Oleh: Indonesian Children | April 30, 2010

Film Gigolo Cowboy In Paradise, Bagaimana Sinopsis Cerita dan Video Thrillernya ?

Film Gigolo Cowboy In Paradise, Bagaimana Sinopsis Cerita dan Video Thrillernya ?

 

Film Cowboy In Paradise Heboh. Film dokumenter yang disutradarai oleh Amit Virmani dengan mengambil tema tentang gigolo atau laki-laki penghibur perempuan di Pantai Kuta, Bali akhirnya menuai banyak protes dari berbagai kalangan masyarakat Bali. Menurut mereka Film yang berjudul Cowboy In Paradise ini dinilai tak menyampaikan fakta sebenarnya di lapangan meskipun fenomena gigolo diakui memang ada di Kuta. Selain itu pula, film Cowboy In Paradise ini juga dianggap menyimpang karena menyebut Kuta sebagai surga wisata seks bagi ribuan turis wanita.

Saat ini Cuplikan film Cowboy In Paradise tersebut dapat dengan mudah disaksikan di situs pengunduh video Youtube. Film dibuka dengan salam perkenalan dari seorang pria dewasa yang mengaku berprofesi sebagai gigolo di Kuta. Selain itu, pria berambut panjang serta berkacamata ini juga menawarkan jasanya untuk menemani seorang turis wanita asing selama berlibur di Kuta, Bali.

Dalam cuplikan film lainnya, pengguna internet juga bisa menyaksikan aneka aktivitas lelaki dewasa dan turis asing wanita di Pantai Kuta. Cuplikan juga menampilkan potongan beberapa wawancara yang mengupas dunia gigolo di kawasan Pantai Kuta. Protes juga disampaikan Made Juliadi, seorang pedagang minuman di Pantai Kuta. Menurutnya, Kuta terkenal karena sunset, pasir putih, ombak, dan budayanya. Oleh karena itu ia menyatakan tidak setuju atas cerita di film tersebut. “Tidak semua turis datang ke Kuta untuk mencari seks,” katanya. Polda Bali menyatakan, film dokumenter gigolo ‘Cowboys in Paradise’ ilegal karena tak mengantongi ijin syuting. Karena melanggar hukum, pembuat film ini bisa dikenai hukuman penjara 1 tahun dan denda Rp 40 juta.  Terkait maraknya peredaran film dokumenter gigolo Kuta di internet, Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Gde Sugianyar menyatakan sudah melakukan pengecekan ke pihak Direktorat Intelkam Polda dan instansi terkait lainnya. “Setelah di cek, hasilnya syuting film Cowboys in Paradise di Bali ternyata tidak mengantongi ijin syuting,” jelas Sugianyar, Rabu (28/4). Karena tidak mengantongi ijin, jelas Sugianyar, pembuat film ini Amit Virmani, dinilai telah melanggar Undang-Undang Perfilman Nomor 8 Tahun 1992. “Dalam undang-undang ini disebutkan, barang siapa yang melakukan usaha pembuatan film tanpa ijin diancam hukuman penjara selama 1 tahun penjara dan denda maksimal Rp. 40 juta,” tegas Sugianyar.

Selain melanggar Undang-Undang Perfilman, sutradara film Cowboys in Paradise juga diduga telah melanggar undang-undang keimigrasian. “Polda Bali juga akan melakukan koordinasi dengan pihak imigrasi untuk mencari tahu bentuk pelanggaran keimigrasian yang dilakukan pembuat film ini,” kata Sugianyar. Dalam waktu dekat, Polda Bali juga akan memanggil orang-orang yang ada di dalam film ‘Cowboys in Paradise’ untuk diperiksa di Polda Bali. “Hasil pemeriksaan para saksi ini akan digunakan untuk mengidentifikasi pelanggaran yang dilakukan pembuat film Cowboys in Paradise ini,” imbuhnya.

Amit Virmani Sutradara Cowboys in Paradise

Sebagai seorang sutradara dari Film Cowboys In Paradise yang menghebohkan tentu saja Amit Virmani akan menjadi sutradara yang terkenal. Film Cowboys In Paradise sebagai sebuah film dokumenter, dianggap telah mencemarkan nama baik Pula Dewata Bali.  Pandangan serta kesimpulan seperti itu memang wajar saja, karena setiap manusia punya pandangan dan kesimpulan yang bermacam – macam.
Tentu Profil Amit Virmani menjadi populer seperti Cowboys In Paradise yang dibuatnya. Bagaimana dan apa latar belakang Amit Virmani membuat Film Cowboys In Paradise yang membuat pemerintah merasa gerah tersebut.  ‘Cowboys In Paradise’ adalah sebuah film besutan Amit Virmani, seorang keturunan India yang saat ini tinggal di Singapura. Dia mengangkat fakta menakjubkan mengenai surga Bali, yakni sejumlah pria Indonesia yang berprofesi sebagai gigolo bagi turis wanita asing.
Dalam situsnya, Amit Virmani mengaku membuat dokumentasi berdurasi 2 menit, 33 detik itu karena hatinya terganggu dengan cita-cita seorang bocah berumur 12 tahun yang dia temui di Bali. Bocah 12 tahun itu mendesak Amit untuk mengajarkan bahasa Jepang kepadanya. Saat ditanya untuk apa, bocah tersebut mengaku ingin melayani hasrat seks wanita-wanita Jepang yang datang ke Bali. Dia terganggu, karena bocah tersebut mengungkapkan cita-citanya itu dengan bangga. Padahal, cita-citanya adalah menjadi seorang prostitusi pria.
‘Cowboys in Paradise’, film yang kini tengah heboh di Bali merupakan film dokumenter pertama yang diproduksi oleh Amit Virmani. Bahkan, untuk menggarap film tersebut, Amit bekerja sendirian. “Hanya saya sendirian. Saya hanya membawa peralatan yang muat dengan tas ransel saya,” ujar Amit yang kini tinggal di Singapura, seperti dilansir Twitchfilm, Senin (25/4/2010). Awalnya, Amit sempat menggandeng seorang asisten produksi saat melakoni syuting di Bali. Namun, ia menyuruh sang asisten pulang karena terlalu menuntut, terutama masalah uang.
“Saya mengirimnya pulang setelah lima hari. Saya percaya film ini adalah sebuah kolaborasi antara kerja keras dan semuanya, jadi masalah uang seharusnya dikebelakangkan,” jelasnya.
Amit mengaku sudah melakukan riset di Bali sejak 2007 lalu. Ia pun tinggal di sana selama satu bulan untuk melakukan wawancara dengan beberapa penduduk lokal. Hingga akhirnya, pada November 2008, ia melakukan syuting perdana ‘Cowboys in Paradise’. Namun, karena tidak puas dengan hasilnya, ia kembali ke Pulau Dewata pada Januari 2009. Apapun yang terjadi di dunia ini bukanlah hal yang aneh dan dianggap menghebohkan. Mau di Bali atau tempat lainnya, kejadian ini kita anggap biasa – biasa saja. benar tidaknya fakta dan data yang dijadikan landasan dalam film dokumenter Cowboys Paradise, yach kita tak tahu pasti, boleh percaya bisa tidak. Ini hanya sebuah film yang rasanya tak perlu ditanggapi secara berlebihan dan seperti kelabakan. Di tempat manapun di bumi ini, pasti serta tak bisa terlepas dari hitam dan putih, baik buruk, siang dan malam sebagai sebuah ketentuan di dunia fana ini.

 

Pemain Cowboys in Paradise: Kami Bukan Gigolo

Sejumlah pria kekar yang terlihat dalam Film Cowboys in Paradise membuat pengakuan mengejutkan. Mereka merasa ditipu Armit Virmani, sang sutradara film yang menceritakan kehidupan gigolo di Bali. Padahal mereka tidak melakoni hidup seperti itu. Armit merupakan teman anak-anak pantai yang biasa berada di Kuta, seperti Fendy, Arnold, Argo dan Boby.

Dalam rekaman film dokumenter itu Arnold terlihat sedang berbicara seolah sedang menyambut tamu asing, Argo terlihat sedang dipijat, Fendy sedang bermain surfing, sementara Bobby sedang bermain gitar. Rekaman film itu dibuat pada tahun 2007 saat Armit berlibur dengan teman-teman.

Sebagai tamu, Armit dan kawan-kawannya diterima dengan baik oleh para anak pantai ini. Saat itu Armit mengambil gambar anak-anak pantai yang sedang santai dan bermain surfing. Bagi anak pantai ini sudah biasa, aktivitas mereka direkam turis-turis asing. “Mereka ambil aktivitas kami di sini. Kalau bisa jangan diedarin film itu. Ini sudah merugikan kami sebagai anak pantai. Kita ini bukan gigolo,” tegas Arnold saat ditemui di Pantai Kuta, Rabu 28 April 2010.

Aktivitas mereka selama ini, menyewakan papan selancar kepada wisatawan, baik lokal maupun asing. Bahwa mereka bukanlah gigolo dikuatkan pengakuan sahabat mereka, Hanna, yang orang bule. Hanna yang sudah mengenal empat pemuda itu selama 3 tahun menceritakan bagaimana kehidupan mereka. “Saya tahu mereka anak baik, dan bukan gigolo,” ujar Hanna.
Sementara, Hanna salah seorang tamu asing yang sudah mengenal empat pemuda itu selama 3 tahun menceritakan bagaimana kehidupan mereka. “Saya tahu mereka anak baik, dan bukan gigolo,” ujar Hanna. Keempat pemuda ini memang kesehariannya sebagai anak pantai, yang menyewakan papan surfing, juga sebagai instruktur surfing bagi tamu-tamunya.

Dibuat Tahun 2007

Film dokumenter ‘Cowboys in Paradise’ yang terus menuai kontroversi ternyata dibuat pada tahun 2007 lalu. Proses pembuatan film dilakukan saat Armit Virmani, sang sutradara tengah berlibur bersama teman-temannya di Kuta Bali.

Sejumlah pemeran dalam film itu tidak menyadari telah ditipu oleh sang sutradara asal Singapura tersebut. “Pengakuan Armit, saat itu ia sedang berlibur bersama teman-temannya,” ujar Argo salah seorang pemeran dalam film ‘Cowboys in Paradise’

Argo mengaku benar-benar tidak sadar dan terbuai oleh fasilitas dan pelayanan yang diberikan Armit kepada sejumlah pemeran film yang dijadikan gigolo. Saat ini, Argo mengaku tidak bisa lagi menghubungi orang tersebut (Armit) karena memang sudah putus hubungan sejak tahun 2007. “Kami sempat hubungi Armit, tapi teleponnya sudah tidak aktif, di SMS tidak ada balasan, begitupun emailnya tidak ada respons,” jelas Argo. Saat ini, dia meminta semua pihak terutama media untuk mencari tahu isi film secara keseluruhan dengan jelas. Karena, menurut mereka dalam film tersebut masih ada banyak pemeran anak pantai lainnya. Seperti diketahui, dalam cuplikan film tersebut, Arnold sedang berbicara seolah menyambut tamu asing, dan Argo sedang dipijat, Fendy sedang bermain surfing, sementara Bobby sedang bermain gitar.

Razia

Satgas Pantai Kuta menggelar razia menyusul beredarnya film dokumenter tentang kisah para gigolo di kawasan wisata ini. Sebanyak 28 pria dan 1 wanita tanpa identitas diciduk. Mereka pun terancam dipulangkan dari Kuta. “Mereka diamankan karena tidak memiliki identitas berupa KTP dan kartu pedagang di pantai Kuta,” kata Ketua Satgas Pantai Kuta Ngurah Agung Tresna kepada detikcom, Senin (26/4/2010).

Razia menyasar para pedagang yang beroperasi di kawasan pantai Kuta. Petugas memeriksa identitas para pedagang, dari pedagang makanan, tato, suvenir hingga panyewa papan selancar. Para pria yang diamankan, beberapa diantaranya memiliki postur tubuh kekar dan berkulit gelap. “Mereka telah diserahkan ke Lurah Kuta untuk diproses,” kata Tresna.

“Kelurahan akan memeriksa identitas lengkap orang-orang yang telah diamankan, seperti alamat menetap selama di Kuta. Jika tidak memiliki identitas lengkap bisa saja dipulangkan,” imbuh Tresna. Selanjutnya, Satgas Pantai Kuta yang bertugas menjaga keamanan kawasan pariwisata indah ini, bakal terus memonitor orang-orang yang telah diamanankan tersebut. “Kita ingin mencegah hal sekecil-kecilnya yang merugikan pariwisata Kuta,” tegas Tresna

Citra bahwa gigolo merupakan salah satu daya tarik Pantai Kuta bagi wisatawan wanita seperti digambarkan dalam film Cowboys in Paradise dibantah oleh Gusti Ketut Sudira, Bendesa Adat Kuta atau Kepala Desa Adat Kuta. “Pariwisata Kuta tumbuh bukan karena gigolo,” ungkap Sudira. Ia tidak menampik adanya lelaki penghibur wanita di Kuta. Menurutnya, gigolo sudah ada di Kuta sejak 20 tahun lalu saat pariwisata Kuta mulai dikenal dunia. “Keberadaan gigolo di Kuta sudah ada sejak dulu. Namun, itu terselubung dan ilegal,” tambah Sudira. Ia meyakini, para gigolo bersembunyi di balik para pedagang yang sehari-hari mencari nafkah di Kuta. “Kadang-kadang pedagang tidak mengerti dan justru melindungi mereka dengan mengatakan ini teman saya,” tambah Sudira. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sudira akan memberi instruksi kepada pedagang agar tidak mudah menerima orang dari luar yang tidak memiliki identitas. Salah seorang anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista), Putu Arya, juga membantah bahwa tujuan wisatawan di sini hanya mencari gigolo. “Saya sering bawa tamu (bule) makan malam, tapi saya hanya berteman,” ujarnya. “Kemungkinan itu (gigolo) ada, tapi jangan digeneralisasi,” tambah Arya

Sinopsis Cerita

Cuplikan video yang berdurasi sekitar 2 menit ini menggambarkan seorang gigolo atau pria penghibur yang mengajak berkenalan dengan salah seorang turis perempuan pastinya. Setelah lama mengobrol, kemudian pria berambut panjang dan berkacamata ini menawarkan jasanya sebagai gigolo.

Dalam cuplikan film lainnya, pengguna internet juga bisa menyaksikan aneka aktivitas pria dewasa dan turis asing wanita di Kuta. Video itu juga menampilkan potongan wawancara yang mengupas dunia gigolo di kawasan ini. Cowboys Paradise pun memunculkan berbagai komentar. Ada yang setuju dengan isi film ini, ada juga yang tidak senang lantaran terkesan tidak menggambarkan wisata Kuta yang sebenarnya.

Sinopsis Cowboys In Paradise

Each year, thousands of women travel to Bali in search of paradise. And many find it in the arms of Kuta Cowboys. Masters at peddling holiday romance, these bronzed beach ambassadors have made Bali one of the world’s leading destinations for female sex tourists.

COWBOYS IN PARADISE is an independent feature documentary that gets between the sheets of Bali’s male sex trade. Using a series of startling, and often hilarious confessions, the film reveals some of the island’s most closely-guarded secrets. Why don’t the boys charge for sex? How then do women compensate them? Where do time management skills fit into all this? And how does a Cowboy’s family feel about his errant ways?

The film also charts the typical trajectory of a Cowboy’s life, from entry into beach life to his reign at the top of the tourist-industry chain, before following his heartbreaking descent into obsolescence. By the end, the myth of paradise is shattered and the viewer is presented with a more realistic proposition: Paradise is always elsewhere.


Responses

  1. moga film ini tidak merusak nama baik Bali sebagai daerah tujuan wisata domestik maupun mancanegara


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: