat pertambahan  pangkat bintangnya Susno mengaku termasuk sangat cepat.
Keberanian menentang arus inilah yang patut diacungi jempol. Bahkan saat menelidiki dan menyidik kasus wakil ketua KPK Bibit dan Chandra Susno juga tidak takut sekalipun melawan arus masyarakat yang demikian besar menentangnya dan membela secara buta terhadap wakil ketua KPK tersebut. Bahkan saat itu dengan berani dia menghadap ke KPK untukminta  disidik dan diselidiki tentang dugaan suap 10 milyar terhadap dirinya. Tetapi ternyata KPK tidak melakukannya. Meski sampai saat ini masih belum jelas kasus Cicak Buaya tersebut dan masih menjadi misteri.
Keberanian dalam menghadapi kebenaran, tampaknya dapat mengambil sikap teladan salah seorang filsuf besar Yunani yaitu Socrates. Dituduh telah meracuni pemikiran anak-anak muda Athena pada masa itu, akhirnya Socrates rela dihukum mati dengan cara menenggak racun. Meskipun sebenarnya Socrates tak bersalah dan bisa saja melarikan diri karena teman-temannya dari anak bangsawan yang menawarkan diri untuk menyuap pengawal penjara. Namun, atas nama kebenaran yang diyakininya, ia berani menghadapi berbagai risiko, termasuk kematian. Meski saat ini Susno tidak harus disuruh minum racun, tetapi Susno dipaksa untuk kalah dalam pertarungan dalam Cicak Buaya.  Tetapi dengan motivasi yang tinggi dan berani mati Susno membuka borok yang ada dalam tubuh Polri. Korps yang paling dicintainya selama ini.
Melihat sepak terjang dan karakter yang keras, konsisten dan tanpa kompromi serta berbagai pengalamannya dalam pemberantasan korupsi. Maka tidak ada salahnya perlu dipertimbangkan berbagai suara yang berani mengusulkan Susno menjadi kertua KPK. Diluar sifat negatif yang berbagai pihak gunjingkan, tampaknya Susno sampai saat ini masih belum terbukti apapun dari berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya. Diluar pelanggaran etika korps yang diarahkan kepadanya tampaknya karakter kekuatan dan pengalaman Susno akan menjadikan modal sangat besar untuk dipercaya menjadi ketua KPK. KPK adalah ujung tombak dan harapan terakhir masyarakat dalam mendapatkan keadilan dalam menghancurkan korupsi di Indonesia. KPK yang mandiri tanpa intervensi pihak manapun perlu nyali seperti seorang Susno. Ruwetnya permasalahan korupsi di Indonesia tampaknya memerlukan tenaga dan darah Susno yang berani mati dan mempertaruhkan nyawanya demi masalah negara. Semoga segala keraguan akan putihnya Susno dan berbagai gunjingan negatif tentang Susno benar tidak pernah terjadi. Bila benar seperti itu adanya maka Susno adalah jodoh yang paling cocok untuk ditimang sebagai calon ketua KPK. Bila semua itu benar semoga saja Susno dapat menjadi Hoegeng yang baru ditempat yang baru, ketua KPK !

Dr Widodo Judarwanto SpA

KORAN DEMOKRASI INDONESIA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: