Oleh: Indonesian Children | April 27, 2010

Kasus Suap DPR Sulit Diungkap Karena Nunun Lupa Berat

Kasus Suap DPR Sulit Diungkap Karena Nunun Lupa Berat

Komisi Pemberantasan Korupsi hingga kini masih belum dapat menghadirkan Nunun Nurbaeti Daradjatun dalam persidangan. Padahal Nunun disebut memiliki peran penting dalam kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Indonesia Corruption Watch menilai KPK harus segera memanggil paksa Nunun dan menetapkan istri mantan Wakapolri Komjen (Purn) Adang Daradjatun itu sebagai tersangka.  “Dia menjadi kunci dalam kasus ini, dia yang mengalirkan cek dari pihak pemberi ke penerima,” kata Wakil Koordinator ICW, Emerson Yuntho, saat dihubungi, Rabu 14 April 2010.

Keterangan Nunun diperlukan untuk mengungkap asal cek perjalanan yang diterima anggota DPR paska terpilihnya Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004. Hal ini karena dalam seluruh dakwaan para terdakwa disebutkan mereka menerima cek perjalanan yang berasal dari BII itu uang diberikan oleh Nunun Nurbaeti Daradjatun melalui Ahmad Hakim Safari MJ alias Arie Malangjudo.

Emerson mengaku kecewa dengan tindakan KPK yang telat mencegah Nunun bepergian ke luar negeri. Emerson menduga, alasan Nunun menderita sakit adalah untuk menghindar dari persidangan. “Seharusnya KPK mengantisipasi dari awal, karena Nunun adalah saksi kunci dalam kasus ini,” ujarnya. KPK pun diminta segera menunjuk dokter pembanding untuk memeriksa penyakit Nunun. “Jika dia tidak dapat dijerat, kami pesimis kasus ini bisa terbongkar hingga tuntas,” ujarnya.

Keterangan Nunun diperlukan untuk mengungkap asal cek perjalanan yang diterima anggota DPR paska terpilihnya Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004.  Hal ini karena dalam seluruh dakwaan para terdakwa disebutkan mereka menerima cek perjalanan yang berasal dari BII itu uang diberikan oleh Nunun Nurbaeti Daradjatun melalui Ahmad Hakim Safari MJ alias Arie Malangjudo.

Kronologis Kasus Suap Cek Pelawat

TELEPON seluler Udju Djuhaeri berdering. Suara renyah perempuan terdengar di seberang sana. Wanita itu, Nunun Nurbaetie, meminta anggota Fraksi TNI/Polri di Komisi Keuangan dan Perbankan DPR itu datang ke kantornya di Jalan Riau 17, Menteng, Jakarta Pusat. “Nanti ketemu anggota staf saya bernama Arie, ajak juga anggota lain,” kata Nunun.

Hari itu, 9 Juni 2004, sehari setelah pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Setelah menerima telepon dari istri bekas Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Adang Daradjatun tersebut, Udju langsung mengontak koleganya sesama anggota Fraksi TNI: Darsup Yusuf, R. Sulistiadi, dan Suyitno.

Menjelang magrib, menunggang Kijang kapsul yang disetir Suyitno, empat jenderal ini melesat ke Menteng. Mereka sempat berkeliling-keliling, sebelum akhirnya menemukan alamat yang dicari, sebuah rumah yang disulap menjadi kantor. Udju, 62 tahun, mengetuk pintu dan disambut seorang pria paruh baya. Dialah Arie Malangjudo, Direktur PT Wahana Esa Sejati, perusahaan yang sahamnya sebagian besar dimiliki Nunun Nurbaetie.

Arie, seperti pengakuannya kepada penyidik, mengajak tamunya ke ruang rapat. “Ada titipan dari Bu Nunun,” katanya sambil menyerahkan kantong kertas belanja warna cokelat. Udju menerima dan mengeluarkan isinya: empat amplop putih yang bertulisan namanya dan ketiga kawannya. Setiap amplop berisi sepuluh cek pelawat senilai Rp 500 juta. Inilah cek yang membawa pensiunan inspektur jenderal polisi itu duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Komisi Pemberantasan Korupsi menduga cek-cek itu suap untuk memenangkan Miranda Swaray Goeltom dalam pemilihan gubernur Senior Bank Indonesia pada pengujung masa kerja DPR periode 1999-2004 itu. Dalam voting tertutup, 8 Juni 2004, Miranda menang mutlak. Dia mengantongi 41 suara, mengalahkan dua pesaingnya, Budi Rochadi dan Hartadi A. Sarwono.

Dugaan suap di balik kemenangan Miranda pertama kali “diledakkan” Agus Condro Prayitno. Anggota Komisi Keuangan PDI Perjuangan inilah yang membeberkan perihal adanya muncratan duit dalam pemilihan Miranda itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Udju, kepada penyidik, juga mengaku pernah ditelepon Adang Daradjatun sebelum hari pemilihan. Bekas atasannya itu meminta anggota Fraksi TNI/Polri mendukung Miranda.

Adang membantah dirinya terlibat kasus cek ini. Dua pekan lalu, dalam konferensi pers, ia menyatakan dirinya tak terlibat apa pun dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI. “Saya tak tahu-menahu,” katanya. Ihwal keterkaitan istrinya dalam pusaran suap senilai Rp 24 miliar pun, Adang mempersilakan pengadilan menelusurinya.

Nunun kini tinggal di Singapura. Empat kali panggilan pengadilan, empat kali pula ibu empat anak ini tak datang dengan alasan diserang penyakit lupa berat. Adang menyatakan istrinya terkena amnesia akibat stroke pada akhir tahun lalu, setelah selama bertahun-tahun menderita migrain dan vertigo. Sakit Nunun itu dikuatkan surat keterangan dokter. “Dia sudah tak bisa mengingat peristiwa di masa silam,” kata Andreas Harry, dokter saraf yang merawat Nunun sejak 2006.

Tanggal 8 Juni 2004. Ketika 54 anggota Komisi Keuangan mencecar tiga calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, sebuah kesibukan terjadi di Bank Internasional Indonesia. BII mendapat telepon dari teller Bank Artha Graha. Bank itu memesan 480 cek pelawat dengan nilai setiap lembar Rp 50 juta. Saat diperiksa penyidik, Krisna Pribadi, Kepala Traveller Cheque BII, menyatakan salah satu nasabah Artha saat itu memerlukan cek perjalanan dengan segera. Pemesanan cek terjadi saat kantor baru buka, sekitar pukul delapan.

Sejam kemudian cek-cek itu siap. Mendapat kepastian Artha Graha telah mentransfer Rp 24 miliar untuk pembelian cek itu, Krisna meluncur ke kantor Bank Artha Graha di gedung Artha Graha di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Di sana ia diterima Tutur, Kepala Teller Artha Graha. Setengah jam kemudian Krisna mendapat surat pernyataan pembelian yang diteken seseorang di atas meterai tanpa tertera nama.

Dari surat itu Krisna baru tahu bahwa nasabah Artha Graha yang membeli cek adalah PT First Mujur Plantation & Industry. Kepada penyidik, Krisna mengaku heran mengapa pembeli dan pemesan bisa berbeda. Uang yang ditransfer dari rekening Artha Graha, tapi pembelinya pihak lain. “Saya tak tahu mengapa bisa seperti itu,” katanya seperti dikutip sumber Tempo.

Pada hari yang sama, kesibukan juga terjadi di lantai 27 gedung Artha Graha, tempat PT First bermarkas. Hidayat Lukman, pemilik PT First Mujur, memerintahkan Budi Santoso, direktur keuangannya, mentransfer uang kepada Suhardi Suparman alias Ferry Yen. Dua bulan sebelumnya Hidayat dan Ferry bersetuju membeli kebun sawit 5.000 hektare di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, seharga Rp 75 miliar.

Keduanya sepakat berkongsi dengan pembagian saham 80 persen untuk Hidayat dan sisanya dipegang Ferry. Hidayat-biasa dipanggil Teddy Uban-berniat membayar uang muka Rp 24 miliar. Budi segera memindahkan uang sejumlah yang diminta Teddy di rekening Bank Artha Graha ke rekening penampungan.

Budi sudah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi. Kepada penyidik dia menyatakan uang itu merupakan pinjaman berjangka dari Artha Graha yang ditransfer hari itu juga. Ia menerima uang tersebut dalam bentuk cek tunai tujuh lembar. Menurut pengakuan Budi, Ferry meminta pembayaran dalam bentuk cek pelawat dengan nilai nominal setiap lembar Rp 50 juta.

Menurut Budi, setelah disetujui Teddy Uban, ia mengajukan permintaan pembelian cek perjalanan ke Artha Graha. Sejam sebelumnya, Krisna Pribadi baru meninggalkan kantor Artha Graha setelah menyerahkan cek dengan nomor seri 135-010191 sampai 135-010670. Menurut Budi, ratusan cek itu lantas diserahkan semuanya ke Ferry Yen.

Teddy tak bisa dimintai konfirmasi perihal kejanggalan, misalnya, mengapa Ferry meminta pembayaran lewat traveller’s cheque dengan nomor seri yang sama dengan yang masuk ke kantong anggota Dewan. Kepada Tempo, salah seorang anaknya mengatakan ayahnya masih dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, untuk operasi kanker sumsum tulang belakang.

Adapun Ferry sudah meninggal pada 7 Januari 2007. Menurut Budi, ia wafat meninggalkan utang Rp 10,2 miliar-biaya pembelian kebun sawit yang ternyata batal-kepada First Mujur. Harusnya Ferry mengembalikan cek yang sudah kadung diterimanya. Sebelum meninggal, demikian ujar Budi, ia sempat mencicil 15 kali senilai Rp 13,2 miliar. Aneh bin ajaib, Teddy membayar sisa utang ke Artha Graha itu tanpa meminta keluarga Ferry melunasi pinjaman almarhum.

Ferry sendiri misterius. Sejumlah pengusaha sawit di Tapanuli yang dihubungi Tempo mengaku tak pernah mengenal Ferry. Kepada Tempo, Linda Suryadi, istri Ferry, mengaku tak tahu pekerjaan suaminya. “Saya baru tahu soal suami saya setelah namanya disebut di pengadilan,” ujarnya.

Yang tak misterius adalah cek yang diklaim diterima Ferry. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menelusuri hampir semua cek dan menemukan bahwa cek itulah yang diterima Udju Djuhaeri dan 38 anggota Komisi Keuangan lainnya dari Arie Malangjudo. Dua peristiwa berbeda hulu, kini bermuara di satu nama: Nunun Nurbaetie.

SEJUMLAH pertanyaan kini menggantung: apa hubungan Ferry dan Nunun? Bagaimana cek yang diklaim dimiliki Ferry belakangan malah berlabuh di tangan anggota Dewan? Di pengadilan, Budi Santoso mengaku tak tahu mengapa cek-cek itu bisa lepas dari tangan Ferry.  Keanehan sebenarnya sudah terjadi sejak awal pembelian cek. Dalam surat perjanjian jual-beli yang diterima Krisna Pribadi, pembeli cek itu dibiarkan kosong tak diteken. Padahal tanda tangan ini penting sebagai validasi jika pemiliknya mencairkan cek di bank. Apalagi jumlahnya banyak. Dengan kolom kosong, pemilik dan pencair cek itu bisa siapa saja.

Karena itu, tak hanya anggota DPR yang kecipratan cek haram itu. Sumarni, sekretaris pribadi Nunun, di pengadilan mengaku telah mencairkan 20 lembar senilai Rp 1 miliar. Katanya, ia disuruh mencairkan cek itu oleh direksi PT Wahana Esa Sembada, perusahaan Nunun yang lain. Tapi Sumarni menyatakan lupa siapa yang menyuruh dan ke rekening siapa duit pencairan cek itu ia transfer. Alhasil, dari 480 cek yang tersebar, tinggal 33 lembar yang belum jelas penerimanya. Cek-cek itu sudah dicairkan tapi belum diketahui hubungannya dengan anggota Dewan.

Kematian Ferry membuat pengusutan sumber cek suap ini buntu. Arie Malangjudo juga tak memberikan keterangan lain selain yang ia sampaikan ke penyidik Komisi. Ditemui Tempo setelah menjadi saksi untuk terdakwa anggota Komisi Keuangan dari Partai Persatuan Pembangunan, Endin A.J. Soefihara, ia hanya menggelengkan kepala. “Keterangan saya sama,” katanya. Sebelumnya, kepada penyidik Endin mengaku hanya disuruh Nunun membagikan cek itu. “Bahkan saya tak tahu bahwa isi amplop itu cek perjalanan,” katanya kepada penyidik.

Lupanya Nunun-jika benar ia terkena penyakit berat yang tak bisa sembuh-juga bakal memutus kaitan cek ini dengan Miranda. Di pengadilan Miranda menyatakan dirinya tak tahu-menahu soal cek pelawat itu. Ia tak menyangkal kenal Nunun. Miranda, seperti penuturan Sumarni, kerap datang ke rumah Nunun jika tuannya itu membuat pesta.

Sejauh ini Komisi belum bisa memetakan dengan jelas bagaimana kaitan Nunun, Miranda, dan First Mujur dalam suap ini. “Yang paling tahu, ya, yang sakit lupa itu,” kata Tumpak Hatorangan Panggabean, pelaksana tugas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, yang berhenti sebulan lalu.

Kepada Tempo, pekan lalu, dokter Andreas Harry menunjukkan hasil pemeriksaan yang menyatakan Nunun tak bisa bersaksi karena tak mampu mengingat. “Ingatannya antara amnesia menuju demensia,” katanya. Demensia adalah memori terberat yang membuat penderitanya lupa sama sekali dengan lingkungannya.

Menurut Andreas, Nunun hanya diperiksa dua kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan sempat pingsan saat akan diperiksa lagi. Penyakit Nunun ini, kata Andreas, memburuk setelah terkena stroke pada 26 Juni 2009 akibat migrain dan vertigo yang dideritanya selama tiga tahun. “Kalau migrainnya kambuh bisa mual dan muntah-muntah,” kata Andreas. Pada saat diperiksa, Nunun sempat lancar ketika menceritakan awal pertemuannya dengan Arie Malangjudo. Hanya, tatkala pertanyaan menginjak soal adanya cek yang disebut Arie, tiba-tiba memorinya raib. Kepada penyidik ia hanya memberi jawaban “tidak tahu” atau “lupa”.

Andreas sempat menyodorkan bukti lain-sesuatu yang sebenarnya tak kuat amat. Bukti itu adalah hasil pemeriksaan kesehatan Nunun oleh Nei I-Ping, dokter saraf dari Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, dan psikolog Geraldine Tan, juga dari Singapura, pada 26 Februari 2010. Di situ Ping menyatakan Nunun menderita alzheimer ringan. Ia menyarankan Nunun minum obat Aricept lima miligram, Neurobion, gingko plus omega 3, dan terapi sebulan sekali. Geraldine juga menyimpulkan hal sama: Nunun menderita penurunan memori.

Kamis pekan lalu Tempo mendatangi Nei I-Ping di RS Mount Elizabeth. Ruang prakteknya cukup luas, sekitar 40 meter persegi, di ruang 04 lantai 11 rumah sakit itu. Setelah melayani dua pasien, ia menerima Tempo. “Saya tahu majalah Anda, saya membacanya di Internet,” kata dokter yang memasang tarif 500 dolar Singapura (sekitar Rp 3 juta) per kunjungan ini.

+ Betul Anda punya pasien bernama Nunun Nurbaetie?

– Saya tidak hafal satu per satu. Tiap hari pasien saya belasan.

+ Maksud saya, seseorang dalam foto ini (Tempo menyodorkan gambar Nunun).

– Ya, dia pasien saya.

+ Sejak kapan dia berobat di sini?

– No comment. Jika saya jawab pertanyaan Anda, izin praktek saya bisa dicabut.”

Keterangan yang lebih jelas datang dari Dr Samino, ahli saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Menurut dia, kebanyakan penderita migrain atau vertigo tak kehilangan fungsi memori intelektual. Sebab, ujar Samino, migrain biasanya menyerang otak besar dan “rumah siput” dalam telinga tempat “saraf delapan” berada. Jika ini terjadi, orang akan menjadi mual dan muntah. “Adapun jika diikuti stroke, yang terganggu adalah memori keseimbangan,” katanya. “Bukan memori intelektual yang ada di otak besar.”

Nunun Nurbaeti Daradjatun divonis menderita penyakit lupa berat yang menjurus ke dimentia alzheimer. Tapi kenapa istri mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Adang Daradjatun itu harus dirawat di Singapura. “Di Singapura alatnya sangat ideal,” kata dr Andreas Harry, dokter yang merawat Nunun, di D’ Lounge, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa 13 April 2010. Andreas menjelaskan, di Singapura Nunun saat ini menjalani psikometrik testing. Perawatan ini diperlukan karena ekstrem intelektualnya sudah sangat menurun. “Kondisi ini akan menjurus ke dimentia alzheimer,” jelas Andreas yang tidak bisa memprediksi kapan pasiennya bisa sembuh.

Mengenai rencana KPK akan menghadirkan dokter pembanding, Andreas mempersilakannya. Namun, Andreas berharap dokter yang dihadirkan KPK memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.  “Saya berani tanggung jawab, itu yang saya tunggu untuk menguji kredibilitas saya. Konsekuensi apa pun akan saya terima, asalkan dokter pembandingnya nanti spesifikasinya juga sama,” jelasnya. Pengacara Nunun, Ina Rahman, menjelaskan, saat ini kliennya tinggal di kawasan Orchard Singapura. Nunun harus dikontrol oleh tim dokter dua kali dalam satu minggu. Pihak keluarga pun secara bergantian menemani Nunun di Singapura. Nunun pergi ke Singapura pada 23 Februari 2010. Namun, KPK baru mencegah Nunun bepergian ke luar negeri pada 26 Maret 2010.

Agus Chondro dan Panda Nababan

Bola panas Agus Condro Prayitno menggelinding kemana-mana. Yang tersodok, utamanya para politisi PDI Perjuangan. Akankah Panda Nababan, politisi senior Partai Moncong Putih itu ikut tersengat bola api itu?  Panda terbawa-bawa karena Agus pernah menyebut namanya. Menurut Agus, Panda termasuk salah satu anggota FPDIP yang ikut pertemuan dengan Miranda Swaray Goeltom, beberapa hari sebelum pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia digelar di DPR pada 2004 itu. Panda, masih menurut Agus, bahkan memimpin rapat itu. Saat itu, beber Agus, pertemuan di Hotel Dharmawangsa dan dihadiri 10 sampai 11 orang anggota Fraksi PDIP. “Rapat dipimpin Bang Panda Nababan,” ungkap Agus.

Mantan anggota DPR RI Agus Condro Prayitno mengatakan, anggota DPR Panda Nababan memiliki kedekatan dengan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S Goeltom.  “Pak Panda terlihat paling akrab dengan bu Miranda,” kata Agus Condro ketika bersaksi dalam sidang dugaan suap di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat, dengan terdakwa politisi PDI Perjuangan, Dudhie Makmun Murod.  Agus mengatakan, kedekatan Panda dan Miranda itu terlihat pada pertemuan antara anggota Fraksi PDI Perjuangan dan Miranda di hotel Dharmawangsa beberapa hari sebelum pemilihan Deputi Gubernur Senior BI pada Juni 2004.

Saat pertemuan itu, Panda mengenalkan Miranda kepada para politisi PDI Perjuangan. Saat itu, menurut Agus, Panda duduk berdampingan dengan Miranda.  “Sementara saya duduk agak di pojok ruangan,” katanya.  Agus bersaksi untuk kasus aliran cek kepada politisi PDI Perjuangan. Pemberian itu diduga terkait dengan pemenangan Miranda sebagai Deputi Gubernur Senior BI.  Berdasar dakwaan Jaksa Penuntunt Umum KPK dalam sidang dengan terdakwa Dudhie Makmun Murod, para politisi PDI Perjuangan yang diduga menerima adalah Williem Tutuarima, Agus Condro Prayitno, Muh. Iqbal, Budiningsih, Poltak Sitorus, Aberson M. Sihaloho, Rusman Lumban Toruan, Max Moein, Jeffrey Tongas Lumban Batu, Engelina A. Pattiasina, Suratal, Ni Luh Mariani Tirtasari, dan Soewarno. Mereka diduga menerima cek senilai Rp500 juta per orang.  Anggota Fraksi PDI Perjuangan lainnya menerima jumlah yang berbeda, yaitu Sukardjo Hardjosoewirjo (Rp200 juta), Izedrik Emir Moeis (Rp200 juta), Matheos Pormes (Rp350 juta), Sutanto Pranoto (Rp600 juta), dan Panda Nababan yang menerima jumlah paling banyak, yaitu Rp1,45 miliar.  (

Sudah tentu Panda mengelak dan membantah informasi Agus Condro tersebut. Jika ada yang mengaku, ada pula yang membantah, tentulah tugas Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) untuk mengusutnya. Siapa yang benar, siapa yang salah. Sebab, ini menyangkut dugaan terjadinya korupsi politik (political buying) oleh orang-orang terhormat di parlemen. Para aktivis Lembaga Pemantau Korupsi (ICW) menyerukan agar kasus Miranda Goeltom ini diproses secepatnya. KPK tak perlu bertele-tele karena sudah ada petunjuk awal dari Agus Condro. “Informasi Agus Condro adalah petunjuk awal yang jelas arahnya,” ungkap Adnan Topan Husodo dari ICW. Menurut Agus Condro, politisi yang menerima duit Rp 500 juta dari Miranda setelah terpilih jadi pejabat tinggi di Bank Indonesia, bukan cuma dirinya. Beberapa teman sefraksinya juga ikut mendapat bagian.

Pakar hukum Bambang Widjojanto pengakuan seorang Agus Condro mungkin tidak cukup fenomenal. Seorang Agus Condro disuap Rp 500 juta diduga berkaitan dengan pemilihan Deputi Senior BI. Fakta ini hanya memperkuat sinyalemen banyak kalangan atas permainan politik uang dalam rekrutmen pejabat publik. Penyuapan ini, menurut Bambang, akan jadi fenomenal jika dikaitkan dengan kalkulasi total. Berapa banyak anggota DPR yang harus disuap? Seberapa besar jumlah keseluruhan uang suap? Dari mana sumber dana uang suap? Siapa penyokongnya? BI sendiri, kocek pribadi, dana pihak ketiga berupa talangan yang mesti berbalas?

Sejauh ini, publik melihat, terasa muskil jika hanya seorang Agus Condro saja di Fraksi PDIP yang disuap. Padahal, seperti pengakuan Agus, dia hanya ‘pion kecil’ di luar elite partai yang memegang mandat untuk menentukan pihak yang layak direkomendasi sebagai pejabat publik oleh partai. Pers dan media menyatakan, ada sekitar tujuh orang anggota Fraksi PDIP ketika uang diserahkan. Sebagian yang namanya disebut-sebut, langsung menolak dituding telah menerima suap. Melihat kasus Miranda-Agus Condro bakal meluap dan meluas, wajar jika para analis politik wanti-wanti ke PDIP. “PDIP harus berbenah diri dan membersihkan para kadernya yang diduga korup agar tak tercoreng pada Pemilu 2009,” kata Arbi Sanit, pengamat dari Fisip-UI.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap politisi PDIP Panda Nabanan. Panda akan diperiksa sebagai saksi kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI) 2004 yang dimenangkan Miranda Goeltom. “Diperiksa sebagai saksi untuk pengembangan penyidikan,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP saat dihubungi wartawan, Jumat (30/10/2009). Berdasarkan pantuan detikcom, hingga pukul 10.00 WIB, Panda belum terlihat datang ke KPK. Belum diketahui pasti jadwal peneriksaan yang dilakukan terhadap Panda Nababan.

Sebelumnya, Panda juga pernah dipanggil untuk kasus yang sama. Namun, ia tidak datang. Selain Panda Nababan, KPK juga merencanakan memeriksa bekas anggota Komisi IX DPR Daniel Tanjung untuk kasus yang sama. Kasus ini bermula saat Agus Condro mengaku telah menerima cek perjalanan Rp 500 juta untuk memenangkan Miranda Goeltom dalam pemilihan DGS tersebut. Sudah ada 4 tersangka dalam kasus ini, mereka adalah Hamka Yandhu, Dudhie Makmun Murod, Udju Juhaeri, dan Endin AJ Soefihara

Mantan anggota Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat Agus Condro acuhkan bantahan para koleganya soal uang suap terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom. Soal bantahan Panda Nababan, misalnya, tentang pertemuan Miranda dan anggota DPR di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, menurut Agus tak usah didengarkan. “Saya anggap Bang Panda seperti radio rusak, ngak saya dengerin kalau dengerin telinga saya rusak, biarin dia mau ngomong apa,” kata Agus. Agus berbicara kepada wartawan saat menyerahkan barang bukti di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa (3/9).

Sebelumnya Agus mengatakan bahwa Panda adalah orang yang memimpin pertemuan antara Fraksi PDI Perjuangan dengan Miranda sebelum pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia di DPR pada 2004 lalu. Terhadap pengakuan Agus ini, Panda Nababan membantah. Itu tidak benar, semua rekayasa,” ujar Panda, Rabu(27/9) pekan lalu.

Agus mengharapkan bukti-bukti yang ia serahkan dapat menjadi jalan masuk KPK mengusut kasus itu. “Karena tidak ada tanda terima ketika saya dapat Rp 500 juta itu,” ujarnya. Dia datang sekitar pukul 11.00 WIB dengan mengendarai mobil Mercy. Dia mengenakan celana abu dengan kemeja lengan pendek motif garis-garis. “Ketemu Ahmad Wiagus atau siapalah sekedar menyerahkan tambahan bukti,” kata Agus, pada wartawan di gedung KPK.

 Tersangka kasus dugaan suap dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004 Dudhie Makmun Murod membantah keterlibatan Tjahjo Kumolo dan Emir Moeis. Sementara soal keterlibatan Panda Nababan, Dudhie hanya diam. “Tidak benar Pak Tjahjo Kumolo dan Emir Moeis memberi perintah pada saya atau menyuruh untuk memilih Bu Miranda,” ujar Dudhie usai diperiksa KPK di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2009).

Sementara saat ditanya keterlibatan Panda Nababan dalam kasus itu, Dudhie hanya diam seribu bahasa. Dudhie lalu langsung naik taksi berwarna hijau. Sebelumnya pengacara Dudhie, Amir Karyatin menyebut 3 petinggi PDIP terlibat dalam penerimaan traveller’s cheque (TC) dalam kasus pemilihan Miranda S Goeltom. “TJK (Tjahjo Kumolo) Ketua Fraksi dan PN (Panda Nababan) Sekretaris Fraksi. Intinya di mana PN mengistruksikan adanya fit and proper test MG (Miranda S Goultom) itu. DMM (Dudhie Makmun Murod) ini disuruh mengambil uang di (restoran) Bebek Bali. Setelah itu ketemu EM (Emir Moeis) sebagai atasannya,” kata Amir Selasa (27/10/2009) kemarin di KPK.

Sidang Kasus

Sidang perdana terdakwa kasus penerima cek perjalanan (travellers cheque) dalam rangka pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Miranda Swaray Goeltom pada 2004 lalu, Dudhie Makmun Murod, terungkap sejumlah nama politisi PDI.     Di antaranya Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo. Seperti diberitakan sebelumnya, Tjahjo Kumolo mengaku tidak tahu menahu soal cek perjalanan tersebut. Namun, pengakuan Tjahjo itu dimentahkan kembali oleh Agus Condro, pengungkap kasus yang mencatut nama Nunun Nurbaeti itu.  ”Eh kalau Tjahjo bilang nggak tahu soal uang. Karena di PDI-P tidak ada sesuatu yang disembunyikan dari pimpinan. Pasti Dudhie ngomong ke Tjahjo atau Panda yang ngomong ke Tjahjo. Kurang logis kalau yang lain-lain terima, Tjahjo nggak terima,” ungkap Agus ketika dihubungi wartawan kemarin (9/3). Agus mengungkapkan, dirinya tidak tahu persis dari mana uang berupa Travellers Cheque Bank Internasional Indonesia (TC BII) itu berasal. Mantan anggota DPR itu hanya menuturkan, kala itu, di ruang Emir Moeis uang tersebut dibagikan. ”Saya tidak tahu dari mana dananya itu.  Cuma ada yang bilang dananya sudah cair. Asumsinya ya dari Miranda, tapi asumsi kan tidak bisa menjadi bukti,” katanya. Namun, kata Agus, dalam pertemuan anggota Fraksi PDI-P komisi IX sebelum pemilihan Miranda sudah beredar rumor bahwa setelah pemilihan, Miranda akan memberi uang. Bahkan, lanjutnya, lewat pertemuan tersebut sempat terjadi tawar menawar jumlah uang yang akan diterima.     ”Kalau nggak salah ingat ada yang bilang begini, Miranda bersedia Rp300 juta tapi kalau Rp500 juta, dia juga tidak keberatan. Seingat saya itu yang ngomong Tjahjo,” tambahnya. Di samping Tjahjo, Agus juga mengungkapkan bahwa Panda sebagai penerima cek perjalanan dengan jumlah terbesar, adalah orang yang paling akrab dengan Miranda. ”Dalam pertemuan itu, dia cium pipi kanan dan kiri. Padahal, lainnya hanya bersalaman saja,” katanya. Terkait sejumlah nama politisi PDI-P yang disebut dalam sidang dakwaan kemarin, Agus hanya menyoroti nama-nama seperti Emir Moeis, Tjahjo Kumolo dan Panda Nababan. Agus meyakini, jika KPK sudah menemukan bukti-bukti yang cukup, semua otak pelaku kasus dugaan suap itu akan terjerat. ”Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Panda, Emir dan Tjahjo selalu membantah, tapi nama mereka disebut dalam dakwaan. Makanya, jujurlah, untuk apa berbohong,” katanya.

Sementara itu, KPK akan menindaklanjuti penyebutan nama-nama penerima cek perjalanan dalam rangka pemenangan pemilihan DGS BI Miranda Swaray Goeltom. Wakil Ketua KPK bidang pencegahan, M Jasin mengungkapkan, pihaknya akan melihat perkembangan di persidangan, karena masih diperlukan bukti yang lebih kuat. Namun, tidak menutup kemungkinan pemanggilan Agus Condro maupun Panda. ”Kita lihat saja tergantung pemeriksaan penyidik. Sementara surat dakwaan dalam sidang Dudhie, bisa jadi bukti,” kata Jasin.(

sumber tempo dan berbagai sumber lainnya


Responses

  1. bagi penegag hukum harap bener-bener di tegaggakan hukum………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: